Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow Pameran Nasional Siaga Bencana : Tsunamitainment
Pameran Nasional Siaga Bencana : Tsunamitainment Cetak E-mail
Rabu, 28 Desember 2005
Buana Katulistiwa - Pada tanggal 26-27 Desember 2005 kemarin telah berlangsung Pameran Nasional Siaga Bencana dalam rangka mengenang Satu Tahun bencana Tsunami. Pameran yang diselenggarakan Coremap-LIPI bekerjasama dgn Ristek dan seluruh komunitas Iptek yang mengembangkan Sistem Peringatan Dini Gempa dan Tsunami (TEWS) ini didukung oleh IFRC (International Federation of Red Cross / Palang Merah Internasional) dan RCS (Red Crescent Societies/ Komunitas Bulan Sabit Merah).

Acara yang digelar di Musium Nasional Jakarta ini menampilkan berbagai peragaan mengenai TEWS oleh RISTEK, BMG, BPPT, Bakosurtanal dan berbagai instansi pendukung lainnya. Kegiatan ini diperkaya dengan acara talk show yang diisi oleh narasumber ahli dari LIPI, DKP, Geotek, ITB, BMG, PMI, dan aktivis serta relawan bencana. Selain itu juga menampilkan simulasi-simulasi dan pemutaran film yang meningkatkan pemahaman mengenai bencana alam, khususnya tsunami dan cara menghadapinya, hiburan, games edukatif, serta acara dongeng oleh PM Toh.

Dalam jumpa pers pada hari terakhir (27/12) dengan nara sumber Tim Kerja Simulasi Evakuasi Masyarakat di Padang, ilmuwan LIPI Jan Sophaheluakan mengatakan bahwa permasalahan inti penanganan bencana adalah peningkatan public awareness sesuai dengan informasi, takaran dan sasaran yang tepat.

Jan menambahkan bahwa acara ini membuat tsunami yang begitu rumitnya menjadi lebih dekat dengan masyarakat, mengemas tsunami dengan entertainment dan education, sehingga bisa juga disebut tsunamitainment, dengan target generasi muda masa kini. Mengapa generasi muda sebagai sasarannya, karena diperkirakan generasi muda kinilah yang akan mengalami tsunami yang diprediksikan mendatang.

Sedangkan Mr Md Latifur Rahman Disaster Management Delegate dari IFRC & RCS, berpendapat bahwa memang benar penyiapan bahaya bencana memang tugas dan tanggungjawab dari pemerintah, namun untuk negara sebesar Indonesia, peran lembaga non pemerintah dan masyarakat itu sendiri akan ikut menyukseskan gerakan kesadaran akan bahaya bencana di masyarakat luas.

Selain itu, kerjasama antarinstansi mutlak dibutuhkan untuk penanganan bencana secara optimal. Tsunami yang terjadi di Aceh kemarin telah membuktikan bahwa kerjasama tersebut bukan hal yang sulit dilakukan, akan tetapi sangat bisa dilakukan bila ada kemauan dan tujuan bersama.

Secara umum, semua narasumber dari LIPI (Jan Sophaheluakan; Denny Hidayati, Fidel; Neni Sintawardani) dan dari Ristek (Ibu Dewi Odjar), serta Mr Md Latifur Rahman (IFRC & RCS) sepakat bahwa pengurangan dampak bencana akan dapat dicapai melalui peningkatan pemahaman mengenai bencana itu sendiri beserta cara menghadapinya.

Tsunami adalah pengetahuan yang bersifat saintifik, rumit dan sukar dipahami, namun komunitas Iptek telah mengubahnya menjadi pengetahuan populer melalui poster-poster, komik, buku, dan berbagai media lainnya agar dapat dikonsumsi, dimengerti dan disikapi oleh anak-anak dan masyarakat umum. Pemerintah memegang peranan utama dalam program ini, dengan LSM dan masyarakat itu sendiri sebagai peran pembantunya. Dan tidak dapat ditolak bahwa peran media sangatlah besar dalam sosialisasi informasi yang berkaitan dengan bahaya bencana. (qb)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com