|
Buana Katulistiwa- Kapal Riset “Natsushima” (1739 ton) milik Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology
(Jamstec) Jepang, bekerja sama dengan BPPT Indonesia, telah melakukan
survei dasar laut di sekitar pusat gempa Sumatera yang menimbulkan
tsunami pada 26 Desember 2004.

Survei yang
dilakukan dari tanggal 14 Februari-4 Maret 2005 lalu, dengan
memanfaatkan piranti foto dasar laut tak berawak “Hyper Dolphine”
berhasil menemukan adanya bukti-bukti keretakan dasar laut, kecuraman
dan keambrukan yang disebabkan oleh gempa bumi yang menewaskan lebih
dari 120.000 orang di daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
itu. 
Sebagaimana disampaikan dalam
siaran pers lembaga itu belum lama ini, mereka antara lain menemukan
adanya air keruh pada muara jurang curam, yang diduga akibat
gesekan antarlempeng yang demikian kuat. Penyelidikan akustik
mendeteksi kemungkinan timbulnya permukaan yang kasar.

Namun
dikatakan, mereka tidak menemukan air keruh pada hulu jurang curam
(lihat foto 1-1 dan 1-2). Sejumlah permukaan yang runtuh,
khususnya bentuk permukaan yang angular pada bagian yang terpecah (foto
2). Ditemukan celah terbuka lebar. Celah ini tidak diisi dengan pasir
yang bisa diserakkan (foto 3).

Dr Yusuf S
Djajadihardja, Direktur Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA)
BPPT, dalam keterangan persnya pekan ini, juga membagi pengalamannya
saat ikut bersama tim dari Jepang ini, termasuk upaya prediksi
kemungkinan terjadinya gempa serupa di Sumatera.
Menurut dia, berdasarkan pengamatan peranti gempa Ocean Bottom Seismometer
(OBS) yang diterjunkan di dasar laut barat Aceh daru 20 Februari hingga
11 Maret, dideteksi terjadinya gempa susulan sedikitnya 2.800 kali.
Hingga kinipun, kata dia, lempeng-lempeng itu masih aktif bergerak,
tanpa ada kepastian kapan akan berhenti.
Jamstec sendiri menaruh
perhatian cukup serius terkait gempa susulan. Untuk itu, beberapa unit
peranti OBS tetap ditebar di dasar laut barat Aceh hingga Juli 2005. Yang
jelas, hasil rekaman ROV Hyper Dolphin kapal R/V Natsushima memastikan
sebagian dasar laut di barat Aceh (Aceh Basin) bekas terjadinya gempa
dan tsunami dalam kondisi berantakan (shattered).
“Malah,
perairan dekat episenter di patahan naik pada kedalaman 2000 meteran
tampak masih sangat keruh, akibat gesekan luar biasa antar lempeng yang
terpicu di situ. Di wilayah ini, jarak pandang cuma satu meter-an,
akibat keruhnya air laut,'' tutur Yusuf.
Ia juga menunjukkan
sebuah foto yang berisi gambar sebuah bongkahan batu. Ukurannya kurang
lebih setengah meter. terbaring sekitar 3.000 meter di bawah permukaan
laut. Tepatnya, di dasar laut pantai barat NAD.
Bongkahan batu
itu sendiri, merupakan saksi bisu kedahsyatan gempa dan tsunami Aceh,
tiga bulan silam. ''Bagaimana mungkin batu ini bisa terlempar ke situ
dari area blind fault (patahan tempat terpicunya gempa)?,''
tanya Yusuf. ''Ini tampak aneh, cuma energi luar biasa dahsyat yang
dapat membuatnya terlontar ke situ,’ katanya seraya meminta perhatian
semua pihak untuk tetap waspada akan kemungkinan gempa berikutnya. (bj)
Powered by AkoComment! |