Adakah pengaruh musim terhadap serangan wabah penyakit ini? Adakah
metoda lain yang mampu memperkecil persebaran penyakit ini, termasuk
dalam jangka panjang? Bagaimana kepentingan
medical geography (geografi
kesehatan) dalam menjelaskan masalah ini? Begitu beberapa pertanyaan
yang diajukan sejumlah pakar maupun pemerhati kesehatan.
Ketua Program Studi Magister Kedokteran Tropis
Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Dr dr Syahril
Pasaribu, DTMH, M.Sc (CTM) dalam orasi ilmiah pengukuhan dirinya
sebagai Guru Besar Tetap USU, akhir tahun lalu, menemukan bahwa
penderita penyakit ini cenderung mengalami peningkatan antara bulan
September hingga November, dengan mencapai puncaknya antara bulan Maret
hingga Mei.
Walau begitu, dia tetap ragu-ragu untuk menarik
kesimpulan adanya korelasi antara musim dengan merebaknya penyakit
tersebut. "Pengaruh musim terhadap demam berdarah masih belum begitu
jelas," kata dia.
Wabah DBD sendiri pertama kali dicatat terjadi di Australia tahun 1897,
dan gejala yang sama ditemukan di Yunani tahun 1928 dan Taiwan tahun
1931.
Di Asia Tenggara, epidemi DBD pertama sekali dicatat di Filipina tahun
1953 -1954 dan sejak itu DBD dengan kematian yang nyata terjadi di
negara-negara Asteng lain, seperti di Singapura, Kamboja, China,
Vietnam, Laos, Malaysia, Indonesia, dan Kaledonia Baru.
Berdasarkan hasil penelitian, wabah DBD cenderung
meningkat setiap tahun di Asteng selama kurun waktu 20 tahun terakhir
ini.
Syahril yang juga angota Kelompok Kerja (Pokja) DBD Depkes RI juga
mengatakan bahwa sebanyak 2,5 miliar hingga tiga miliar penduduk dunia
diperkirakan mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD, terutama
mereka yang hidup di daerah perkotaan di negara tropis dan subtropis.
Manfaat Peta
Kepentingan geografi dalam ikut mengambil kebijakan
dalam mengatasi penyakit endemis, ternyata tak hanya berkait dengan
kemampuannya mengurai secara purna kondisi fisik daerah semacam musim,
kualitas lingkungan air, udara dan lainnya serta sosial budaya,
melainkan juga terhadap esensi penggunaan peta dalam menjelaskan
persebaran itu.
Pada pertengahan tahun 1850, ada dua teori besar
tentang transmisi penyakit kolera. Dr John Snow menggunakan teknik yang
kemudian dikenal sebagai
medical geography untuk menjelaskan bahwa
transmisi dari sumber penyakit ini akibat kontaminasi air dan makanan,
dan bukan melalui udara. Dr Snow ketika itu mengetahui bahwa dia telah
mengidentifikasikan metode transmisi racun Kolera, yang kemudian
diidentifikasikan sebagai bakteri
vibrio cholerae.
Pada abad 19, ada kasus Kolera di London. Seperti dilansir situs
geography.about.com pada 1849, bagian terbesar dari korban menerima air
dari dua sumber air perusahaan. Kedua perusahaan ini mengambil sumber
air dari Sungai Thames. Pada 1854, kebanyakan dari kasus kematian
terdapat di daerah perusahaan air Southwark dan Vauxhall. Untungnya
sebelum kasus merebaknya wabah kolera ini, perusahaan air Lambeth
memindahkan sumber mata air ke sumber yang hanya sedikit mengalami
polusi, sehingga hanya sedikit saja dari pelanggannya yang mengalami
kematian. Dalam kasus ini, distribusi kematian menjadi faktor penting
untuk diketahui.
Dr Snow kemudian memplot distribusi kematian akibat kolera ini di
London dalam sebuah peta. Dia menemukan bahwa ada jumlah kematian yang
tinggi pada tempat-tempat yang berdekatan dengan pompa air di Broad
Street. Temuan Snow ini membuat dia kemudian mengajukan petisi kepada
pejabat otoritas di daerah itu untuk memindahkan pompa tangan, Upaya
ini berhasil dan jumlah kematian akibat kolera menurun secara drastis.
Apa yang dilakukan oleh Dr Snow dipahami sebagai sebagian dari banyak
kasus terkenal dan terkini dari geografi dan penggunaan peta peta
sebagai alat untuk memahami persebaran penyakit.
Saat ini, khususnya para geograf kesehatan dan para praktisi kesehatan
secara rutin menggunakan petadan teknologi untuk memahami persebaran
maupun pemisahan penyakit seperti AIDS dan kanker. Sebuah peta bukan
hanya efektif untuk menemukan tempat yang tepat, tapi juga untuk
kehidupan yang lebih baik. (
bj)