Depan arrow Topik arrow Wisata arrow Dimanakah Timur, Utara dan Selatan?
Dimanakah Timur, Utara dan Selatan? Cetak E-mail
Senin, 28 November 2005
Buana Katulistiwa - Harusnya beruntunglah orang yang tinggal di Jakarta. Sepikun-pikunnya orang, dia masih bisa menebak dimana utara, selatan, timur, barat, meski tanpa petunjuk arah, kompas. Bagaimana di beberapa kota lainnya di Indonesia, apakah akan ada pihak menjadi “a victim of Directional Abuse Syndrome”?

Di Montreal, beberapa pengamat mengeluhkan bahwa penamaan geografis di kota ini sekarang mirip seperti pada tahun 1700-an, ketika beberapa perencana melakukan kesalahan dengan mengasumsikan bahwa St Lawrence River mengalir dari timur-barat, padahal sebenarnya adalah utara-selatan. Kesalahan serupa konon terjadi dewasa ini, dalam pemberian nama jalan utara utara-selatan, padahal sebenarnya adalah timur-barat.

Di banyak kota di Amerika, seperti Philadelphia atau Manhattan, memberikan nama jalan mereka dengan alphabet, hal ini juga dianggap sebagai idiot, karena tidak menuntun orang untuk menemukan jalan mereka. “Saya tetap kehilangan hotel saya!” kata seorang penulis dalam sebuah artikel di sebuah website belum lama ini.

Mengapa tinggal di Jakarta, harusnya menjadi lebih mudah menentukan arah? Tentu saja bukan hanya karena di berbagai tempat ada masjid atau tempat shalat di perkantoran, hotel dan lainnya yang sudah dibubuhi tanda panah arah “barat” sebagai pentunjuk arah Ka’bah, tapi juga karena penamaan tempat maupun jalan yang secara langsung menunjuk kepada arah.

Maka, jika Anda berjalan ke sekitar Monas, yang ditetapkan sebagai “titik nol” pengukuran posisi geografis Jakarta, jalan protokol yang mengitari taman di sana, diberi nama “Jalan Medan Merdeka Selatan (Gedung Balai Kota, Gedung Kedubes AS dan lainnya), Jalan Medan Merdeka Barat (Kantor Menkominfo, Kantor Menko Polhukam dan lainnya), Jalan Medan Merdeka Timur (Pertamina, Stasiun Gambir dan sebagainya), serta Jalan Medan Merdeka Utara (Istana Negara, Depdagri, MA dan sebagainya). Jadi jika Anda berdiri di Monas dan ada yang bertanya dimanakah Selatan (Blok M, Pasar Minggu, Depok dan lainnya), maka Anda akan dengan mudah menunjuk ke arah Gedung Balai Kota.

Penamaan jalan semacam ini juga banyak dijumpai di berbagai tempat lain, walaupun sedikit disayangkan bahwa penamaan jalan terakhir ini lebih banyak menggunakan alphabet (A,B,C,D).

Penamaan nama kotamadya yang ada di Jakarta pun mengandung arah, lihat misalnya Kotamadya Jakarta Utara, Kotamadya Jakarta Selatan, Kodya Jakarta Timur, Kodya Jakarta Pusat, dan Kodya Jakarta Barat, kecuali Kabupaten Kepulauan Seribu yang dibentuk era reformasi ini. Penyebutan nama dengan tambahan arah tentu saja akan memudahkan bagi pengunjung untuk mengetahui posisi dia berada dari Jakarta.

Hal menarik lain adalah pembuatan jalan yang relatif mengikuti grid-grid mudah, yang bisa menunjuk dengan mudah “timur-barat” atau “utara-selatan”, semisal Jalan Sudirman-Thamrin (utara-selatan), Gatot Soebroto (barat-timur) meskipun nama-nama jalan yang menjadi cabang-cabang kecil jalan utama itu tidak diberi nama arah (utara-selatan-barat-timur), misalnya menggandengnya menjadi Jalan Gatot Soebroto Selatan I atau Jalan Thamrin Barat I dan seterusnya. Hal itu tentu saja akan mempermudah pendatang baru untuk mencari alamat yang dia tuju.

Namun, jangan dulu berbangga hati, sebab ada kalanya juga muncul bias yang cukup merepotkan misalnya bagaimana menentukan tepatnya arah lebih baik antara “tenggara” dengan “selatan” atau “barat daya” dengan “barat”? Belum lagi dengan banyaknya penggunaan nama yang sama untuk beberapa tempat, termasuk penamaan yang cukup mengganggu, contohnya Jalan Raya Bogor atau Jalan Bogor Raya atau hanya Jalan Bogor?

Penetapan sebuah tempat sebagai titik awal pengukuran memang menjadi penting di sini. Dan boleh jadi memang hal semacam ini menjadi persoalan penting di berbagai daerah.

Di Depok, kekacauan muncul ketika munculnya nama “Depok Timur”, tanpa populernya “Depok Utara” atau “Depok Barat atau “Depok Selatan”, sebuah penamaan yang dianggap asing di telinga orang Depok. Pertanyaannya kemudian di manakah pusat, yang menjadi acuan bahwa “timur itu adalah timur dari timur” atau “timur dari pusat”?

Kemudian menjadi bias ketika ditanyakan apakah Depok Timur adalah nama kecamatan atau nama suatu tempat di bagian timurnya Depok? Tentunya, karena itu bukan nama tempat, apalagi nama kecamatan, tapi menyebut posisi semata. Begitupun dengan Beji Timur nama sebuah kecamatan di Depok, menjadi pertanyaan dari mana mereka mengukur nama “timur” itu, karena posisi lokasi kecamatan yang dimaksud adalah dibagian barat laut Kantor Walikota Depok? Kemudian di manakah Beji Barat? Kalau misalnya Beji Timur itu suatu nama untuk kelurahan yang ada di Kecamatan Beji bukankah harusnya dibuat juga Beji Barat atau Selatan dan seterusnya?

Persoalan semacam ini memang sepele, tapi cukup membingungkan. Dan rupanya jika ditelusuri lebih jauh persoalannya ternyata cukup banyak, coba ini: apa beda “jalan” dengan “gang”? Apakah ditentukan dari lebar atau sempitnya, sebab tak jarang jalan cukup lebar disebut “gang” atau jalan di dalam “gang” itu malah disebut “jalan”.

Saatnya para perencana kota untuk menata ulang “petunjuk arah” kota dan sistem penamaan jalan? (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com