Depan arrow Topik arrow Kesehatan arrow Peta Bisa Menghentikan Wabah Penyakit
Peta Bisa Menghentikan Wabah Penyakit Cetak E-mail
Berita Nasional
Senin, 22 November 2004
Buana Katulistiwa- Merebaknya wabah demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia beberapa tahun belakangan ini, membuat kalangan pengambil kebijakan di negeri ini pusing tujuh keliling. Maklum saja, tidak sedikit korban yang berjatuhan, bahkan telah menyerang wilayah yang luas, seperti DKI Jakarta, Sumatera Utara, Riau, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan lainnya.

Adakah pengaruh musim terhadap serangan wabah penyakit ini? Adakah metoda lain yang mampu memperkecil persebaran penyakit ini, termasuk dalam jangka panjang? Bagaimana kepentingan medical geography (geografi kesehatan) dalam menjelaskan masalah ini? Begitu beberapa pertanyaan yang diajukan sejumlah pakar maupun pemerhati kesehatan.

    Ketua Program Studi Magister Kedokteran Tropis Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Dr dr Syahril Pasaribu, DTMH, M.Sc (CTM) dalam orasi ilmiah pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Tetap USU, akhir tahun lalu, menemukan bahwa penderita penyakit ini cenderung mengalami peningkatan antara bulan September hingga November, dengan mencapai puncaknya antara bulan Maret hingga Mei.

    Walau begitu, dia tetap ragu-ragu untuk menarik kesimpulan adanya korelasi antara musim dengan merebaknya penyakit tersebut. "Pengaruh musim terhadap demam berdarah masih belum begitu jelas," kata dia.

    Wabah DBD sendiri pertama kali dicatat terjadi di Australia tahun 1897, dan gejala yang sama ditemukan di Yunani tahun 1928 dan Taiwan tahun 1931.
Di Asia Tenggara, epidemi DBD pertama sekali dicatat di Filipina tahun 1953 -1954 dan sejak itu DBD dengan kematian yang nyata terjadi di negara-negara Asteng lain, seperti di Singapura, Kamboja, China, Vietnam, Laos, Malaysia, Indonesia, dan Kaledonia Baru.

    Berdasarkan hasil penelitian, wabah DBD cenderung meningkat setiap tahun di Asteng selama kurun waktu 20 tahun terakhir ini.

    Syahril yang juga angota Kelompok Kerja (Pokja) DBD Depkes RI juga mengatakan bahwa sebanyak 2,5 miliar hingga tiga miliar penduduk dunia diperkirakan mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD, terutama mereka yang hidup di daerah perkotaan di negara tropis dan subtropis.

Manfaat Peta
    Kepentingan geografi dalam ikut mengambil kebijakan dalam mengatasi penyakit endemis, ternyata tak hanya berkait dengan kemampuannya mengurai secara purna kondisi fisik daerah semacam musim, kualitas lingkungan air, udara dan lainnya serta sosial budaya, melainkan juga terhadap esensi penggunaan peta dalam menjelaskan persebaran itu.

    Pada pertengahan tahun 1850, ada dua teori besar tentang transmisi penyakit kolera. Dr John Snow menggunakan teknik yang kemudian dikenal sebagai medical geography untuk menjelaskan bahwa transmisi dari sumber penyakit ini akibat kontaminasi air dan makanan, dan bukan melalui udara. Dr Snow ketika itu mengetahui bahwa dia telah mengidentifikasikan metode transmisi racun Kolera, yang kemudian diidentifikasikan sebagai bakteri vibrio cholerae.

    Pada abad 19, ada kasus Kolera di London. Seperti dilansir situs geography.about.com pada 1849, bagian terbesar dari korban menerima air dari dua sumber air perusahaan. Kedua perusahaan ini mengambil sumber air dari Sungai Thames. Pada 1854, kebanyakan dari kasus kematian terdapat di daerah perusahaan air Southwark dan Vauxhall. Untungnya sebelum kasus merebaknya wabah kolera ini, perusahaan air Lambeth memindahkan sumber mata air ke sumber yang hanya sedikit mengalami polusi, sehingga hanya sedikit saja dari pelanggannya yang mengalami kematian. Dalam kasus ini, distribusi kematian menjadi faktor penting untuk diketahui.

    Dr Snow kemudian memplot distribusi kematian akibat kolera ini di London dalam sebuah peta. Dia menemukan bahwa ada jumlah kematian yang tinggi pada tempat-tempat yang berdekatan dengan pompa air di Broad Street. Temuan Snow ini membuat dia kemudian mengajukan petisi kepada pejabat otoritas di daerah itu untuk memindahkan pompa tangan, Upaya ini berhasil dan jumlah kematian akibat kolera menurun secara drastis.

    Apa yang dilakukan oleh Dr Snow dipahami sebagai sebagian dari banyak kasus terkenal dan terkini dari geografi dan penggunaan peta peta sebagai alat untuk memahami persebaran penyakit.

    Saat ini, khususnya para geograf kesehatan dan para praktisi kesehatan secara rutin menggunakan petadan teknologi untuk memahami persebaran maupun pemisahan penyakit seperti AIDS dan kanker. Sebuah peta bukan hanya efektif untuk menemukan tempat yang tepat, tapi  juga untuk kehidupan yang lebih baik. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com