Depan arrow Topik arrow Sosial arrow Badak Jawa Tinggal 40-50 Ekor, Badak Sumatera 400-700 Ekor
Badak Jawa Tinggal 40-50 Ekor, Badak Sumatera 400-700 Ekor Cetak E-mail
Selasa, 06 Desember 2005
Buana Katulistiwa - Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dulu tersebar di berbagai daerah yang cukup luas meliputi Bengal sampai Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Kini, populasi dan penyebarannya hanya tersisa di daerah paling barat Pulau Jawa, Ujung Kulon, dengan populasi hanya 40-50 ekor.

Menurut Ketua Suaka Rhino Sumatera, Prof Dr Hadi S Alikodra dalam sebuah seminar di Kampus IPB, Bogor, Jawa Barat, belum lama ini, semakin tertekannya populasi dan penyebaran badak Jawa ini terutama karena konversi hutan, kegiatan HPH, dan perburuan.

Hadi S Alikodra, seperti dikutip www.ipb.ac.id, dibandingkan badak Jawa, badak Sumatera mengalami nasib yang lebih baik dilihat dari populasinya, namun ancaman kepunahan untuk jenis badak Sumatera ini juga semakin meningkat. Populasinya di dunia berkisar 400-700 ekor, dengan kehilangan populasi setiap tahunnya mencapai 10 persen.

"Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir angka penurunan populasi meningkat hingga mencapai 50 persen. Di Sumatera populasinya ditaksir sekitar 200-300 ekor tersebar di TN Gunung Leuseur, TN Kerinci Seblat, TN Bukit Barisan Selatan, TN Nasional Way Kambas," jelas Hadi S Alikodra yang juga menjabat Ketua II Yayasan Mitra Rhino.

Badak Jawa dan badak Sumatera termasuk binatang liar yang sangat sensitif, untuk hidupnya menghendaki hutan-hutan alam yang tidak diganggu manusia. Badak sering mendapat julukan case spesies. Hewan yang menjadi indikator kerusakan lingkungan ini suka berjalan jauh. Sehari mampu menempuh perjalanan dua sampai dengan sepuluh kilometer. Walaupun jalannya lambat, badak memiliki daya pendengaran dan penciuman yang sangat tajam.

"Badak takut bertemu manusia, dia suka hidup menjauh dari keramaian. Lebih memilih tinggal di dalam tengah hutan yang lebat," kata staf pengajar Fakultas Kehutanan IPB.

Ir Puja Utama, M.Sc, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengatakan Taman Nasional Ujung Kulon saat ini merupakan satu-satunya tepat atau habitat terakhir yang paling sesuai untuk satwa badak Jawa. "Untuk menjamin kelangsungan hidup satwa langka ini diperlukan berbagai upaya pelestarian yang terpadu dan berkelanjutan sema pihak," ujarnya.

Badak diburu karena culanya sangat mahal, mencapai ratusan juta. Orang mengincar cula badak karena menganggap berkhasiat sebagai obat kuat lelaki. "Padahal secara ilmiah, cula badak itu seperti kuku manusia. Khasiat cula badak itu hanya mitos," kata Fatkurrahman, pendiri Uni Konservasi Fauna (UKF) IPB. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com