|
Buana Katulistiwa - Kemampuan sumber daya manusia (SDM) dan peralatan dalam laboratorium khususnya untuk meneliti virus, memiliki kemampuan yang sama dengan yang ada di luar negeri. Hanya saja sering terbentur pada akreditasi internasional, seperti WHO.
Pengakuan itu disampaikan Wapres Jusuf Kalla, Mentan Anton Apriantono dan Rektor UI Usman Chatib Warsa saat melihat langsung laboratorium virus yang dimiliki UI, di Salemba, Jakarta, Minggu (23/10). Ikut dalam peninjauan ini Menristek Kasmayanto Kadiman dan para pejabat Depkes RI.
“Kita mampu, masalahnya hanya akreditasi,” kata Wapres, seraya berharap Kemampuan UI dalam melakukan penelitian di bidang virus harus ditingkatkan, karena selama ini setiap terjadi persoalan yang berhubungan dengan virus seperti SARS atau flu burung acuannya selalu ke luar negeri.
“Saya percaya UI dapat dan sanggup melakukan itu semua,” kata Wapres.
Anton mempersoalkan peraturan yang mengharuskan penelitian lanjutan harus dilakukan ke lab-lab yang telah ditentukan dan diakreditasi oleh WHO yang ada di luar negeri, seperti ke Hongkong. “Kita harus mengupayakan lab kita memperoleh akreditasi,” katanya.
Namun begitu, untuk penelitian virus lebih lanjut, lab yang dimiliki UI perlu ditingkatkan menjadi laboratorium Biocity Saving Lab tingkat III (BSL 3). Hal ini, katanya, sedang diusahakan bersama-sama oleh Deptan dan Depkes, sebab laboratorium tingkat itu belum ada di Indonesia.
Sementara Rektor UI Usman Chatib Warsa mengatakan, laboratorium yang dimiliki UI ini telah dipersiapkan sejak satu tahun lalu, dengan pengadaan peralatan hingga saat ini telah menelan biaya sebesar 3 juta dolar AS. Untuk penambahan peralatan laboratorium tingkat III (BSL-3) masih dibutuhkan lagi sekitar US 150 ribu dolar AS.
Pihak UI memperoleh dana pembangunan lab ini berasal dari swadaya masyarakat dan UI sendiri.(bj) Powered by AkoComment! |