|
Buana Katulistiwa - Kalangan pakar menilai pembangunan pendidikan di Indonesia tidak membangun jiwa nasionalisme bangsa, sehingga generasi muda tidak lagi memiliki patriotisme bangsa dan terkoyak oleh pengaruh globalisasi.
Pendapat itu disampaikan Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta Prof Dr Djohar MS pada Sarasehan 60 Tahun Kemerdekaan Indonesia, yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) di auditorium Magister Administrasi Publik (MAP) UGM Yogyakarta, Sabtu (27/8).
Hadir dalam sarasehan ini para rektor berbagai perguruan tinggi di Pulau Jawa, kalangan dunia usaha, dan mantan pejabat militer dan sipil. Pertemuan ini kemudian menghasilkan “Manifesto Yogyakarta” yang dibacakan Rektor UGM Prof Dr Sofian Effendi.
Prof Djohar mengatakan, pendidikan harus diarahkan untuk membangun bangsa Indonesia berbasis sosial budaya sendiri, sehingga dapat mewujudkan masyarakat bangsa yang khas Indonesia yang damai dan berkembang atas hati nurani bangsa sendiri.
Pendidikan kita, lanjut dia, harus kontekstual dengan kepentingan pembangunan bangsa, serta untuk membangun moral dan budaya bangsa. Kita harus membangun tatanan kehidupan bangsa.
Dengan demikian, Indonesia memiliki kepribadian dalam budaya sendiri, meskipun tidak meninggalkan percaturan dengan bangsa lain.
Dia juga mengingatkan, penegakan Bhinneka Tunggal Ika melalui pembangunan pendidikan yang mengembangkan cinta tanah air, tebalnya rasa kebangsaan, tumbuhnya jatidiri bangsa dan harga diri bangsa perlu dikembangkan.
Sementara itu, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr MT Zen berpandangan, sebagai bangsa, pada saat ini Indonesia memang tidak punya apa-apa lagi, karena korupsi dan salah urus. Karena itu, tidak punya pilihan lain kecuali harus melakukan gerakan penyelamatan bangsa secara drastis.
Dikatakan pakar geologi ini, RI yang berada di benua maritim yang luas dikelola secara holistik, sistemik, terpadu dengan pimpinan nasional yang visioner, tegas, jujur, dan adil dengan sistem pemerintahan yang sesuai.
Pandangan visioner itu memetakan jalan menuju kondisi akhir berdasarkan apa yang dimiliki, kondisi sekarang, dan garis besar gambaran masa datang. “Ini sangat penting, misalnya menargetkan Indonesia menjadi gudang pangan dunia, paru-paru dunia, atau pusat wisata dunia,” katanya.
Ia mengatakan benua maritim Indonesia merupakan sorga bagi ilmu kebumian, biologi, botani, ekologi, kelautan dan ilmu atmosferik.
Selain itu, benua maritim Indonesia sangat unik bagi ilmu pertahanan karena struktur dan letaknya yang tidak ada duanya di dunia. Jadi, ilmu pertahanannya harus diciptakan oleh putera Indonesia.
Indonesi tidak dapat meniru atau belajar dari siapapun. Seni pertahanan itu harus dikembangkan sendiri dengan memadukan matra dirgantara-udara-darat-laut-bawah laut.
“Manifesto Yogyakarta” yang dibacakan Prof Sofian Efendi berisi tiga butir pernyataan: Pertama, sesungguhnya negara kebangsaan Indonesia berada dalam keadaan kritis secara sosial, politik, ekonomi dan budaya. Kedua, penyelamatan masa depan bangsa dan negara sebagai fitrah kemanusiaan harus dilakukan secara bersama oleh seluruh rakyat. Ketiga, tanggung jawab dan kepedulian sosial terhadap nasib bangsa dan negara menjadi kewajiban yang inheren dari kaum intelektual, masyarakat kampus, dan semua masyarakat yang terpanggil untuk misi suci tersebut. (kl/bj) Powered by AkoComment! |