|
Buana Katulistiwa - Meninggalnya dua kakak beradik, Nurohmah, 13, dan Endrawan, 3, asal Blok Kanem, Desa Cipedang, Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, 13 dan 16 Januari 2006 lalu, telah mencuatkan kembali perhatian terhadap kasus flu burung di Indonesia.
Kasus kematian manusia, yang sebelumnya ditandai dengan peristiwa matinya secara mendadak ternak ayam di Desa Cipedang tersebut, pada waktu yang tidak lama, juga telah menyebar ke daerah-daerah lain di Jawa Barat bahkan antarpulau, yaitu Sumatera, setelah ditemukannya kasus positif flu burung pada ayam di Riau dan Jambi.
Di Jawa Barat, masih di Kabupaten Indramayu, dilaporkan pula kasus mencurigakan dari Desa Cikedung Lor, Kecamatan Cikedung Indramayu yang menimpa Agung Haryanto,12, dan Aldi ,5, yang masuk rumah sakit pada hari Minggu 14 Januari, yang dikabarkan positif virus flu burung, namun oleh pejabat berwenang di RS Hasan Sadikin menyebut status keduanya masih “suspect”. Pasien ini, menambah daftar empat pasien lainnya yang masing-masing berinisial E,4; I,15; dan pasien dewasa AS dan S. Dari empat nama itu, terakhir diketahui S sudah terbukti negatif flu burung.
Selain di Kabupaten Indramayu, kasus positif flu burung yang menyerang ternak ayam terbaru juga ditemukan di Kampung Munjul I RT 01 RW 07 Desa Sukamaju, Kabupaten Cianjur. Di sini, sejak Selasa (17/1) hampir 20 ekor ayam buras milik warga mati mendadak tanpa diketahui penyebabnya.
Dua kabupaten ini yaitu Indramayu dan Cirebon menjadi pelengkap 16 kabupaten dan kota di Jawa Barat yang sudah dideteksi flu burung, sesuai dengan data Dinas Peternakan Jawa Barat, sampai Bulan Januari 2006 ini. Kabupaten dan Kota itu adalah Bogor, Kab/Kota Sukabumi, Kab/Kota Bekasi, Purwakarta, Subang, Indramayu, Kab/Kota Cirebon, Kuningan, Majalengka, Tasikmalaya, Kab/Kota Bandung dan Cianjur.
Untuk wilayah Sumatera, kasus kematian mendadak ternak di Riau bertambah menjadi tiga daerah (dari dua sebelumnya), yaitu Kabupaten Siak, Kota Dumai dan Kabupaten Rokan Hilir. Yang paling baru adalah kasus di Kabupaten Siak. Namun belum ada laporan ditemukannya kasus flu burung pada manusia di provinsi ini.
Sedangkan di Provinsi Jambi, kasus kematian ternak secara mendadak terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, tepatnya di tiga desa di Provinsi Jambi yakni Desa Tanjung Tayas, Penyambungan dan Merlung, Kecamatan Merlung, serta Desa Tebing Tinggi dan Pelabuhan Dagang Kec Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar). Di sini sekitar 400 ternak mati tiba-tiba akibat terserang virus flu burung. Belum ada kabar terjangkitnya virus ini ke manusia sebelum-sebelumnya.
Data Depkes
Namun begitu, data yang diperoleh Depkes dari Posko KLB Flu Burung dan Badan Litbangkes Depkes per 16 Januari 2006 lalu, secara kumulatif jumlah konfirm flu burung di Indonesia adalah 17 orang. Dari jumlah itu 12 orang diantaranya telah meninggal dunia (Case Fatality Rate/CFR = 70,59%). (dengan kematian adik Nurohmah, yaitu Endrawan, di Indramayu, pada 16 Januari jumlahnya menjadi 13 orang-Red).
Disebutkan hingga tanggal tersebut, penderita positif flu burung di Indonesia bertambah 1 orang lagi, setelah hasil pemeriksaan serologi dan PCR (polymerase chain) spesimen Sm (29 th, wanita) warga Bambu Apus, Cipayung, Jaktim oleh laboratorium rujukan flu burung WHO di Hongkong positif terinfeksi virus AI.Sm meninggal dunia di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPI SS) pada tanggal 11 Januari 2006.
Menurut informasi Badan Litbangkes Depkes, Laboratorium Rujukan Flu Burung WHO di Hongkong juga tengah memeriksa dua spesimen dari Indonesia. Masing-masing M (39 th, L) warga Jurang Mangu Timur, Tangerang, Banten dan N (13 th, wanita) warga Desa Cipedang Kanem, Kec. Bongas Indramayu, Jabar. M meninggal dunia di RSPI SS tanggal 2 Januari 2006 dan N pada tanggal 13 Januari 2006 di RSU Indramayu. Kedua spesimen pasien tersebut berdasarkan pemeriksanaan laboratorium Badan Litbangkes Depkes dinyatakan positif flu burung. Namun, sesuai standar WHO spesimen yang dinyatakan positif di Indonesia harus dikirimkan ke Laboratorium Rujukan Flu Burung WHO di Hongkong.
Menurut data Posko KLB Flu Burung Departemen Kesehatan RI yang dihimpun dari berbagai provinsi sampai dengan hari Minggu tanggal 15 Januari 2005, secara kumulatif jumlah pasien yang diduga flu burung di Indonesia mencapai 100 kasus meliputi 71 kasus suspect (menunjukkan gejala),11 kasus probable (kasus suspek disertai bukti laboratorium yang mengarah kepada virus influenza A/H5N1), 17 kasus confirmed dan 1 kasus terpapar.
Mereka tersebar di 10 provinsi yaitu DKI Jakarta (8 kasus confirmed, 3 kasus probable, 32 kasus suspect), Banten (4 kasus confirmed, 3 kasus probable, 5 kasus suspect), Jawa Barat (3 kasus confirmed, 3 kasus probable, 20 kasus suspect), Jawa Tengah (1 kasus probable, 1 kasus suspect), D.I. Yogyakarta (1 kasus suspect), Jawa Timur (1 kasus suspect), Sulawesi Selatan (1 kasus probable, 3 kasus suspect), Kalimantan Timur (2 kasus suspect), Lampung (2 kasus confirmed, 3 kasus suspect) dan Riau (3 kasus suspect).
Kasus Indramayu
Menariknya, tak hanya mereka berdua yang dideteksi positif virus flu burung, tapi juga orang tua mereka, Kadis dan Baenah. Mereka masuk RS Hasan Sadikin, Bandung, pada Selasa (16 Januari 2006), - tempat yang dirujuk oleh RS Indramayu-, tepat pada hari kematian anaknya Endrawan juga di rumah sakit yang sama.
Inilah kasus kesekian flu burung yang menelan korban dalam satu keluarga, setelah kasus Tangerang dan Jakarta, beberapa waktu lalu. Pertanyaannya tentu mengarah kepada kecurigaan orang-orang, jangan-jangan virus ini telah bermutasi hingga dapat berpindah dari manusia ke manusia? Namun, agaknya terlalu pagi untuk menarik kesimpulan semacam itu.
Untuk memberikan penjelasan mengenai kasus yang menimpa keluarga Kadis di Indramayu, yang memiliki ternak ayam dan itik dengan kandang yang menempel dengan dinding rumah mereka tersebut, berikut dibuat kronologi meninggalnya Nurohmah dan Endrawan, berdasarkan keterangan Jaonah (nenek korban) dan Khodori (paman korban), yang dikutip dari berbagai sumber.
Hari I (Selasa 9 Januari) : Mengkonsumsi ayam terinveksi (saat lebaran haji). Sebelumnya ayam-ayam mati mendadak, merasa sayang yang masih sehat (belum mati) dipotong untuk lebaran haji ? malamnya panas;
Hari II (Rabu 10 Januari) : Tak masuk sekolah ? panas makin tinggi, kejang-kejang;
Hari III (Kamis 11 Januari) : Muntah darah ? dilarikan ke Puskesmas Bongas (Setelah pemeriksaan dirujuk ke RS Indramayu;
Hari IV (Jumat 12 Januari) : Dirawat di RS Indramayu ? Belum diketahui AI? Dicari terobosan meneliti ayam apakah terjangkit AI atau tidak;
Hari V (Sabtu 13 Januari) : Sudin Peternakan Indramayu meneliti ayam di Desa Cipedang Keman, Setelah diketahui hasilnya positif AI, pihak RS Indramayu bermaksud membawa ke RS Suliasti Saroso, Jakarta. Tapi belum sempat dibawa, sore harinya meninggal.
Hari VIII (Selasa 16 Januari) : - Endrawan, 4 th (adik korban) meninggal dunia pukul 07.50 WIB di RS Hasan Sadikin Bandung
- Ayah korban, Kadis, dan ibunya, Baenah, masuk UGD RS Hasan Sadikin, Bandung, pukul 09.00 WIB (Sebelumnya dirawat di RS Indramayu). (at/ss/bj)
Powered by AkoComment! |