Depan arrow Topik arrow Politik arrow AS-Jepang Harus Hormati Kedaulatan Tiga Negara di Selat Malaka
AS-Jepang Harus Hormati Kedaulatan Tiga Negara di Selat Malaka Cetak E-mail
Jumat, 05 Agustus 2005
Buana Katulistiwa - Indonesia sangat memahami pentingnya Selat Malaka sebagai jalur pengangkutan kebutuhan minyak mentah AS dan Jepang, namun bukan berarti jalur sepanjang 500 mil itu harus diamankan dengan menggelar kekuatan militer kedua negara itu.

Ditegaskan Menhan Juwono Sudarsono, usai membuka Dialog Keamanan III antara RI dan AS (Indonesian-United State Security Dialogue-IUSSD), di Jakarta, Selasa (2/8), tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura mampu untuk mengamankan jalur itu.

"Indonesia, bersama Malaysia dan Singapura akan menjaga Selat Malaka melalui kerjasama patroli terkoordinasi (coordinated patrol) ketiga negara pantai," kata Juwono.

Bagaimanapun, lanjut Menhan, AS dan Jepang termasuk negara-negara lain harus menghargai kedaulatan tiga negara itu, sehingga bantuan apapun yang diberikan harus mencerminkan penghargaan tersebut.

Menurut dia, jika AS dan Jepang memang ingin membantu, maka sebaiknya mereka memberikan bantuan teknis seperti kapal patroli dan alat deteksi (surveillance system) yang mendukung tiga negara di Selat Malaka itu melakukan pengamanan.

"Jadi bukan gelar kekuatan militer," kata Juwono.

Selat Malaka dibatasi Pulau Rondo hingga Pukhet (Thailand) di sebelah utara dan di sebelah selatan dibatasi oleh Pulau Karimun hingga Tanjung Piai, dengan panjang seluruhnya mencapai sekitar 500 mil atau 926 kilometer.

Sejauh ini, desakan AS dan Jepang untuk menggelar kekuatan militer di Selat Malaka terus dilakukan. Beberapa waktu lalu, beberapa petinggi Deplu AS maupun Dephan AS menjambangi satu per satu negara di Selat Malaka, namun tiga negara masih tetap kompak menolak.

Sering pula terdengar mencuatnya berita mengenai perompakan dan penyelundupan senjata yang terjadi di sepanjang selat padat itu. Seorang petinggi Angkatan Laut Indonesia dalam suatu rapat kerja dengan Komisi I DPR pernah membeberkan bahwa para perompak itu sepertinya dipakai dari beberapa negara seperti Kanada, walau tidak dijelaskan siapa yang "memakai" mereka.

Pembahasan mengenai kelanjutan kerjasama patroli terkoordinasi antara Malaysia, Singapura dan Indonesia (Malsindo) untuk pengamanan Selat Malaka tengah dibahas dalam pertemuan tiga panglima angkatan bersenjata ketiga negara di Kuala Lumpur, Malaysia 1-2 Agustus 2005.

Menurut sebuah sumber, dalam pertemuan itu, delegasi Indonesia dipimpin oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto yang didampingi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Slamet Soebijanto dan Panglima Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda Tedjo Edhy. Pertemuan itu bertujuan mematangkan kembali kerjasama Malsindo yang telah berjalan selama satu tahun antara lain standart operational procedures (SOP) dan pembentukkan joint working committee yang akan mempertajam pelaksanaan operasi di lapangan antara aparat keamanan tiga negara.

Selain mematangkan konsep kerjasama Malsindo, pertemuan juga membahas keikutsertaan Thailand dalam kerjasama patroli terkoordinasi tersebut.

Thailand disertakan dilatarbelakangi makin maraknya aksi perompakan, penyelundupan senjata dan kejahatan laut lainnya di wilayah perairan negeri Gajah Putih itu di Selat Malaka. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com