Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow Dalam Tiga Tahun, BMG Tambah Stasiun Gempa Menjadi 160
Dalam Tiga Tahun, BMG Tambah Stasiun Gempa Menjadi 160 Cetak E-mail
Jumat, 01 April 2005
Buana Katulistiwa- Saat ini, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) hanya memiliki 31 stasiun gempa dari mulai Banda Aceh hingga Jayapura. Jarangnya kerapatan titik pengamatan ini membuat BMG membutuhkan 30 menit hingga 60 menit untuk mendeteksi suatu gempa.

Melihat kondisi ini, Ketua BMG Gunawan Ibrahim, usai menjadi pembicara dalam sebuah seminar di Jakarta, Kamis (31/3) mengatakan bahwa pihaknya merencanakan akan menambah stasiun baru hingga jumlahnya mencapai 160 buah di seluruh Indonesia.

“Dengan jumlah ini, maka dalam waktu 15 menit setelah terjadi gempa dapat kami deteksi,” katanya.

Dia menyanggah jika ada yang menyebut bahwa penambahan stasiun seperti ini untuk meramal kapan akan terjadi gempa. Menurut dia, meramal kapan terjadinya gempa hingga kini masih dalam tahap penelitian, termasuk di negara-negara maju sekalipun.

Tapi penambahan titik pengamatan itu, lebih dapat dipergunakan dalam hal pemberian peringatan bahaya tsunami, yang diduga mencapai pantai dalam waktu 10-15 menit setelah gempa.

Dikatakan, ada proses di bawah kulit bumi yang bisa dideteksi, tapi karena daerahnya sangat luas dan parameternya sangat banyak, maka belum bisa diramalkan. “Tapi saya yakin dengan kemajuan ilmu dan tehnologi, sewaktu-waktu nanti bisa,” ujarnya.

Tiga tahun

Gunawan tidak mau menyebut berapa dana yang akan dibutuhkan untuk membangun ratusan stasiun baru itu. Dengan alasan bahwa beberapa negara penyumbang seperti Jepang tidak memberikan uang tapi berupa peralatan. Jepang juga berjanji memberikan teknisi dan pelatihan-pelatihan bagi SDM yang dimiliki BMG.

Selain Jepang, yang sudah memberikan komitmen untuk membantu adalah Jerman dan China.

Mengenai kapan stasiun pengamat gempa tambahan itu dapat dioperasikan, Kepala Bidang Gempa Bumi BMG, Drs. Suhardjono, Dipl Seis mengatakan kemungkinan tiga tahun mendatang.

Lamanya pembangunan stasiun baru itu karena pemasangannya sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Suhardjono menambahkan penambahan alat itu hanya merupakan jaringan BMG secara intern. Jaringan deteksi gempa baru akan maksimal jika ditunjang dengan jaringan komunikasi.

“Dibutuhkan jaringan informasi esklusif dari BMG ke pemerintahan daerah dan pusat agar gempa dapat segera diketahui masyarakat,” katanya. (pl/bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com