Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow Awalnya, Kebenaran ?Homo Floresiensis? Diragukan
Awalnya, Kebenaran ?Homo Floresiensis? Diragukan Cetak E-mail
Senin, 04 April 2005

Manusia FloresBuana Katulistiwa – Saat pertama kali diumumkan di Jurnal Ilmiah Nature, Homo Floresiensis atau Manusia Flores, diragukan kebenarannya dan dianggap sebagai fosil manusia yang menderita penyakit kelainan otak.

Hal tersebut diungkapkan oleh tim penemu Homo Floresiensis dalam presentasi temuan mereka di Gedung Arsip Nasional Jakarta, Sabtu (2/4). Banyak pendapat mengatakan salah bila menganggap Manusia Flores itu kerdil, karena ada kemungkinan tengkorak yang ditemukan kebetulan milik penderita microcephalic dwarves. Microcephalic dwarves merupakan penyakit yang menyebabkan pergeseran --bahkan kehilangan-- otak bagian depan, sehingga ukuran tengkorak menjadi kecil.

Namun, fosil yang ditemukan sama sekali tidak menunjukan kelainan dalam bentuk tengkoraknya.  “Kami sendiri awalnya mengira ini fosil anak-anak” ungkap salah seorang arkeolog yang ikut dalam penggalian Manusia Flores di Liang Bua, Flores. “Namun, setelah diteliti, tanda-tanda menunjukan bahwa ini adalah fosil orang dewasa dan tidak sakit” jelasnya.

Untuk meyakinkan, saat ini sedang diusahakan untuk pengecekan DNA oleh tim dari Indonesia berkerjasama dengan tim Jerman dan National Geographic Society.

Manusia Flores kini sering disebut Hobbit, karakter dalam cerita Lord Of The Ring, karena kekerdilannya dan hidup dalam goa. Ditemukan pula alat-alat berburu dan perapian, yang menunjukan mereka telah mengenal api.

“Diserbu” Pengunjung

antrian pengunjungPresentasi yang hanya berlangsung satu hari itu cukup menarik perhatian masyarakat. Ratusan anak-anak, remaja dan dewasa memenuhi ruang pameran dan ruang presentasi.

Acara dimulai pukul 13.00 dengan pemutaran film dan dilanjutkan presentasi dari tim penemu dari Indonesia. Ruangan di lantai 2 gedung utama yang digunakan, tidak sebanding dengan jumlah pengunjung. Panitia penyelenggara terpaksa membatasi pengunjung yang masuk, dan mempersilahkan masuk bila ada pengunjung yang keluar.

ruangan penuhPengunjung yang datang tidak hanya dari kalangan akademik, masyarakat awam yang tertarik dengan penemuan tersebut juga hadir. Tia, seorang mahasiswi yang hadir, mengatakan, ia datang karena tertarik dengan penemuan ini.”Penasaran aja ama penemuannya” jawabnya ketika ditanya alasan datang. “Ikut bangga kalo Indonesia dikenal karena ilmu pengetahuannya” tambahnya semangat.

trade markAcara yang termasuk dalam rangkaian kegiatan peluncuran majalah National Geographic Indonesia ini, secara resmi dibuka SBY hari Senin (28/3). Selama seminggu, dipamerkan fosil hasil temuan, gambar-gambar dalam NGI edisi perdana dan foto-foto dasar laut karya Emory Kristof.

Selain itu, di halaman Gedung Arsip Nasional berdiri tegak kotak persegi pajang berwarna kuning, yang merupakan trade mark dari National Geographic.(dp)

 

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com