|
Buana Katulistiwa - Indonesia, melalui Kementerian Riset dan Teknologi
kini sedang menyusun Buku Putih (White Paper) Penelitian, Pengembangan
dan Penerapan Prioritas bidang Iptek 2005-2025. Hal ini untuk
peningkatan nilai tambah teknologi buatan Indonesia.
Memberikan keterangannya di Jakarta, Selasa (20/12), Deputi Program
Riset Iptek Bambang Setiadi menyebutkan bahwa penyusunan buku ini akan
menjadi instrumen penting dalam upaya negoisasi sinergisitas bidang Iptek
dengan bidang lainnya.
Buku Putih tersebut, yang memberikan penekanan pada riset unggulan,
yakni pengembangan energi baru dan terbarukan, pangan dan kesehatan,
teknologi pertahanan, transportasi, dan teknologi informasi, akan menuntun
upaya Indonesia menjelaskan secara rinci apa yang harus dilakukan hingga
tahun 2025 untuk mengembangkan teknologi sendiri dan mencegah
ketergantungan pembelian teknologi terus-menerus.
Menurut Bambang, semua negara maju sudah memiliki Buku Putih semacam
ini, termasuk China yang saat ini sedang berkembang pesat.
Sementara Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi bidang TI Dr Richard
Mengko mengungkapkan, dari belanja pasar teknologi informasi mencapai
Rp60 triliun, hanya dua persen masuk kembali ke Indonesia. Padahal,
menurut dia, jika ada nilai tambah jumlah yang masuk kembali itu bisa lebih
besar.
Itu sebabnya pemerintah harus bisa memprediksi apa yang berkembang di
waktu yang akan datang dan mulai membangun infrastrukturnya sejak dini
melalui peran Iptek.
Dia memberi contoh perubahan besar ke sistem yang didasarkan pada
internet protocol dan karena itu teknologi informasi seharusnya mengarahkan
fokusnya ke arah tersebut.
Ke depan, stasiun TV, radio, telpon dan komunikasi lainnya di dunia ini
akan melalui internet yang infrastrukturnya melalui sistem wimax,
semacam wifi tetapi dengan jangkauan hotspot yang sangat luas hingga
mencapai radius 20 km dengan biaya murah. (bj) Powered by AkoComment! |