Depan arrow Topik arrow Sosial arrow Penting Rencana Spasial Dipadukan Manajemen Risiko Bencana
Penting Rencana Spasial Dipadukan Manajemen Risiko Bencana Cetak E-mail
Rabu, 21 September 2005
Buana Katulistiwa - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Joko Kirmanto mengatakan, penting bagi Indonesia untuk memiliki rencana spasial yang dipadukan dengan aspek manajemen risiko bencana, terutama dalam hal penempatan tempat tinggal penduduk, berkaitan dengan letak Indonesia yang berisiko besar gempa bumi dan letusan gunung api tektonik maupun vulkanik.

Menurut Menteri PU, kejadian bencana tsunami dan gempa bumi akibat pergeseran lapisan Laut India telah memberi gambaran nyata akan pentingnya hal ini. "Perlu disadari dan perlu penempatan rencana spasial terhadap tempat tinggal penduduk yang berada di garis batas ini untuk mengurangi resiko bencana," kata Joko Kirmanto dalam seminar regional 'Risk Management in Human Settlement', di Yogyakarta, awal pekan ini.

Selain bencana yang berhubungan dengan pergeseran lapisan tektonik tersebut, kata Joko Kirmanto, ada yang lebih perlu disadari yakni ancaman global warming (pemanasan global) karena meningkatnya emisi dari rumah kaca. Ancaman ini kemudian akan mengancam bumi dengan meningkatnya temperatur global yang akan mengakibatkan kenaikan level laut dan permasalahan lainnya, seperti intensitas bencana banjir, perubahan aliran laut, penurunan tanah bakau serta meningkatnya air garam serta hilangnya dataran pantai.

Dia memperkirakan, apabila global warming terjadi, Indonesia dengan sekitar 81.000 km batas pantai dan lebih dari 17.000 pulau, diperkirakan air lautnya akan naik dan menggenangi atau merendam sekitar 50 meter di atas tanah sepanjang batas pantai. Maka, sekitar 405.000 hektar tanah akan hilang.

Mencermati banyaknya ekosistem pulau-pulau kecil yang ada di negeri ini, maka ancaman itu menjadi perhatian yang lebih besar bagi Indonesia.

Karena itu, pendekatan rencana spasial perlu dikembangkan dengan mengadaptasi dari rekomendasi IPCC (Intergovernmental Panel for Climate Change) sebagai ukuran pro aktif untuk menangani global warming, diantaranya dengan membangun infrastruktur perlindungan di sepanjang daerah pantai.

Selain itu, kata dia, dengan membangun alternatif lain untuk menyesuaikan pada perubahan seperti pembentukan kembali tanah dan gedung-gedung yang ditinggikan, serta memindahkan fungsi sosial ekonomi dari daerah pantai yang terancam, ke daerah yang lebih aman.

Khusus mengenai antisipasi bencana, Departemen Pekerjaan Umum sendiri, menurut Joko, memberi bantuan teknik dan petunjuk untuk membuat rumah sederhana yang relatif tahan gempa, dan petunjuk teknis itu sudah disebarluaskan ke pemerintah kabupten di seluruh Indonesia. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com