|
Buana Katulistiwa - Kalangan pengamat memprediksi, target kunjungan wisatawan asing dan penerimaan devisa yang ditetapkan pemerintah 2005-2009 sulit tercapai. Pemerintah diiingatkan untuk jangan terjebak pada cara-cara konvensional, terutama dalam pekerjaan besar pengembangan destinasi lain di luar Bali dan mengatasi kejenuhan pasar negara asal wisatawan di dua destinasi utama yaitu Bali dan Batam.
Peneliti Yayasan Buana Katulistiwa Jones Sirait, di Jakarta, baru-baru ini, menanggapi perjalanan setahun kinerja pariwisata pada Kabinet Indonesia Bersatu, mengungkapkan "perlu langkah strategis, kreatif, berani sekaligus konkrit, bukan sekadar retorika apalagi sampai mengikuti cara-cara konvensional sebelumnya."
Hal itu, kata dia, sangat penting mengingat ambisi pemerintah yang demikian besar dalam penerimaan kunjungan, jumlah devisa dan angkatan kerja, namun jika dilihat perjalanan selama setahun ini belum terlihat rencana dan upaya awal yang memadai untuk mengimbangi tingginya target yang sudah ditetapkan.
"Antara target dan rencana-rencana besar untuk mencapai target itu tidak terlihat. Betul bahwa Depbudpar sudah menyusun Renstra 2005-2009, tapi itu malah meyakinkan kita bahwa ada gap di sana, terutama antara isi dan matriks program atau kegiatan dalam lampiran yang sepertinya tidak nyambung, dalam arti tidak ada semangat pencapaian target yang tinggi itu," kata Jones.
Mengacu kepada statistik BPS Januari-Agustus 2005, Jones Sirait mengaku pesimis bahwa target 6 juta wisatawan akan bisa diraih hingga Desember, yang tinggal dua bulan lagi.
Dia menjelaskan, selama dua kwartal pertama atau Januari-Agustus 2005, jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia "hanya" 2.845.927 orang, dengan perincian kunjungan dari 13 pintu kedatangan per bulan yaitu Januari (348.646 orang), Februari (309.006 orang), Maret (345.964 orang), April (333.694 orang), Mei (343.911 orang), Juni (368.266 orang), Juli (404.273 orang), Agustus (392.167 orang).
Untuk mencapai target 6 juta wisatawan maka satu kwartal yang masih sisa (September-Oktober-November-Desember), Indonesia harus bisa mencapai 3,2 juta orang. "Pertanyaannya jika pada dua kwartal terdahulu saja tidak dapat dicapai 3 juta kunjungan, mungkinkah hanya pada satu kwartal tersisa dapat dicapai angka itu? Apalagi
apalagi pada bulan Oktober ini, Bali diganggu dengan serangan teroris," ucap Jones.
Dia lantas membuat hitung-hitungan kasar. Katakanlah untuk masing-masing tiga bulan yaitu 500.000 wisatawan dapat diraih, kemudian pada penutupan tahun (Desember) melonjak menjadi 1.000.000 orang, maka jumlah total kunjungan masih akan menjadi 5,3 juta orang. "Itu sudah dengan prediksi tinggi."
Dilematis
Jones Sirait mengaku dapat memahami target tinggi yang ditetapkan Jero Wacik, antara lain akan berguna bagi memacu kinerja para stake holders pariwisata Indonesia untuk lebih bekerja keras. Namun, diakuinya, pemerintah perlu pula realistis lalu dari pandangan itu ditemukan titik-titik yang mampu menutupi berbagai kekurangan yang ada, sehingga target setidaknya menjadi punya alasan kuat.
Masalahnya, kata dia, ada konflik dan kontroversi yang muncul. "Jika Anda bermaksud mengembangkan destinasi di luar Bali sebagai suatu keharusan, maka Anda akan kehabisan tenaga untuk mengatasi dilema bagaimana mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya ke Bali, karena dengan cara itulah yang termudah untuk memenuhi target. Nah, jika fokus Anda ternyata akan tetap melihat Bali, juga Batam dan Jakarta, maka berarti topik destinasi non-Bali itu akan tertinggal. Ini dilematis. Kecuali pemerintah memang punya tenaga ekstra dan full speed, mampu mereduksi dua masalah besar sekaligus," kata Jones lagi.
Dia menyarankan pemerintah segera menyusun dokumen teknis yang bisa menggambarkan tahap-tahap pencapaian target; bagaimana kaitannya dengan pengembangan destinasi, pengembangan pemasaran, pengembangan jenis wisata, kebijakan peranggaran dan seterusnya.
Di samping itu, dia juga mengingatkan pemerintah harus mengacu kepada kondisi awal yaitu buruknya ketergantungan pariwisata Indonesia selama ini. Pertama, ketergantungan terhadap Bali mencapai 35-40 persen setiap tahun, kemudian diikuti Batam (27 persen) dan Jakarta (25 persen). Tiga destinasi utama ini menyumbang sekitar 90 persen wisatawan secara nasional, hanya sekitar 10 persen dari destinasi lain.
Kedua, ketergantungan laten terhadap kunjungan wisatawan asal ASEAN sekitar 40-45 persen setiap tahunnya. Sebagai contoh tahun 2000, dari 5,064,217 orang wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, 40, 5 persen (2,050,001 orang) adalah wisatawan ASEAN. Kemudian Asia Pasifik (di luar ASEAN) sekitar 37,7 persen (utamanya Australia, Jepang dan Korea). Sementara Eropa (15,7 persen) dan Amerika hanya 4,6 persen.
Jika dibandingkan menurut destinasi, antara Bali dan Batam diketahui memiliki pasar yang berbeda. Bali cenderung didominasi Australia dan Jepang, sedangkan Batam cenderung ke Singapura dan Malaysia. Faktor jarak lebih dominan pada Batam daripada Bali. Itupun dengan length of stay yang relative pendek, dan kemungkinan wisatawan ini lebih pada business trip daripada sekadar pleasure.
Menurut Jones Sirait, angka-angka ini mengandung artinya bahwa jika pemerintah menaruh pertambahan satu juta orang, maka untuk waktu sementara ini, pemerintah memang mau tidak mau masih harus menggantungkan harapan pada pasar lama, dan destinasi penerima yang sama, dengan perbandingan-perbandingan hasil yang sudah ada per destinasi maupun per negara pasar.
Demikian pula, jika pilihannya masih tetap destinasi dan negara pasar yang sama, maka strategi cerdas apa yang sudah dan akan dibuat. Adakah program-program khusus yang bisa mendorong lebih banyak lagi kunjungan? Adakah event yang menjual? Perlukah penambahan sarana/prasarana wisata baru atau sejauh mana intensifikasi/ekstensifikasi perlu dilakukan?
"Kita tentu menyampaikan apresiasi kepada Pak Jero Wacik atas upaya konsolidasi yang dilakukannya baik secara internal, dengan dunia usaha maupun daerah-daerah, termasuk upaya meyakinkan lintassektor untuk memperhatikan pariwisata. Tapi, Pak Jero Wacik harusnya punya speed yang lebih kencang lagi, karena mengingat persoalan pariwisata Indonesia memang sangat kompleks," begitu Jones Sirait. (bj) Powered by AkoComment! |