|
Buana Katulistiwa - Sebuah pertemuan para ilmuwan yang diberi nama "Open Science Meeting Indonesia-Belanda III" digelar di Yogyakarta, 27-29 September. Mengambil tema "Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat: Tantangan dan Kesempatan Baru" diikuti oleh berbagai kalangan pakar, diantaranya Taufik Abdullah dan Prof Johannes Bisschop.
Koordinator pertemuan, Jan Sopahulewakan, yang juga Deputi Bidang Ilmu Kebumian LIPI, dan Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemasyarakatan LIPI Fortuna Anwar , dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (27/9) mengatakan bahwa pertemuan tersebut penting untuk menyadarkan pentingnya pendekatan-pendekatan ilmiah lewat kajian-kajian ilmiah bagi pengambil keputusan.
Kesadaran seperti itu, menurut mereka, juga perlu untuk memunculkan perspektif lain dari berbagai instansi baik di lingkungan pusat maupun daerah yang selama ini terkotak-kotak menjadi satu kesatuan.
Jan Sapahulewakan berpendapat, hendaknya disadarkan bahwa kawasan hutan, perairan laut dan daerah aliran sungai saling berkaitan. mengenai daerah aliran sungai, peneliti dari Royal Netherlands Academy of Art and Sciences Johan Stapel memberikan contoh betapa negara-negara di Eropa bisa saling berbagi dalam mengelola dengan baik beberapa daerah aliran sungai yang melewati sejumlah negara.
Menurut dia, semestinya dalam pengelolaan daerah aliran sungai di Indonesia tidak terlalu rumit karena aliran-aliran sungai tersebut hanya melewati kawasan kabupaten dan provinsi di negara yang sama.
Sedangkan Dewi Fortuna Anwar mengatakan bencana alam yang terjadi di Indonesia harusnya semakin menyadarkan bahwa adanya kaitan yang sangat mendasar antara berbagai ilmu dari sosial hingga penelitian dasar.
Dari kenyataan tersebut, menurut Dewi, kajian-kajian pembangunan hendaknya menjadikan bencana sebagai wawasan pembangunan bukan hanya berfikir soal kepentingan politik dan ekonomi semata.
Dia mengingatkan soal ketidakpedulian pemerintah terhadap opini lain di luar perhitungan ekonomi ketika ada rencana pembangunan satu juta lahan gambut di Kalimantan menjadi pusat pertanian nasional. Ketika itu, kata Dewi, tak ada pemerhati lingkungan yang setuju dengan rencana konversi lahan gambut menjadi lahan pertanian dan saat ini semua orang, termasuk dirinya yang pakar politik melihat kenyataan setelah proyek tersebut gagal, lahan itu tidak bisa dikembalikan ke fungsi semula.
Jan pada bagian lain mengingatkan bahwa mitos Indonesia sebagai negeri "kolam susu" yang memanjakan masyarakatnya selalu aman dan sejahtera harus segera ditinggalkan karena pada kenyataannya banyak bencana yang mengintai setiap saat. (bj) Powered by AkoComment! |