|
Buana Katulistiwa- Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Dr Adi Sadewo Salatun menyampaikan suatu kabar baik, bahwa Indonesia dalam bulan Oktober mendatang akan meluncurkan sebuah satelit mikro buatan Indonesia sendiri.
Satelit yang bernama LAPAN-TUBSAT ini, merupakan generasi pertama satelit buatan Indonesia, setelah selama 30 tahun, Indonesia menggunakan tujuh satelit seri "Palapa" buatan asing, yaitu buatan perusahaan Hughes Aircraft Company (Amerika Serikat). Palapa A-1 diluncurkan 9 Juli 1976, Palapa A-2 (11 Maret 1977), B1 (16 Juni 1983), B2 (26 Februari 1984-gagal orbit), Palapa B2P (21 Maret 1987), B2R (14 April 1990), B4 (14 Mei 1992. Selanjutnya adalah Telkom-1 (13 Agustus 1999), dan Telkom-2 (17 November 2005). Dua satelit yang disebut terakhir ini juga adalah produksi perusahaan asing.
Kepada pers usai Rapat Kerja Kementerian Ristek dan Lembaga Pemerintahan Non-Departemen dengan Komisi VII DPR, di Jakarta, Senin (11/9), Adi Dewo Salatun menyebut bahwa satelit ini nanti memiliki visi untuk melakukan survei bumi dengan resolusi hingga enam meter dari kamera berwarna dan panchromatic sebagai sistem payload-nya.
Satelit ini membawa video kamera yang bisa dikendalikan langsung dari bawah yang hasilnya real time, sementara teknologi satelit yang terpasang sampai saat ini hanya menjadi imager yang 1-2 minggu kemudian baru terlihat hasilnya, sehingga apabila sudah berada di orbit akan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti memantau bencana alam seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan dan lain-lain.
Satelit ini, lanjut Adi Dewo Salatun, merupakan langkah awal dari program pengembangan dan penguasaan teknologi satelit oleh bangsa sendiri.
Pembangunan satelit mikro yang disainnya dilakukan oleh Jerman itu saat ini telah selesai dan telah berada di ISRO, India siap untuk diluncurkan bersama satelit India "Carthosat-2".
Masih dalam penjelasannya, Adi Dewo Salatun menyebut, satelit mikro tahap I tersebut, dengan berat hanya 57kg (satelit Palapa buatan AS sekitar 400kg, bahkan satelit terakhir Telkom-2 yang diluncurkan pada 2005 beratnya hampir dua ton).
Tidak hanya ringan, satelit mikro itu juga hanya menghabiskan Rp10 miliar (atau sekitar 1 juta dolar AS) untuk membuatnya, sementara harga pembelian satelit Palapa yang mencapai ratusan juta dolar AS.
Satelit berikutnya, Tahap II, akan berupa satelit penginderaan jauh dan lebih ditekankan pada bidang aplikasi yaitu untuk menunjang program ketahanan pangan nasional. Saat ini pengembangannya baru sampai pada tahap analisis misi namun diharapkan satelit tahap II akan selesai dibangun pada 2009/2010, begitu Adi Dewo Salatun. (bj)
Powered by AkoComment! |