Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow 12 Arahan Presiden Hadapi Bencana
12 Arahan Presiden Hadapi Bencana Cetak E-mail
Selasa, 12 April 2005

Buana Katulistiwa- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan sedikitnya 12 arahan kepada jajarannya menghadapi berbagai bencana, menyusul kejadian gempa Nias (28 Maret 2004) dan gempa Sumatera Barat (10 April).

Gempa terakhir ini berkekuatan 6,8 pada skala Righter menggoncang kota tersebut dan daerah setitarnya Minggu sore pukul 17:30 WIB diikuti gempa berkekuatan kecil lainnya.

Badan Meteorologi dan Geofisika Padang Panjang, mengatakan, pusat gempa berada sekitar 85 km lepas pantai Pariaman pada kedalam 35 km di bawah permukaan laut.

Sebelumnya, kalangan geograf sudah mengingatkan pemerintah agar segera menanggapi kegelisahan warga masyarakat pesisir barat Pulau Sumatera, dengan melakukan berbagai kesiapan jika sewaktu-waktu kejadian bencana muncul kembali dalam waktu dekat. (Baca: Pemerintah Harus Cepat Tanggapi Kegelisahan Warga Pesisir Sumatera)

Namun sejauh ini, belum ada aksi memadai yang dilakukan, kecuali bantahan-bantahan para pejabat yang mengatakan bahwa kegelisahan itu sendiri akibat rumors.

Berikut adalah 12 arahan Presiden, sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Sudi Silalahi usai memimpin rapat kabinet terbatas di Jakarta, Senin (11/4).

Pertama, mengintensifkan tanggap darurat dengan penanganan bantuan dan masalah-masalah lain yang terjadi di Pulau Nias pasca gempa tanggal 28 Maret 2005 lalu.

Kedua, supaya meningkatkan manajemen atau pengelolaan bantuan agar dapat lebih optimal di lapangan.

Ketiga, mengefektifkan peran hubungan masyarakat pemerintah agar tidak ada berita yang simpang siur atau SMS-SMS gelap tentang bencana susulan di Nias.

Keempat, mengefektifkan kerja pemerintah dalam penanganan kerja teknis.

Kelima, mencegah jangan sampai ada penyalahgunaan bantuan untuk para korban bencana.

Keenam, mengecek Bakornas PBP (Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi) untuk meneliti kembali jumlah korban, baik yang meninggal dunia, luka-luka, atau hilang.

Ketujuh, mengefektifkan penyebaran berita dini mengenai kemungkinan terjadinya bencana susulan.

Kedelapan, kepada Menko Kesra agar tetap siaga untuk membentuk satuan tugas atau task force (gugus tugas) yang terdiri atas  berbagai unsur antara lain, seperti Depsos, Depkes, Departemen PU, TNI/Polri, PLN, BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika), dan SAR. Diharapkan ada protap (prosedur tetap)  yang baku, sehingga ketika ada bencana, task force itu dapat bekerja efektif.

Kesembilan, kepada Menteri Perhubungan Hatta Radjasa, diminta supaya meningkatkan (upgrade) bandara-bandara di daerah yang dekat dengan wilayah bencana alam agar bantuan dapat cepat sampai melalui pengiriman udara.

Kesepuluh, kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto untuk meningkatkan kesiapsiagaan pesawat hercules dan helikopter untuk membantu penanggulangan bencana.

Kesebelas, kepada BMG diminta melakukan rapat terpadu dengan Badan Vulkanologi yang ada di Bandung untuk memantau kemungkinan gempat di berbagai daerah agar bisa memberikan informasi dini kepada masyarakat.

Kedua belas, kepada Menko Perekonomian Aburizal Bakrie dan Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulyani untuk tidak lupa mengecek kembali penanganan bencana di Alor (NTT) dan Nabire (Papua). (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com