Depan arrow Topik arrow Pendidikan arrow Kunci Sukses Pendidikan Lingkungan: Sederhana, Lugas, Aplikatif
Kunci Sukses Pendidikan Lingkungan: Sederhana, Lugas, Aplikatif Cetak E-mail
Rabu, 02 Pebruari 2005
Buana Katulistiwa - Pendidikan lingkungan tidak selalu membutuhkan ahli atau pakar yang mengulas dalam berlembar-lembar kertas tentang metode penyelamatan lingkungan berserta hasil analisisnya. Yang lebih dibutuhkan masyarakat adalah metode penyelamatan yang sederhana dengan bahasa yang mudah dimengerti dan mudah diterapkan dalam hidup sehari-hari.

    Contoh sederhana, banyak keluarga muda di kota besar yang notabene memiliki rumah pas-pasan (tipe 21 atau 36 atau bahkan lebih kecil dari itu) ingin memberdayaan secara optimal tanah minimal yang dimilikinya dalam memenuhi kebutuhan ruang secara maksimal. Selain membangun di hampir seluruh luas tanah, tetap saja ada beberapa yang menginginkan green spot (taman mini) di rumah mereka.

    Salah satu cara membangun rumah berwawasan lingkungan dengan mengganti material bangunan. Untuk garasi atau halaman di depan rumah, tidak harus disemen (diplester istilah sehari-harinya), tetapi cukup dengan menggunakan konblok. Konblok bisa lebih menyerap air dibanding semen sehingga air yang jatuh diatasnya terserap ke dalam tanah. Air cucucan atap yang terbuang sia-sia juga diminimalkan dengan cara membuat tanaman gantung atau pot-pot kecil memanjang tepat dibawah turunnya air dari atap.

    Inti pendidikan lingkungan diatas adalah bagaimana mengurangi aliran runoff (aliran air di permukaan tanah) dan menggantinya menjadi air tanah. Sepertinya sepele, tetapi coba bayangkan berapa liter kubik air hujan yang terbuang sia-sia jika kita tidak memberikan ?kesempatan? bagi air untuk masuk ke dalam tanah. Aliran runoff yang besar bisa menjadi penyebab erosi dan banjir. Air hujan yang masuk ke dalam tanah dapat dijadikan menjadi sumber air bersih di kemudian hari.

    Tidak selalu pendidikan lingkungan hanya digembar gemborkan di masyarakat perkotaan. Masyarakat pertanian di desa juga membutuhkan pendidikan lingkungan sama seperti masyarakat kota. Salah satu contoh pendidikan lingkungan bagi masyakarat pedesaan adalah penanaman kembali. Banyak pohon ditebang untuk keperluan pembangunan atau sekedar untuk kayu bakar. Penghijauan semata-mata diserahkan kepada alam.

    Pohon memang akan tumbuh dengan alami, tetapi membutuhkan waktu yang lama. Jika semua orang berpikiran demikian, dapat dipastikan beberapa tahun ke depan pohon-pohon di Indonesia akan habis ditebang. Untuk mencegah kerusakan lingkungan, campur tangan manusia dengan salah satu cara penanaman kembali daerah-daerah yang gundul dan mengganti pohon yang ditebang dengan menanam pohon baru.

    Inti pendidikan lingkungan ini mencegah desertifikasi (penggurunan). Terdapat indikasi meluasnya penggurunan di dunia akibat penebangan pohon dan penggundulan hutan.

    Banyak lagi contoh-contoh pendidikan lingkungan yang dapat diterapkan di masyarakat. Penghijauan di sepanjang bantaran kali, pengelolaan sampah, irigasi persawahan, dan penambangan rakyat perlu sosialisasi pendidikan lingkungan. Lebih baik penyampaiannya juga mudah, dengan kartun, poster komedi rakyat, menggunakan bahasa setempat dan jangan terlalu akademis. Yang penting sederhana dan tepat sasaran. (gn)
Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com