|
Buana Katulistiwa- Walau sudah ada kesepakatan akan menyelesaikan
konflik “perebutan” Blok Ambalat, namun kekuatan militer Indonesia dan Malaysia
masih belum beranjak dari sekitar laut Sulawesi itu. Malaysia bahkan
terkesan terus melakukan mobilisasi dan tidak sedikitpun berniat untuk mundur.
Sementara
itu, aksi protes hingga pekan ini semakin intens terjadi di seluruh daerah Indonesia.
Tidak ada reaksi yang demikian hebat selama ini selain reaksi masyarakat yang
menghendaki pemerintah melakukan aksi keras melalui pengumuman perang kepada
“negeri jiran” itu. Sentimen ketidakadilan soal “TKI” dan direbutnya Pulau
Sipadan dan Pulau Ligitan dari NKRI menjadi isu yang turut memancing kemarahan
rakyat Indonesia.
Tak heran, jika di beberapa tempat, pembakaran bendera Malaysia pun dilakukan.
Rakyat
Indonesia, rupanya, tidak
mau menerima alasan-alasan Malaysia
untuk menancapkan kakinya kembali di wilayah yang merupakan milik Indonesia.
Bahkan untuk sebuah kompromi dengan “berbagi”, rakyat mendesak agar lebih baik
perang.
“Kami
meminta kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk tegas. Saya akan
menelepon atau setidaknya SMS (pesan singkat-Red) untuk menegaskan jangan sampai kita terbawa pada permainan Malaysia.
Kita cukup kehilangan Sipadan dan Ligitan,” kata Ketua DPR Agung Laksono.
Komisi
I DPR sendiri sebelumnya sudah melaju lebih keras. Selain ikut dalam rombongan
unjuk rasa di depan Kedubes Malaysia di Jakarta, pekan lalu, mereka juga
mendesak agar Pemerintah RI menarik Dubes RI di Malaysia sebagai bentuk protes
keras atas tindakan Malaysia
yang menunjuk Shell, perusahaan minyak asal Belanda, untuk melakukan eksplorasi
minyak dan gas di Blok Ambalat.
“Tidak
ada kata lain kepada maling: harus ditembak!” teriak Permadi, SH, anggota
Komisi I DPR dari F-PDIP di sela-sela aksi demo di depan Kedubes Malaysia
itu.
Pekan
lalu juga, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro ikut menyampaikan duduk perkara
penguasaan blok yang kaya minyak dan gas itu kepada pers. Dengan tegas, dia
mengatakan bahwa Blok Ambalat adalah wilayah RI. Tidak ada keraguan atas klaim
itu, sebab mempertimbangkan pengukuran Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE) antara
negara daratan dan kepulauan.
Menurut Purnomo, Indonesia menganut prinsip negara
kepulauan dengan batas kedaulatan ZEE berjarak 200 mil. Malaysia adalah negara daratan,
dimana batas kedaulatannya berjarak 12 mil.
“Kita sudah mengukur turun jarak
Sipadan-Ligitan 12 mil disaat memberikan kontrak East
Ambalat kepada Unocal. Kita melihatnya justru diluar jarak 12
mil,” katanya.
Indonesia sudah memperhitungkan bila ternyata Malaysia
mengklaim menggunakan 12 mil. Maka dari itu, sebenarnya tidak akan tumpang
tindih. Tetapi yang terjadi ternyata mereka tidak mengukur turun lurus tapi
diagonal. Purnomo pun kesal.
Malaysia
mengambil blok N-D 6 dan N-D 7. N-D 6 sebagian tumpang tindih dengan Blok
Ambalat dan Blok East Ambalat yang dikelola Unocal. Kontrak itu telah
disepakati pada akhir September 2004, sedangkan Shell baru masuk pekan lalu
lewat Petronas Carigali.
Blok N-D 6
dikelola Shell dan N-D 7 dikelola Petronas Carigali. ESDM sudah tahu bahwa itu
wilayah teritori Indonesia.
Maka kontrak East Ambalat diberikan ke Unocal.
“Dan ambalat kita berikan ke ENI yang sudah mengebor. Tahun ini adalah tahun
ke-7. ENI sudah mengembangkan 3 sumur,” terangnya lagi.
Lebih lanjut
pada tahun 1999 Blok Ambalat sudah ditangani Shell. Pada tahun 2001 diambil
alih ENI (Italia) sampai 2004 dan sudah melakukan pengeboran pada dua sumur.
***
Wilayah NKRI
sebagaimana telah ditetapkan kembali pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 38
tahun 2002 bahwa batas-batas wilayah Republik Indonesia untuk daerah laut
Sulawesi Selatan yang berbatasan dengan Malaysia setelah perundingan
Sipadan dan Ligitan adalah :
1. 04° 10'00"LU -
118°53'50"BT Titik dasar P. Ligitan TD 36C
2. 04° 08'03"LU -
118°53'01"BT Titik dasar P. Ligitan TD 36B
3. 04° 06'12"LU -
118°38'02"BT Titik dasar P. Ligitan TD 36A
Menurut
informasi Kementerian ESDM, kegiatan perminyakan Indonesia di daerah laut
Sulawesi yang berbatasan dengan Malaysia telah dilaksanakan semenjak tahun 1967
dengan dibukanya wilayah kerja Total Indonesie PSC untuk Blok Bunyu. Kemudian
dilanjutkan dengan beberapa kontrak wilayah kerja :
BP-British
Petroleum pada tahun 1970 mendapatkan Kontrak Wilayah Kerja Blok North East
Kalimantan Offshore; Hadson Bunyu BV mendapatkan area Blok Bunyu pada tahun
1985; Eni Bukat Ltd. mendapatkan Blok Bukat pada tahun 1988; Eni Ambalat Ltd.
mendapatkan Blok Ambalat pada tahun 1999.
Hal ini
menunjukkan bahwa garis lintang 04° 10'00"LU merupakan garis batas NKRI
dengan Malaysia.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penawaran wilayah kerja Blok East Ambalat
masih berada di wilayah NKRI berdasarkan garis batas negara baik lama maupun
setelah diundangkannya PP No 38 tahun 2002.
Dijelaskan
lagi, bahwa pemberian konsesi pengusahaan migas di sekitar wilayah perairan
Sulawesi yang sudah dimulai sejak tahun 1960-an itu tanpa ada keberatan dari
negara tetangga termasuk Malaysia.
Pada saat ini terdapat 9 wilayah kerja migas di sekitar Ambalat antara lain East Ambalat, Ambalat, Bukat, Bulungan dan Tarakan.
Kegiatan
eksplorasi migas di perairan laut Sulawesi khususnya di sekitar Ambalat sudah
dimulai pada tahun 1999 dengan penandatangan Production Sharing Contract (PSC)
dengan operator ENI Ambalat, Ltd pada tanggal 27 September 1999. Pada tanggal
12 Desember 2004 juga ditandatangani kontrak PSC dengan Unocal pada Blok
Ambalat Timur (East Ambalat).
Persoalan
mengemuka ketika Malaysia pada tanggal 16 Februari 2005 mengumumkan bahwa Blok
ND6 dan ND7 merupakan konsesi perminyakan baru yang dioperasikan oleh Shell dan
Petronas Carigali yang lokasinya tumpang tindih dengan Blok Ambalat dan East
Ambalat.
Pemerintah
melalui Deplu telah melayangkan nota protes kepada Pemerintah Malaysia
yang menyatakan bahwa
wilayah tersebut termasuk wilayah negara kesatuan RI. Direktorat
Jenderal Migas
DESDM telah mengadakan rapat dengan pihak Eni Ambalat Ltd dan Unocal
ventures East Ambalat dan mengharapkan kedua perusahaan untuk
tetap melakukan kegiatan eksplorasi di wilayah kerja masing-masing
sesuai
jadwal dan waktu yang telah direncanakan. (bj) Powered by AkoComment! |