|
Buana Katulistiwa - Diskusi menarik tentang konsep perkotaan telah dimulai ketika konsep Megapolitan yang digulirkan Ali Sadikin dan Sutiyoso menaik ke permukaan. Akankah konsep ini akan berakhir dengan tetap dalam koridor akademik, atau gugur dalam sangkur politik praktis?
Setelah Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso memberikan pemaparannya di depan Panitia Khusus (Pansus)RUU Ibukota Negara di DPR, pekan lalu, giliran Gubernur Jawa Barat Denny Setiawan dan Plt Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiah diminta pendapatnya mengenai konsep Megapolitan, Rabu (15/2).
Singkatnya, dua tokoh ini membawa suara Jabar dan Banten yang menggambarkan pendapat mereka dengan kalimat "penolakan tapi". Mereka menolak konsep Megapolitan jika hal itu ditujukan untuk memperluas wilayah DKI Jakarta sebagai ibukota negara. Tapi jika itu dalam konteks tata ruang dan wilayah secara integral, silakan saja.
?Jika konsep Megapolitan dalam pengertian ?mencaplok? wilayah Jawa Barat, maka dengan tegas kami menolak. Tetapi jika Megapolitan dalam konteks mengatur tata ruang dan wilayah secara integral antara DKI dan Jawa Barat, kami tidak keberatan,? ujar Denny Setiawan.
Sementara Hj Ratu Atut Chosiah berpendapat, ?Secara prinsip pemeritah Banten sama dengan Jawa Barat. Provinsi Banten setuju dengan konsep Megapolitan bila untuk mensinergikan DKI, Banten dan Jawa Barat,? katanya.
Danny mempertanyakan apakah konsep Megapolitan merupakan satu-satunya solusi bagi penyelesaian permasalahan DKI Jakarta. Jika pertambahan penduduk terus meningkat tanpa diimbangi pemenuhan kebutuhan penduduk dalam berbagai aspeknya, seperti kesempatan kerja, fasilitas kota dan lain-lain, maka konsep Megapolitan sebagai solusi tidak tepat.
Danny mengungkapkan, beberapa tahun lalu sudah ada Jabotabek Metropolitan Master Plan. Ada juga sistem transportasi terpadu antara DKI dan wilayah sekitarnya. Kemudian sistem tata air regional, yakni tentang pengaturan tata air antara Jawa Barat dan DKI. ?Kenapa ini tidak diaplikasikan?? tanyanya.
Dia juga tidak setuju dengan istilah Megapolitan. Ia lebih setuju menggunakan istilah tata ruang yang terpadu Jabodetabekjur. Istilah ini lebih bernuasa pemberian penghargaan terhadap otonomi daerah di wilayah tersebut. ?Kalau istilah Megapolitan yang menikmati hanya Jakarta. Begitulah pemahaman masyarakat Jawa Barat yang saya terima,? terangnya.
Dia mengeluhkan, dalam beberapa hal Pemda DKI Jakarta kurang koordinasi dengan Pemerintah Jawa Barat. Ia mencontohkan, kasus Bojong Gede (tempat pembuangan sampah yang jadi masalah-Red) pemerintah Jawa Barat tidak pernah diajak bicara. ?Jadi bagaimana kami bisa memfasilitasi,? katanya.
Bukan Badawi
Sementara anggota Pansus Abdillah Toha asal F-PAN meminta Pemerintah Jabar dan Banten tidak berfikir sektoral, dan berharap Gubernur Jawa Barat dan Banten memandang konsep Megapolitan sebagai kepentingan bangsa. Sebab, masalah ibukota adalah masalah bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Kalaupun ada beberapa wilayah Jabar dan Banten yang masuk Megapolitan, tapi tidak mengurangi kewenangan kepala daerah bersangkutan kan tidak ada masalah.
?Walikota Bogor, Walikota Bekasi, Walikota Tangerang dan bupati-bupati tetap menjadi kepala pemerintahan setempat. Yang berubah hanyalah kepindahan administrasi dari semula ke Jabar atau ke Banten menjadi ke Jakarta,? tegasnya.
Abdillah Toha memandang kekhawataran Gubernur Jawa Barat itu seolah-olah yang akan mengambil wilayahnya adalah Abdullah Badawi dari Malaysia. Padahal, pengambilan wilayah tersebut justru memindahkan tanggungjawab sekaligus meringankan beban Jawa Barat dan Banten.
?Saya menghargai aspirasi DPRD dan rakyat Jawa Barat yang menolak Mogapolitan, tetapi apakah tidak sebaiknya Guberenur Jawa Barat juga meminta pendapat pada wilayah yang akan ?diambil? seperti Bekasi, Bogor dan lainnya. Tanya, apakah mereka tetap ingin masuk Jawa Barat atau Megapolitan?? katanya.
Menanggapi Abdillah Toha, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan tetap pada pendiriaannya. Ia tidak rela daerahnya ?dicaplok? DKI Jakarta. Ia memahami kalau penanganan DKI Jakarta itu sangat penting dan menjadi prioritas karena menyangkut kepentingan ibukota negara RI.
?Masyarakat Jawa Barat mendukung sepenuhnya eksistensi Jakarta sebagai ibukota negara, tapi bukan berarti melalui perluasan wilayah,? katanya. (bj)
Powered by AkoComment! |