|
Buana Katulistiwa-Kapal utama aktivis lingkungan, Greenpeace, ?Rainbow Warrior? merapat ke Papua, untuk melakukan kajian lingkungan dan sosial selama satu bulan. Kapal ini akan merapat di Jakarta 22 April selama tiga hari.
Informasi ini disampaikan Direktur Eksekutif Greepeace Asia Tenggara Emmy Hafild di Jakarta, Rabu (12/4), saat memberikan keterangan mengenai kondisi hutan di Papua dan aktivitas ?Rainbow Warrior? yang bermaksud untuk melindungi hutan-hutan di Papua.
Menurut Emmy, lebih dari 25 persen hutan alam yang ada di Papua telah dibagikan kepada pengusaha HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang mengekspor produk kayu murah ke negara-negara maju seperti AS, Jepang, Uni Eropa dan China.
Berdasarkan angka-angka yang diperoleh dari Departemen Kehutanan, dijelaskan bahwa pada akhir 2005, Pemerintah telah mengeluarkan HPH pada 11,6 juta hektar hutan di Papua kepada 65 perusahaan penebangan.
Perusahaan-perusahaan ini dimiliki oleh hanya segelintir perusahaan nasional seperti Barito Pacific (Inggris, Indonesia), PT Wapoga Mutiara Timber (anak perusahanan Rimbunan Hijau, Malaysia), Kayu Lapis Indonesia, Korindo Group (Korea, Indonesia), Djajanti Group (Indonesia), dan PT Hanurata (Indonesia).
Itu sebabnya Greenpeace Asia Tenggara menyerukan agar upaya penggundulan hutan itu dihentikan sebelum hutan di Papua habis. Menurut mereka, Pemerintah Indonesia harus memberlakukan moratorium terhadap kegiatan penebangan komersial berskala besar dalam cakupan hutan utuh Indonesia, dimulai dengan Papua.
Begitu juga dengan kebijakan-kebijakan nasional dan daerah juga hendaknya dikaji ulang, termasuk pemberlakuan tata guna ruang yang tepat.(bj)
Powered by AkoComment! |