|
Buana Katulistiwa ? Walaupun belum diketahui pasti seberapa jauh perubahannya, Badan Koodinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) mengakui, memang terjadi perubahan vector (perubahan besar dan arah garis pantai) di Pulau Simeulue, menyusul gempa dan tsunami yang menghantam pulau yang paling dekat dengan pusat gempa tanggal 26 Desember 2004 itu.
Kepada Bakosurtanal Winnemar Matindas kepada pers di Jakarta, Senin (24/1) mengatakan, perubahan itu dapat dilihat dari data jaringan stasiun tetap GPS sebelum dan sesudah terjadinya gempa.
Tapi, kata Matindas, perubahan vektor tersebut, masih perlu keakuratan untuk dapat menarik kesimpulan yang lebih tepat, yaitu dengan dukungan data regional dan global.
?Untuk mengukur koordinat tetapnya yang lebih akurat data lokal harus didukung data regional dan global, sehingga bisa dibuatkan suatu rekomendasi yang lebih tepat,? katanya.
Sebelumnya, pemberitaan media massa yang menyebutkan garis pantai Pulau Simelue garis telah mundur sejauh 100 hingga 400 meter dari sebelumnya. Sumber lain bahkan menyebut luas pulau yang juga Kabupaten Simeuleu itu mengalami penyusutan dari 212 ribu hektar berkurang 184.190 hektar.
Untuk hal ini, lanjut Matindas, Bakosurtanal tidak bisa bekerja sendiri, tapi akan bekerjasama dengan lembaga internasional di bidang tersebut termasuk dengan beberapa universitas di Jepang, Belanda, dan Amerika Serikat untuk mengukur perubahan tersebut.
Ini merupakan pengetahuan baru, karena akumulasi dari data yang terus menerus semakin memperbaiki pengetahuan yang mengarah kepada peramalan gempa bumi, dan mengetahui dampak-dampaknya, katanya.
"Bukan tidak mungkin ada perubahan yang bergerak ke arah yang normal seperti sebelumnya," jelasnya seraya mengingatkan bahwa bencana alam tidak mengenal batas negara, buktinya gempa dan tsunami yang dialami Aceh dan Sumut juga dialami 12 negara lain. (bj) Powered by AkoComment! |