
Pintu masuk museum dalam Gedung
Arsip Nasional itu pun ditambahkan bingkai kuning berukuran lebih
besar. Atmosfir National Geographic amat terasa pada jalan menuju
pameran foto bawah laut yang bertajuk Deep Sea Photo Exebition by Emory
Kristof.
Pameran yang diadakan oleh Majalah National Geographic
Indonesia dan Kompas ini merupakan salah satu rangkaian peluncuran
majalah tersebut tanggal 25 Februari 2005 untuk edisi Maret 2005.
Pameran ini dibuka pada hari Selasa tanggal 25 Desember 2005 dan
berakhir pada tanggal 28 Januari 2005.
Pameran ini menampilkan sedikitnya 40 karya foto
kehidupan di bawah air yang direkam menggunakan kamera digital
berkualitas tinggi dan banyak mendapat penghargaan atas karya-karya
tersebut. Foto yang ditampilkan didominasi oleh ekosistem bawah air dan
beberapa hasil ekspedisi Emory Kristof di situs bangkai kapal di
beberapa bagian dunia.
Karya terbaik yang ditampilkan diantaranya dua foto hasil jepretan kamera dalam wahana
remotely operated vehicles
(ROVs) di bangkai Titanic yang merupakan foto pertama yang berhasil
memotret kapal pesiar terkenal itu pada kedalaman 3800 di bawah air.
Ada juga foto bangkai kapal dagang Spanyol abad ke-16 yang karam di
Filipina, dimana ia sendiri yang memimpin ekspedisi penyelaman
tersebut. Sementara ekosistem yang ditampilkan diantaranya kondisi di
saluran air panas bawah laut dan tampilan close up dari plankton yang
terekam amat tajam.
Sayangnya pameran ini kurang mendapat perhatian masyarakat, hal ini
dapat dilihat dari minimnya jumlah pengunjung yang datang, pada hari
pertama setelah pembukaan saja sampai pukul 13.30 WIB pengunjung yang
terdaftar sebanyak 38 orang, yang sebagian besar berasal dari media
peliput dan tamu undangan.
Selain itu, penampilan foto yang ditampilkan berbeda
dengan pameran foto pada umumnya. “Biasanya kalo pameran foto yang
ditampilkan itu, selain judul foto, cerita foto, yang utama adalah
teknik pengambilan foto, seperti tipe kamera, bukaan diafragma,
pencahayaan, rana, gitu-gitu deh,” ujar Maureen, salah satu pengunjung
yang antusias terhadap penyelenggaraan pameran ini, namun tampak kecewa
dengan tampilan dalam ruang pameran, “Nggak sebanding dengan nuansa di
pintu masuk tadi” katanya lagi.
Foto-foto yang ditampilkan pada pameran ini memang tidak
mencantumkan judul foto, dan juga tidak menampilkan teknis pengambilan
gambar, sehingga tampak hanya seperti album foto biasa.
Ketika penjaga stand National Geographic Indonesia yang
ditemui di pintu masuk sendiri tidak banyak mengetahui tentang pameran
tersebut, bahkan ditanya tentang jumlah foto yang ditampilkan dalam
pameran tersebut, dara manis resepsionis tersebut tidak mengetahuinya
dan lebih terfokus pada penawaran berlangganan majalah terkemuka
tersebut. (
nh)