Buana Katulistiwa - Pemerintah melalui Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari, Senin (19/9) menetapkan Indonesia sebagai status Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung. Penetapan itu setelah sebelumnya menetapkan Jakarta dalam status yang sama.
Memberikan keterangan pers di Jakarta, kemarin, Menkes memberi alasan bahwa penetapan itu didasarkan pada semakin berkembangnya jumlah korban Flu Burung. Kalau beberapa waktu lalu hanya ada pada satu titik hingga kemarin sudah berkembang ke dua titik lagi.
Sudah terdapat empat pasien yang meninggal akibat infeksi virus flu burung (virus influensa A, tipe H5N1) ?yaitu warga Tangerang, Iwan Siswara Rafei dan dua putrinya, serta warga Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Rini Dina ,37.
Saat ini terdapat tiga pasien yang diduga terinfeksi virus flu burung, yakni MG (6), F (8) dan RH (1,5). Sekarang ketiganya dirawat di Rumah Sakit Sulianti Saroso.
Selain mengumumkan status itu, sehari sebelumnya Kebon Binatang Ragunan di Jakarta Selatan telah ditutup selama 21 hari untuk observasi, karena dipastikan 19 unggas di sana positif Flu Burung. Pemeriksaan pun intensif di Pasar Burung Jatinegara, Jakarta dan tempat-tempat perdagangan unggas.
Menurut Menkes, penentuan status KLB nasional tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan agresifitas penanganan kasus flu unggas, termasuk agar anggarannya juga bisa lebih terarah.
Ia menjelaskan pada kasus flu burung sebelumnya pemerintah menetapkan anggaran sebesar Rp158 miliar untuk menangani kasus tersebut.
"Tapi dengan berkembangnya menjadi skala nasional, kita akan butuh lebih banyak (dana-Red) lagi," kata Menteri Kesehatan.
Ia juga menyatakan penetapan KLB nasional itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kegiatan pencegahan penyebaran virus flu burung di daerah dan untuk meningkatkan kerjasama antara Pusat dan daerah.
Sebagai konsekuensi dari penetapan KLB nasional tersebut, pemerintah akan melakukan beberapa langkah, di antaranya membatasi infeksi virus flu burung pada binatang, bekerjasama dengan departemen pertanian dalam mensosialisasikan bio-security dan mengagresifkan kegiatan pengamatan.
Departemen Kesehatan, juga akan meningkatkan kemampuan pananganan kasus supaya bisa mendeteksi pasien yang terinfeksi virus flu burung sedini mungkin.
Saat ini Departemen Kesehatan, katanya, juga sedang menyiapkan 44 rumah sakit rujukan untuk kasus tersebut dan laboratorium di delapan provinsi.
"Sebenarnya laboratorium di delapan provinsi itu sudah siap, baik alat maupun orangnya, tetapi untuk menangani KLB kita butuh lebih banyak biaya untuk membeli reagen dan sebagainya," katanya.
Delapan provinsi tersebut di antaranya ialah Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat.
Pemerintah juga sedang menyiapkan laboratorium kerjasama supaya tidak perlu menunggu hasil konfirmasi dari laboratorium di Universitas Hong Kong.(bj) Powered by AkoComment! |