|
Buana Katulistiwa - Hingga saat ini penggunaan bensin tanpa timbal di dunia sudah mencapai 80 persen. Di dunia sendiri hanya tinggal Afrika, Venezuela, Kamboja, Timur Tengah, Myanmar dan Indonesia yang masih pakai bensin bertimbal.
Menneg-LH Rachmat Witoelar di Jakarta, Selasa (22/11) mengakui perkembangan ini memang menunjukkan bahwa Indonesia sangat tertingal dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya dalam pemakaian bensin tanpa timbal.
Pemerintah Indonesia sendiri sebenarnya telah lama berupaya untuk menghapus senyawa timbal dalam bensin sejak 1996 namun terhambat akibat krisis moneter dan bencana. Indonesia punya tenggat waktu hingga 2005 ini, tapi kata Witoelar, pihaknya berharap pada tahun 2007 nanti bebas timbal itu sudah berhasil dilaksanakan.
Disebutkan, Bank Dunia memperkirakan bahwa kerugian akibat penggunaan bensin bertimbal di Indonesia pada periode 1995 hingga 2000 mencapai 548 juta dolar AS. Itu diluar perhitungan dampak kesehatan dari pencemaran gas buang lainnya dari kendaraan bermotor, hanya timbal saja. Belum lagi jika harus menghitung kerugian akibat hilangnya daya saing produk nasional karena tidak menggunakan catalytic converter sehingga tidak memenuhi standar internasional.
Sementara itu hasil pengujian kualitas bensin dan solar yang dilakukan oleh Kementerian LH dan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) pada Oktober 2005 di 10 kota besar di Indonesia yaitu Bandung, Batam, Palembang, Makasar, Medan, Surabaya, Semarang, Jakarta, Denpasar dan Jogjakarta menunjukkan beberapa hasil yang di luar dugaan.
Ketua KPBB Akhmad Safrudin mengatakan, sda sekitar 45 sampel bensin dan 45 sampel solar yang kita ambil, sekitar 3 hingga 5 sampel per kotanya. Pengujian dilakukan pada Oktober 2005, sedangkan yang diuji adalah kadar timbal serta angka oktan untuk bensin dan angka cetane serta kadar belerang untuk solar.
Untuk bensin bebas timbal maka baku mutu kadar timbel yang ditolerir adalah dibawah 0,013 gram per liter sedangkan angka oktannya (RON) harus diatas 88. Sedangkan untuk solar, kadar belerangnya harus di bawah 500 part per milion (ppm) dengan index cetane tinggi.
Data uji menunjukkan bahwa kadar timbal pada beberapa kota masih cukup tinggi yaitu Bandung (0,117 gram per liter), Yogjakarta (0,068 gram per liter), Makassar (),272 gram per liter), Palembang (0,528 gram per liter) dan Medan (0,213 gram per liter). Sedangkan angka oktan rata-rata telah memadai (RON 90) sekalipun Medan masih memiliki RON 87.
Pada data tersebut terdapat anomali di Batam yang mencatat kadar timbal dalam bensin diatas 0,013 gram per liter padahal Batan sejak Juni 2003 telah dicanangkan sebagai kawasan bebas timbal.
Sementara untuk solar, sebagian besar wilayah masih dipasok dengan solar berkadar sulfur tinggi yaitu diatas 2.500 ppm. Tingginya kadar sulfur mengakibatkan besarnya jumlah partikel terlarut di udara (debu atau emisi partikulat/PM) selain itu sulfur juga dapat memberikan pengaruh signifikan pada usia mesin.
Sedangkan index cetane masih dalam kisaran 48 hingga 68. Menurut Akhmad, peningkatan index cetane dari 50 ke 58 terbukti menurunkan 26 persen emisi hidrokarbon dan karbonmonoksida. (bj) Powered by AkoComment! |