Depan arrow Topik arrow Sosial arrow Depok: Kota Terkotor dengan Laporan SLHD Terbaik
Depok: Kota Terkotor dengan Laporan SLHD Terbaik Cetak E-mail
Kamis, 09 November 2006
Geografiana.com Depok - Masyarakat Depok mungkin sudah tahu bahwa kotanya merupakan kota terkotor dalam penilaian Adipura Tahun 2005 yang lalu, tapi mungkin masyarakat Depok tidak tahu bahwa dokumen Laporan Status Lingkungan Hidup Kota Depok merupakan laporan terbaik di tingkat nasional pada periode yang sama. Hal ini terungkap pada acara sosialisasi penyusunan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Depok tanggal 7 November 2006 di Aula Gedung Balaikota Depok lantai 3, yang diselenggarakan oleh Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Depok.

Penyusunan laporan SLHD Kota Depok 2006 ini dilaksanakan oleh DKLH Kota Depok bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan Universitas Indonesia dengan tujuan diantaranya menyediakan informasi lingkungan hidup sebagai sarana publik dari berbagai kepentingan termasuk bagi penyusunan Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI). Pada hakekatnya penyusunan SLHD adalah mengunpulkan berbagai data kegiatan pengelolaan lingkungan yang dilakukan berbagai instansi pemerintah Kota Depok dan pelaku pembangunan di wilayah Kota Depok, kemudian diolah dan dianalisis untuk menghasilkan rekomendasi mengenai bagaimana dan apa rencana menanggulangi masalah lingkungan di Kota Depok.

Dokumen yang terdiri dari dua buku (Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah dan Basisdata Lingkungan Hidup Daerah) ini merupakan jenjang terendah dari penyusunan Status of Environment Report (SoER) mulai dari tingkat global (Asia Pasifik), regional (ASEAN), Nasional (SLHI), Provinsi (SLHD Jawa Barat), sehingga isu lingkungan yang dikedepankan pada SLHD tingkat Kabupaten/kota harus mempertimbangkan isu global atau nasional, selain mendalami isu lokal di tingkat kota.

Sayangnya, dari tujuh isu utama yang dikemukakan tim penyusun tidak merunut pada isu di tingkat yang lebih tinggi. Isu utama yang disosialisasikan adalah : (1) pertumbuhan penduduk yang tinggi, (2) masalah tata ruang, (3) permasalahan pengelolaan sampah, (4) kemacetan lalu lintas, (5) pencemaran udara, (6) pencemaran air, dan (7) berkurangnya daerah resapan. Peserta dari unsur pemerhati lingkungan, Yadi Priyadi mengutarakan pada SLHD Kota Depok perlu ditambahkan isu global mengenai Avian influenza atau flu burung, "Flu burung merupakan isu global, regional, nasional, maupun di tingkat provinsi. Apalagi pernah diberitakan di wilayah Kota Depok ditemukan suspect flu burung".

Selain dari sisi isi isu yang dikemukakan, peserta juga menyoroti kekurangan dari outline dokumen yang disajikan. Dari empat bab isi dokumen yang direncanakan, tidak meliputi metode-metode yang digunakan dalam pengumpulan, pengolahan, analisis data, maupun dalam memperoleh isu utama, perubahan kualitas lingkungan hidup. “padahal data-data yang dihimpun masing-masing dinas memiliki variabel dan parameter yang beda-beda” ujar Yadi Priyadi dari Puslitbang Lembaga Pelestarian Alam dan Lingkungan Hidup Indonesia.

Sementara peserta dari Dinas Pekerjaan Umum Kota depok menyoroti masalah validasi data yang akan digunakan dalam penyusunan SLHD Kota Depok ini. Seluruh peserta sosialisasi yang hadir mengharapkan isi dari Laporan SLHD ini bukan hanya sekedar dokumentasi data-data saja, namun diharapkan bermanfaat bagi monitoring dan evaluasi dalam memperbaiki kualitas lingkungan hidup Kota Depok di masa depan. (nh)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com