Depan arrow Topik arrow Kesehatan arrow Setelah Vaksinasi Polio, Apa Berikutnya?
Setelah Vaksinasi Polio, Apa Berikutnya? Cetak E-mail
Kamis, 02 Juni 2005
PolioBuana Katulistiwa - Pekan Imunisasi Nasional (PIN) putaran I telah dicanangkan di Bandung, Jawa Barat, Selasa (31/5) lalu. Sebanyak 6,4 juta balita di tingkat provinsi yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten akan diimunisasi hingga putaran II pada 28 Juni 2005. Yaman, Somalia dan Djibouti juga melakukan hal yang sama. Apa berikutnya?

Pada saat mencanangkan PIN putaran I di Bandung, pekan ini, Menkes Siti Fadilah Supari mengatakan, pelaksanaan PIN di ketiga provinsi ini didukung sekitar 150.000 petugas dari jajaran kesehatan PKK, Posyandu dan LSM, serta biaya mencapai Rp38 miliar berasal APBN dan bantuan WHO (Organisasi Kesehatan Sedunia) dan Unicef.

Dan, dari pengamatan sementara pada hari pertama itu, Menkes mengaku puas dengan menyebut bahwa sejauh ini pelaksanaan PIN berjalan lancar dan tidak ditemukan efek samping dalam pemberian dua tetes vaksin polio ke mulut balita.

"Hampir seluruh wilayah kabupaten/kota di Jabar, DKI dan Banten telah melaksanakan PIN Polio dengan memberikan dua tetes kepada para balita, sehingga para balita memiliki kekebalan tubuh dan terhindar dari penularan virus polio liar," kata Menkes.

Bahkan, dengan perkembangan yang ada ini, pemerintah membuat target Indonesia bebas polio tahun 2008.

Keharusan balita mendapatkan imunisasi Polio pada 31 Mei dan 28 Juni 2005 di tiga propinsi tersebut karena telah ditemukan pada 14 balita di Sukabumi, Bogor dan Kabupaten Lebak (Banten) tertular virus polio liar sehingga mereka menderita lumpuh.

Menurut Menkes, ke-14 balita yang tertular virus polio liar itu diduga berasal dari warga sekitar yang bepergian ke luar negeri sebelumnya karena belum diberikan imunisasi polio. Balita ini diduga tertular berasal dari warga sekitar yang sering bepergian ke luar negeri karena di Arab Saudi ditemukan lima anak di Nigeria dan satu anak dari Sudan menderita lumpuh akibat virus polio liar.

Dari Yaman dilaporkan, jumlah kasus yang sudah dikonfirmasikan di Yaman telah mencapai 179 kasus, termasuk 71 kasus baru dalam waktu kurang dari seminggu, tapi pencanangan vaksinasi sudah dilakukan pekan lalu dan diharapkan mampu mencegah persebaran polio di bawah kontrol, kata pejabat kesehatan PBB.

Dr David Heyman, kepala polio WHO seperti dikutip AP, Selasa (31/5) mengatakan, bahwa WHO sudah mengantisipasi bilamana terjadi peningkatan kasus. "Kami sudah mengantisipasi kemungkinan peningkatan jumlah kasus, jadi ini (jumlah kasus baru-Red) bukan sebuah kejutan," katanya.

WHO menyebut Yaman merupakan negara epidemik Rabu pekan lalu, ketika mereka mengatakan jumlah kasus polio telah meningkat menjadi 108 kasus, dan berdasarkan penyelidikan ada ratusan lain yang menjadi suspected.

"Ini merupakan epidemik utama, tapi dengan vaksin monovalik ini akan dapat dikontrol dalam waktu yang pendek," kata Heyman.

Dia mengatakan, imunisasi akan lebih efektif untuk mencegah merebaknya kasus baru dengan penggunaan vaksin yang efektif.

Vaksin lama dirancang untuk melawan satu dari tiga jenis polio yang ada, tapi kurang efektif untuk melawan virus Type I yang saat ini ada di Yaman, kata Heyman. Vaksin "monovalik" baru dirancang secara khusus untuk polio Type I dan dapat diimunisasikan hingga ke 20 persen lebih anak-anak setelah dosis tunggal, dan meningkat 100 persen setelah vaksinasi ulang.

Polio Type I menyebar lebih mudah dan lebih mudah tersebar daripada varian Type II atau Type III, tapi juga lebih mudah untuk dideteksi. Tidak ada kasus baru Type II sejak kesuksesan eradikasi pada tahun 1999, sedangkan untuk Type III ditemukan telah berkembang.

Yaman merupakan satu dari 16 negara yang sudah bebas polio yang kemudian dilaporkan memiliki kasus baru sejak 2003 setelah boikot vaksinasi di Nigeria, yang dipersalahkan sebagai penyebab tersebarnya penyakit ini ke negara-negara lain.

Kelompok Muslim garis keras di Nigeria bagian utara memimpin boikot imunisasi, dengan tuduhan bahwa vaksin polio merupakan bagian dari rencana Amerika Serikat untuk memandulkan orang-orang Muslim Nigeria atau upaya untuk menularkan AIDS kepada mereka. Program vaksinasi kembali dimulai di Nigeria pada bulan Juli 2004 setelah pejabat daerah mengakhiri boikot yang berlangsung selama 11 bulan.

Tahun lalu, 1.267 orang telah terinfeksi virus polio di seluruh dunia ? 792 diantaranya di Nigeria. Total kasus baru pada tahun 2005 adalah 326 kasus, sesuai dengan data WHO, dengan Yaman sebagai negara paling terinfeksi.

Langkah-langkah ini ditempuh untuk meyakinkan bahwa negara-negara tetangga yang masih dipercaya bebas polio tidak terinfeksi oleh perkembangan yang terjadi di Yaman.

"Mereka mulai intensif melakukan vaksinasi di perbatasan Oman, yang merupakan daerah bebas polio," kata Heyman. "Di Somalia dan Djibouti, juga sama, vaksinasi sedang bekerja."

Polio berasal dari air kotor dan biasanya menginfeksi balita, dengan menyerang nervous system dan menyebabkan paralisis, muscular atrophy, deformasi dan kadang kematian.

Ketika WHO mengumumkan kampanye anti-polio pada 1988, kasus di seluruh dunia mencapai jumlah 350.000 setiap tahun. WHO percaya eradikasi dari penyebaran global terjadi pada akhir tahun 2005.

Setelah itu, mungkinkah vaksin polio takkan dibutuhkan lagi? Atau akan ditemukan lagi jenis virus polio baru? (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com