|
Buana Katulistiwa- Usulan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) mengenai perlu adanya pelajaran atau kurikulum, penyebaran
pamflet hingga pelatihan-pelatihan mengenai bencana alam seperti gempa
bumi di sekolah-sekolah yang rawan bencana alam, perlu mendapat
perhatian dan ditindaklanjuti.
Kalangan pengamat sendiri menyayangkan, perhatian
terhadap upaya-upaya dini untuk mengantisipasi bencana telah terabaikan
selama ini, padahal berdasarkan kondisi fisik Indonesia sangat
potensial untuk terjadinya peristiwa bencana alam.
"Apa yang disampaikan Presiden itu harus disambut
positif, dan harus segera direalisasikan. Jangan terus dibiarkan dalam
wacana," kata Taqyuddin, MHum, seorang staf pengajar di Departemen
Geografi Universitas Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Taqyuddin, penanganan pra bencana di
Indonesia boleh disebut sangat buruk di dunia, karena paraidigma
pembangunan yang masih sangat sulit diubah yaitu paradigma proyek pasca
bencana. Hal itu tampak dari penggunaan anggaran termasuk ABT (anggaran
biaya tambahan), yang mudah sekali mendapat "green light" begitu
terjadi bencana, dibandingkan dengan upaya pengeluaran anggaran untuk
pra bencana alam.
"Soalnya yang namanya pasca bencana itu nyata
terlihat, maksudnya dalam ukurannya yang besar, misalnya untuk biaya
rehalibilitasi rumah, jalan, jembatan, bantuan hingga biaya per hari
per orang untuk makanan, obat-obatan. Sehingga jangan heran korupsi
juga marak tersiar dari penyaluran bantuan-bantuan itu," kata dia.
Usulan Presiden SBY itu disampaikan ketika Kepala
Negara melakukan kunjungan ke Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT),
awal Desember 2004 lalu. Menurut Presiden, masyarakat perlu diberikan
kemampuan untuk dapat mengantisipasi bencana alam, sehingga korban
dapat diminimalisir.
Ketika itu, Presiden sempat membuat perbandingan
dengan Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam ini, kata Presiden,
murid-murid SD sudah perkenalkan dengan gejala Tornado, bahkan mereka
juga dilatih jika ada serangan Tornado.
Ia mengatakan upaya pembelajaran ini tidak hanya berlaku di Alor atau
Papua, tetapi juga secara nasional seperti di Lampung, Bengkulu,
Sumatera Barat dan Sukabumi yang kesemuanya rawan bencana gempa.
Memang, diakui Presiden, bencana gempa bumi
berbeda dengan bencana badai yang ada sistem pemantauannya atau
peringatan dini, sementara itu bencana gempa bumi sulit dideteksi.
Namun jika ada pembelajaran terlebih dahulu masyarakat tidak panik
sehingga diharapkan masyarakat dapat menanganinya dengan baik.
Kecamatan Alor Timur Laut, berpenduduk 8.256 jiwa,
merupakan daerah yang paling parah terkena dampak gempa 12 November
2004 lalu yang berkekuatan 6,5 skala richter dan secara total
mengakibatkan 33 orang meninggal dan 10 orang korban meninggal di
antaranya merupakan penduduk Alor Timur Laut. Selain itu sebanyak
1.170 rumah penduduk rusak total di kecamatan itu, sedangkan rumah yang
rusak berat 358 unit, dan rusak ringan 175 unit, sedangkan fasilitas
pendidikan yang rusak total sebanyak 19 unit, rusak berat 25 unit.
Sementara sarana kesehatan yang rusak berat 14 unit, tempat ibadah
rusak total 19 unit, rusak berat 18.
Atas kerusakan berbagai bangunan tersebut, aparat
kecamatan bahkan bekerja di bawah tenda-tenda darurat, begitu pula para
pelajar yang terpaksa mengikuti pelajaran dari guru mereka di
tenda-tenda darurat..
Libatkan LSM
Lebih jauh Taqyuddin mengatakan, masalah bencana
alam di Indonesia sebenarnya sangat mendesak untuk segera ditangani.
Sebab, boleh dikatakan setiap titik tanah sangat berpotensi untuk
terjadi bencana. Hal ini bukan hanya terjadi di daerah-daerah rawan
gempa, banjir, gunung berapi, tapi juga untuk skala lokal, seperti
tanah longsor, kebakaran dan lainnya.
Yang disebut terakhir inipun, kata Taqyuddin,
merupakan konsekuensi dari semakin tergusurnya masyarakat dari
tempat-tempat yang "aman" ke lokasi-lokasi yang kritis. "Tidak
seimbangnya pemerataan hasil pembangunan, telah menyebabkan sebagian
masyarakat terpaksa harus mendiami lokasi-lokasi yang rawan longsor
seperti lereng-lereng bukit atau gunung serta bantaran kali. Mereka
sepertinya tak punya pilihan lain. Korban bencana ya mereka-mereka yang
miskin itu juga," katanya.
Solusinya, lanjut Taqyuddin, memang salah satunya
adalah seperti yang disampaikan Presiden tadi. Membuat kurikulum atau
pelajaran khusus menghadapi bencana alam bagi sekolah-sekolah yang
daerahnya rawan bencana alam, mungkin dipandang mudah, namun sulit
juga, karena setiap daerah memang berbeda-beda kondisinya.
Katakanlah buku maupun kurikulum bisa dibuat, tapi
bagaimana pula dengan guru-guru, apakah mereka siap? Yang terbaik
sebenarnya tidak perlu membuat kurikulum baru atau pelajaran baru,
melainkan diperkuat saja pelajaran geografi yang ada. "Perkuat
pelajaran geografi di sekolah, berikan tambahan pengenalan geografi
fisik daerah masing-masing di sana, berikut cara-cara menghadapi
bencana."
Selain itu, lanjut Taqyuddin, pemerintah perlu
membuka luas keterlibatan para LSM yang terlibat dalam geografi dalam
rencana besar pengelolaan pra bencana ini di setiap daerah rawan. LSM
ini bisa menjadi agen komunikasi, pembimbing hingga menjadi relawan
yang tangguh saat bencana terjadi, karena mereka sudah mengetahui medan
sebelumnya.
"Libatkan mereka dalam program pendampingan. Mereka
akan dibimbing untuk memahami daerah mereka sendiri, termasuk untuk
memahami peta, hingga membuat kelompok-kelompok yang berfungsi untuk
membangun kerja sama dini manakala terjadi bencana alam," sambungnya.
Bahkan, karena LSM ini sudah terlibat sejak awal di
masyarakat dan membentuk jaringannya sendiri, kita tak perlu kerepotan
untuk membuat jaringan baru dalam hal distribusi berbagai kebutuhan
penanganan pasca bencana alam.
"Saya," kata Taqyuddin, "mengenal beberapa LSM yang
mampu untuk dilibatkan dalam hal ini". "Buana Katulistiwa, misalnya,
sudah punya banyak pengalaman. Mereka bisa diajak menjadi mitra
pemerintah dalam hal ini Depsos atau Diknas atau instansi lain yang
terkait di bidang kesra. Jangan pula, membuat lembaga baru yang
jadi-jadian saja, yang kemudian pekerjaannya tidak bisa
dipertanggungjawabkan seperti yang terjadi selama ini," begitu
Taqyuddin. (bj)
Powered by AkoComment! |