|
Buana Katulistiwa – Saat pertama kali diumumkan di Jurnal
Ilmiah Nature, Homo Floresiensis atau Manusia Flores, diragukan kebenarannya dan
dianggap sebagai fosil manusia yang menderita penyakit kelainan otak.
Hal tersebut diungkapkan oleh tim penemu Homo
Floresiensis dalam presentasi temuan mereka di Gedung Arsip Nasional
Jakarta, Sabtu (2/4). Banyak pendapat
mengatakan salah bila menganggap Manusia Flores
itu kerdil, karena ada kemungkinan tengkorak yang ditemukan kebetulan
milik
penderita microcephalic dwarves. Microcephalic
dwarves merupakan penyakit yang menyebabkan pergeseran --bahkan
kehilangan-- otak bagian depan, sehingga ukuran tengkorak menjadi kecil.
Namun, fosil yang ditemukan sama sekali tidak menunjukan
kelainan dalam bentuk tengkoraknya. “Kami
sendiri awalnya mengira ini fosil anak-anak” ungkap salah seorang arkeolog yang
ikut dalam penggalian Manusia Flores di Liang Bua, Flores.
“Namun, setelah diteliti, tanda-tanda menunjukan bahwa ini adalah fosil orang
dewasa dan tidak sakit” jelasnya.
Untuk meyakinkan, saat ini sedang diusahakan untuk
pengecekan DNA oleh tim dari Indonesia
berkerjasama dengan tim Jerman dan National Geographic Society.
Manusia Flores kini sering disebut Hobbit, karakter dalam cerita Lord
Of The Ring, karena kekerdilannya dan hidup dalam goa. Ditemukan pula
alat-alat berburu dan perapian, yang menunjukan mereka telah mengenal api.
“Diserbu” Pengunjung
Presentasi yang hanya berlangsung satu hari itu cukup menarik
perhatian masyarakat. Ratusan anak-anak, remaja dan dewasa memenuhi ruang
pameran dan ruang presentasi.
Acara dimulai pukul 13.00 dengan pemutaran film dan
dilanjutkan presentasi dari tim penemu dari Indonesia. Ruangan di
lantai 2 gedung utama yang digunakan, tidak sebanding dengan jumlah
pengunjung. Panitia penyelenggara terpaksa membatasi
pengunjung yang masuk, dan mempersilahkan masuk bila ada pengunjung
yang keluar.
Pengunjung yang datang tidak hanya dari kalangan
akademik, masyarakat awam yang tertarik dengan penemuan tersebut juga
hadir. Tia, seorang mahasiswi yang hadir, mengatakan, ia datang karena
tertarik dengan penemuan ini.”Penasaran aja ama penemuannya” jawabnya
ketika
ditanya alasan datang. “Ikut bangga kalo Indonesia dikenal karena ilmu
pengetahuannya” tambahnya semangat.
Acara yang termasuk dalam rangkaian kegiatan
peluncuran
majalah National Geographic Indonesia ini, secara resmi dibuka SBY hari
Senin (28/3).
Selama seminggu, dipamerkan fosil hasil temuan, gambar-gambar dalam NGI
edisi
perdana dan foto-foto dasar laut karya Emory Kristof.
Selain itu, di
halaman Gedung Arsip Nasional berdiri tegak kotak persegi pajang berwarna
kuning, yang merupakan trade mark dari National Geographic.(dp) Powered by AkoComment! |