Depan Artikel Berita Nasional Geografer: Perkuat Pelajaran Geografi untuk Antisipasi Bencana Alam
|
Geografer: Perkuat Pelajaran Geografi untuk Antisipasi Bencana Alam |
|
|
|
Minggu, 06 Pebruari 2005 |
|
Buana Katulistiwa-
Kalangan geografer menilai, pemerintah perlu memberikan perhatian yang
sungguh-sungguh bagi perkembangan geografi, sebagai bagian dari upaya
mengantisipasi dampak bencana alam melalui jalur pendidikan. Demikian pula
dalam pembangunan secara umum, perlu dikembangkan pendekatan geografis yang
memerlukan sentuhan para geografer.
Hal itu diungkapkan Pembantu Dekan IV FMIPA
Universitas Indonesia, yang juga staf pengajar Departemen Geografi
FMIPA Universitas Indonesia, Triarko Nurlambang, MA kepada pers di
Jakarta, pekan ini.
Menurut Arko, Jika dikaitkan dengan kejadian bencana
alam maka memang hanya mata pelajaran geografilah yang bisa menjelaskan
secara komprehensif; mulai dari pemahaman kejadian alam dan menjadi
bencana alam sampai bagaimana dampak bencana serta kemungkinan upaya
penyelamatan serta recovery-nya.
Ilmu geografi belajar secara komprehensif untuk
segala fenomena di suatu bagian wilayah maka seyogyanya mampu lebih
mudah untuk mengidentifikasi skala bencana yang terjadi baik dari
dimensi fisik, sosial maupun politis sekalipun. Hasil identifikasi ini
dapat dijabarkan secara sederhana (makro) sampai dengan rinci (untuk
kepentingan penanganan teknis).
Ilmu geografi ini dapat dimanfaatkan pula untuk
penanganan sistem pengendalian (manajemen sumberdaya dan keuangan)
dalam manajemen mitigasi dan disaster plus juga pengelolaan pada masa
recovery. Instrumen Sistem Informasi Geografis yang berbasis dijital
akan lebih memudahkan penanganan hal-hal di atas, mulai dari
disaster/hazard data mining sampai dengan untuk proses pengambilan
keputusan serta sistem pengendalian tadi.
“Tambahan materi ini dapat dikembangkan dalam bentuk
participative learning process agar lebih menarik dengan sumulasi
terhadap alam sekitarnya secara visual melalui misalnya fasilitas
Sistem Informasi Geografis atau bahan-bahan ajar yang lebih sederhana
diikuti ekskursi lapangan,” kata Arko.
Seperti diberitakan, Depdiknas belum lama ini
menyebut bahwa pemerintah akan membuat kurikulum bencana alam untuk
sekolah-sekolah agar besarnya jumlah korban dalam setiap kali bencana
dapat diatasi.
Namun begitu, menurut Arko, merancang sebuah
kurikulum yang terbaik memang bukan pekerjaan yang mudah. Membuat
kurikulum adalah merancang mesin masa depan (the future machine).
Kenapa demikian? Kata Arko, karena konsep kurikulum itu sendiri sudah
merupakan konsep proses pendidikan untuk menghasilkan peserta didik
dimasa depan.
“Jadi keliru bagi saya jika kelompok perancang
kurikulum lebih banyak mengacu pada segala bahan-bahan masa yang lalu
dan sudah tidak relevan dengan kebutuhan masa depan. Paling tidak jika
kita merancang kurikulum untuk anak SMA dari kelas 1 sd 3 maka kita
(para perancang kurikulm) setidak-tidaknya sudah harus mampu
membayangkan apa yang akan terjadi 3 tahun mendatang. Apakah hasil
didiknya nanti mampu mengantisipasi kondisi 3 tahun mendatang?” tanya
dia. Demikian juga untuk perguruan tingi, para perancang kurikulm haruslah
yang memiliki visi (sebagai seorang yang visioner) paling sedikit
kondisi yang mungkin terjadi 5-6 tahun kedepan. Jangan sampai para
lulusan menjadi 'bengong' ketika lulus karena ternyata ilmu pengetahuan
yang diperoleh sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan riil saat ia
kemudian telah lulus.
“Dengan demikian saya setuju untuk dilakukan perbaikan kurikulum oleh
IGI atau siapa saja dan bahkan kita harus terus menerus mengikuti
perubahan/ perkembangan yang ada yang menurut saya cenderung membentuk
siklus perubahan yang semakin pendek jangka waktunya dan banyak inovasi
yang merubah tataran yang ada.”
Muatan Lokal
Diingatkan Triarko Nurlambang, saat melakukan
tinjauan kurikulum yang ada maka bagi yang paling baik untuk saat ini
tetap mempertahankan dasar-dasar pengetahuannya tetapi pengembangan
muatan lokal (local content) harus ada agar para siswa sebagai bagian penting dalam masyarakat di wilayah tersebut mampu
mengenali dan memahami situasi setempat, tidak hanya fisik tetapi juga
sosial/budaya/ekonomi.
Ada otokritik yang dia ajukan seorang akademisi,
yaitu bahwa apa yang disusun sebagai kurikulum selama ini membuktikan
bahwa kita masih lemah dalam memasukan unsure lokal dalam kurikulum
kita. Kita masih terpaku pada rancangan mengacu pada “ide impor”. Umumnya para perancang kurikulum memang lebih
merasa hasilnya baik jika telah sekedar mengikuti pola pendidikan di
'luar negeri'.
Contoh bencana di Aceh merupakan bukti bahwa karena
pengetahuan masyarakat yang kurang akan kondisi alam di sekitarnya
(Indonesia adalah daerah gempa dan segala akibat gempa termasuk
tsunami). Kelemahan kurikulum ini juga bukan hanya masalah isi tetapi
juga pada metode. Khusus untuk metode ini, apa yang terjadi di
Indonesia mulai dari pendidikan dasar sampai menengah cenderung bukan
membentuk siswa yang mampu berpikir kritis apalagi partisipatif.
“Kita dididik di sekolah untuk mendengar dan
menghafal/melatih lalu menjawab serta akhir memperoleh sekolah. Konsep
metode ini pada akhirnya hanya akan menghasilkan kaum pekerja dari pada
kaum pemimpin. Seperti contoh kejadian bencana, terlihat jelas bahwa
masyarakat (sebagian besar) ternyata tidak paham bahwa gejala ini apa
dan harus bagaimana mengantisipasinya.”
Sekali lagi ini bukti bahwa pengetahuan dan sikap
yang terbentuk selama proses pendidikan 12 tahun (pendidikan dasar dan
menengah) ternyata tidak menciptakan manusia berkualitas mampu
berkarakater pemimpin yang kritis sehingga bertindak tepat. Memang
proses pendidikan tidak hanya satu-satunya aspek yang menentukan
karakter dan kualitas masyarakat.
“Dengan demikian saya setuju untuk merevisi ulang
kurikulum yang ada sekarang tapi usul saya yang utama untuk memberikan
pengetahuan mendasar dan filosofi pembuatan kurikulum bagi para
perancang dan pengambil keputusan. Paling tidak mereka harus mampu
memahami kondisi Indonesia dan lokal,” kata Arko.
Artinya ada perancang kurikulum untuk lokal dan
tentunya perlu diketahui bahwa yang memahami situasi lokal adalah
mereka yang telah hidup lama dan memahami situasi lokal yang
bersangkutan.
Secara kelembagaan dan fungsi dinamakan mekanisme
desentraliasai dalam mengembangkan kurikulum ini. Untungnya panitia
kurikulum nasional sudah ditiadakan, yang menurut dia hasilnya hanya
membuat 'penjara' bagi peningkatan kapasitas kreatif penyelenggara
pendidikan formal dan mematikan untuk pertumbuhan kearifan lokal. (bj)
Powered by AkoComment! |
|
|
|
|
|