|
Buana Katulistiwa - Pemerintah diminta untuk cepat menanggapi kegelisahan warga pesisir Sumatera bagian selatan, mulai dari Sumatera Barat, Bengkulu dan Lampung, atas kemungkinan kejadian gempa besar dan tsunami yang diprediksi akan terjadi di wilayah ini.
"Pemerintah hendaknya cepat merespon ini. Harus dilakukan sesuatu, supaya keresahan masyarakat tidak meluas. Namun, yang terpenting lagi adalah pemerintah jangan dibiarkan sendiri untuk menghadapi berbagai kemungkinan bencana, harus ada aksi bersama-sama," kata geograf dari Universitas Indonesia, Triarko Nurlambang, MA, di Jakarta, Rabu (6/4). Hal itu dikatakannya menyusul aksi pengungsian dan penjualan tanah dan rumah yang terjadi di sebagian lokasi di pesisir Sumatera akhir-akhir ini, akibat aktivitas geologis yang disebut-sebut mengalami peningkatan di sana. Di Padang, Sumbar, Rabu misalnya, ribuan warga mengadakan doa dan zikir bersama untuk keselamatan warga. Menurut Triarko, langkah yang dapat ditempuh pemerintah adalah dengan meyakinkan masyarakat bahwa memang negara Indonesia adalah negara yang akrab bencana, dan kejadian itu bisa terjadi dimanapun. Hal ini harus disosialisasikan. Kemudian, perlu pendekatan sosiokultural kepada masyarakat dan memberikan kemampuan kepada mereka untuk dapat menghadapi bencana alam. "Tidak ada seorangpun yang mampu meramal kapan pastinya sebuah bencana dapat terjadi. Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk jangka pendek ini adalah memberdayakan masyarakat itu untuk mampu melihat tanda-tanda serta menghadapi kondisi yang survive. Lalu sesegera mungkin mempersiapkan segala perangkat pertolongan segera yang 24 jam bisa disiagakan," kata geograf, yang juga staf pengajar di Departemen Geografi UI ini. Ia juga menyerukan agar lembaga-lembaga yang terkait dengan pengamatan bencana alam untuk dapat duduk bersama, dan tidak mudah membuatkan prediksi namun tidak mudah juga memberikan bantahan-bantahan. Menurut dia, alangkah baiknya lembaga itu menggiatkan sharing information dalam sebuah Pusat Informasi Bencana, sebelum disampaikan ke publik. Demikian pula dengan semua sektor atau departemen pemerintahan maupun nonpemerintahan, agar segera menghentikan aksi yang sifatnya menonjolkan egoisme masing-masing. "Bahaya bencana adalah bencana yang harus kita hadapi bersama-sama. Tinggalkan segera egoisme departemen, lembaga atau institusi. Apa yang dapat diberi harus dapat diberikan. Jadi pengalaman bencana alam selama ini harus menjadi pelajaran bagi kita bahwa kita memang perlu bersama-sama. Itu hal yang prinsip," kata dia. Dia juga mengingatkan, agar pemerintah jangan terkesan terlalu panik, lalu membuat kebijakan-kebijakan yang justru kelak tidak bermanfaat dalam jangka panjang. "Kita harus membuat cetak biru penanganan bencana, termasuk pembangunan data base dan semua arah kebijakan yang diambil harus mengacu ke sana. Selain itu, DPR perlu sesegera mungkin membahas RUU tentang Penanggulangan Bencana Alam. Saat ini kita sedang berlomba dengan waktu. Tapi kita tak perlu panik," kata dia. Geograf lainnya, Jones Sirait dari Yayasan Buana Katulistiwa, menyebut bahwa pemerintah pada saat ini sudah seharusnya berada dalam posisi emergency, dalam arti perlu langkah-langkah kesegeraan karena kita tidak ingin bertaruh untuk membiarkan jatuhnya banyak korban apabila bencana alam benar-benar terjadi kembali. "Kita tak boleh hanya panik. Lakukan sesuatu," kata dia. Dikatakan, ada dua langkah besar yang harus sekaligus dilakukan pada masa sekarang. Pertama, langkah-langkah dalam jangka pendek, misalnya mengantisipasi kemungkinan bencana alam dalam masa satu hingga tiga bulan ke depan. Kedua adalah langkah jangka panjang, misalnya menyangkut persoalan pembenahan manajemen penanganan bencana alam secara menyeluruh. "Kemungkinan prediksi bisa salah, tapi kemungkinan benarnya juga ada, sehingga kita tak bisa berpatokan hanya pada satu sisi. Yang terbaik adalah siapkan diri. Jadi saya sependapat dalam mengantisipasi kemungkinan jangka pendek ini, pemerintah perlu memetakan wilayah prioritas atau wilayah darurat yaitu di sepanjang Sumatera bagian Selatan dari Sumatera Barat ke bawah. Apa yang bisa dilakukan di sana, itu harus digarap segera." Untuk persiapan jangka panjang, ajak semua pihak untuk terlibat di dalam perencananaan penanganan bencana, jangan mereka hanya bisa mengajukan kritik tapi tak bisa memberikan solusi. Yang jelas, katanya, harus ada perubahan paradigma penanganan bencana dari yang sebelumnya hanya pada pasca bencana menjadi keseimbangan antara pra, pada saat dan pasca bencana. "Kita juga menginginkan sebuah organisasi yang fungsional dalam badan penanganan bencana, misalnya lebih berupa joint force dengan layer kedua yaitu institusi yang siap kerja 24 jam dalam kondisi emergency di berbagai daerah. Kita harus memiliki data jumlah peralatan/sumber daya, lokasi, contac person yang menunjukkan kekuatan riil yang bisa dikerahkan jika terjadi bencana," kata dia. Menurut dia, apa yang disampaikan pemerintah dengan membentuk Satgas Darurat beberapa hari lalu dengan melibatkan pemerintah daerah di dalamnya merupakan langkah yang bagus, namun harus segera digerakkan di daerah. "Segera bergerak, susun organisasinya, himpun kekuatan riil tadi, misalnya rumah sakit, pesawat, mobil ambulans dan paramedis, relawan, pesawat komunikasi, tim pemetaan dan ahli perencanaan, dan lainnya," tambah Jones Sirait sambil meminta kesadaran semua pihak bahwa perlunya kampanye kesadaran bersama mengatasi bencana dikumandangkan. Cemas Seperti diberitakan, Rabu (6/4) kemarin, ratusan warga yang bertempat tinggal di pesisir di Kota Bengkulu mengungsi menyusul adanya gempa bumi berkekuatan cukup besar, Rabu (6/4), sekitar pukul 18.20 WIB. Warga di Kelurahan Penurunan dan Pasar Pantai yang jaraknya hanya puluhan meter dari bibir pantai langsung keluar rumah dan berlari menuju tempat yang lebih tinggi. Beberapa warga mengaku ketakutan adanya gelombang tsunami, apalagi akhir-akhir ini diberitakan kalau daerah gempa kini bergeser ke wilayah Bengkulu. "Kita takut ada tsunami," kata Yulianto, salah seorang warga Kelurahan Penurunan Kota Bengkulu. Disisi lain, puluhan warga juga mendatangi kawasan wisata Pantai Panjang dan Tapak Padri untuk melihat perubahan air laut menyusul gempa bumi tersebut. Sementara itu dari Padang, Sumatera Barat, kekhawatiran akan munculnya gempa dan tsunami selain mendorong beberapa warga berusaha untuk menjual tanah dan rumah mereka, pada Rabu (6/4) kemarin, ribuan warga melakukan zikir dan doa bersama.
Zikir dan doa ini dilaksanakan di pelataran parkir Taman Budaya Sumbar, sekitar delapan meter dari pantai Padang, Jl Diponegoro. Acara doa dan zikir yang dipandu oleh Syekh Mustafa Mas'oed dari Ponpes Nurul Ulum, Jombang, Jawa Timur tersebut diwarnai tangisan warga. Sejak terjadi tsunami yang memporak-porandakan wilayah Aceh serta gempa yang mengguncang hampir seluruh wilayah Sumatera beberapa waktu lalu, kecemasan selalu menyelimuti hari-hari warga kota Padang. Kecemasan itu semakin menjadi-jadi karena banyaknya isu mengenai kemungkinan terjadinya gempa besar dan tsunami di kalangan warga.
Ahli Geologi Universitas Andalas Padang, Badrul Mustafa Kamal, memberikan pemahaman mengenai gempa dan tsunami kepada warga. Menurut Badrul, agar tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang tidak bertanggungjawab, warga sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan memadai tentang bencana alam tersebut. "Jadi, warga saya minta untuk tidak langsung panik begitu ada informasi terjadinya gelombang pasang di laut," kata Badrul Mustafa Kamal. Sedangkan salah seorang peserta zikir mengaku akan memindahkan keluarganya ke Jakarta. "Saya sengaja pulang ke Padang untuk menjemput ibu dan tiga adik saya. Kami akan berangkat ke Jakarta begitu urusan surat pindah sekolah adik saya selesai. Daripada terus menerus cemas, lebih baik kami pindah saja," ujar Herman Daswir,29 kepada Detikcom. Sebelum ini, para analis gempa menaruh perhatian besar pada gejala yang ditunjukkan oleh aktivitas gempa susulan pasca gempa utama berkekuatan 8,7 skala Richter di antara Pulau Nias dan Pulau Simeulue, Sumatera bagian Utara, yang bisa menyebabkan gempa terbesar di daerah ini. Sebuah analisis yang dikeluarkan oleh jurnal Nature, Kamis (31/3) menunjukkan bahwa kejadian gempa yang dipercaya menewaskan ratusan orang itu telah melepaskan lebih dari dua kali lipat energi yang dikeluarkan sebelumnya. Analisis ini kemudian menyebutkan, perkembangan ini bisa mendorong terjadinya gempa bumi terbesar kedua setelah kejadi gempa di Chili tahun 1960. Seth Stein dan Emile A Okal dari Universitas Northwestern mengungkapkan bahwa sebelum terjadinya gempa yang memunculkan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu, ditemukan aktivitas seismologi yang lebih rendah. Namun saat ini, ada peningkatan 2,5 kali lebih kuat dari sebelumnya, yang diperkirakan akan menghasilkan gempa berkekuatan 9,3 skala Richter. Dari Jakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sehari sebelum berita Nature juga memprediksi kemungkinan terjadinya gempa di sekitar Mentawai, bagian barat Sumatera, berkekuatan 9,0 skala Richter. Menurut Kepala Humas LIPI Murti Matoyo, gempa bumi 28 Maret lalu memang berpotensi menyebabkan gempa baru yang kemungkinan juga disertai oleh gelombang tsunami. Dikatakan, setiap gempa besar yang terjadi akan memberikan tekanan tambahan pada sumber gempa di sekitarnya. Ia menyebut, gempa besar Aceh yang terjadi 26 Desember 2004 memicu sumber gempa besar di sebelahnya selatannya, yaitu diantara Pulau Simeulue dan Pulau Nias, yang kejadiannya hanya berjarak tiga bulan dari gempa utama pertama. Bahkan, gempa Aceh 26 Desember 2004 menimbulkan efek ke Sumatera Barat, terlihat dari hasil analisis data jaringan satuan GPS permanent LIPI-Caltech, antara lain menunjukkan pergerakan gempa Aceh menunjuk Kepulauan Mentawai dan daerah pesisir Padang bergerak beberapa centimeter kea rah selatan dan timur. "Setelah gempa Nias kemungkinan memberikan tekanan tambahan terhadap sumber gempa besar di selatannya," katanya. Jika sumber gempa di bawah Kepulauan Mentawai yang menjadi sumber gempa tahun 1650 dan 1833 bergerak sekaligus, maka gempa yang dihasilkan dapat mencapai 9,0 skala Richter. "Gempa di bawah laut ini berpotensi untuk menghasilkan tsunami besar seperti pernah juga terjadi pada 1797 dan 1833. Ditambahkan pula, wilayah busur luar Sumatera merupakan wilayah yang saat ini perlu diwaspadai, terutama segmen zona tumbukan di Kepulauan Mentawai, sebab sumber gempa Mentawai ini adalah satu-satunya sumber gempa di wilayah barat Sumatera yang sudah matang dan belum pernah dilepaskan dalam abad ini. (bj) Powered by AkoComment! |