|
Buana Katulistiwa- Saat ini, Badan Meteorologi dan Geofisika
(BMG) hanya memiliki 31 stasiun gempa dari mulai Banda Aceh hingga
Jayapura. Jarangnya kerapatan titik pengamatan ini membuat BMG
membutuhkan 30 menit hingga 60 menit untuk mendeteksi suatu gempa.
Melihat kondisi ini, Ketua BMG Gunawan Ibrahim, usai menjadi
pembicara dalam sebuah seminar di Jakarta, Kamis (31/3) mengatakan
bahwa pihaknya merencanakan akan menambah stasiun baru hingga jumlahnya
mencapai 160 buah di seluruh Indonesia. “Dengan jumlah ini, maka dalam waktu 15 menit setelah terjadi gempa dapat kami deteksi,” katanya. Dia
menyanggah jika ada yang menyebut bahwa penambahan stasiun seperti ini
untuk meramal kapan akan terjadi gempa. Menurut dia, meramal kapan
terjadinya gempa hingga kini masih dalam tahap penelitian, termasuk di
negara-negara maju sekalipun. Tapi penambahan titik pengamatan
itu, lebih dapat dipergunakan dalam hal pemberian peringatan bahaya
tsunami, yang diduga mencapai pantai dalam waktu 10-15 menit setelah
gempa. Dikatakan, ada proses di bawah kulit bumi yang bisa
dideteksi, tapi karena daerahnya sangat luas dan parameternya sangat
banyak, maka belum bisa diramalkan. “Tapi saya yakin dengan kemajuan
ilmu dan tehnologi, sewaktu-waktu nanti bisa,” ujarnya. Tiga tahun Gunawan
tidak mau menyebut berapa dana yang akan dibutuhkan untuk membangun
ratusan stasiun baru itu. Dengan alasan bahwa beberapa negara
penyumbang seperti Jepang tidak memberikan uang tapi berupa peralatan.
Jepang juga berjanji memberikan teknisi dan pelatihan-pelatihan bagi
SDM yang dimiliki BMG. Selain Jepang, yang sudah memberikan komitmen untuk membantu adalah Jerman dan China. Mengenai
kapan stasiun pengamat gempa tambahan itu dapat dioperasikan, Kepala
Bidang Gempa Bumi BMG, Drs. Suhardjono, Dipl Seis mengatakan
kemungkinan tiga tahun mendatang. Lamanya pembangunan stasiun baru itu karena pemasangannya sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Suhardjono
menambahkan penambahan alat itu hanya merupakan jaringan BMG secara
intern. Jaringan deteksi gempa baru akan maksimal jika ditunjang dengan
jaringan komunikasi. “Dibutuhkan jaringan informasi esklusif dari
BMG ke pemerintahan daerah dan pusat agar gempa dapat segera diketahui
masyarakat,” katanya. (pl/bj) Powered by AkoComment! |