Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow Rekonstruksi Aceh, Pemanfaatan Citra Satelit Hingga Rekonstruksi Hijau
Rekonstruksi Aceh, Pemanfaatan Citra Satelit Hingga Rekonstruksi Hijau Cetak E-mail
Sabtu, 15 Januari 2005
Buana Katulistiwa? Hingga hari ke-17 bencana tsunami di Samudera Hindia, usaha-usaha yang dilakukan di wilayah yang menderita kerusakan masih terfokus pada pendistribusian bantuan kemanusiaan, evakuasi jenasah serta pembersihan puing-puing bangunan, sedangkan upaya untuk rekonstruksi masih belum bisa dilaksanakan secara optimal.

    Hal ini sangatlah wajar mengingat hebatnya dampak yang ditimbulkan bencana alam ini. Namun, terfokusnya usaha pemulihan pada kegiatan-kegiatan di atas tidak membuat para pemerhati bencana ini melupakan bagaimana masa depan para korban selamat.

    Berbagai forum regional maupun internasional telah dilaksanakan untuk membahas bagaimana upaya terbaik yang akan dilakukan dalam rangka pemulihan wilayah yang tertimpa bencana, baik dari segi fisik, ekonomi maupun psikologis para korban selamat.

    Upaya pemulihan yang mengalami banyak hambatan membuat kerja keras para relawan di lapang terkesan lamban. Padahal pada kenyataannya, hambatan-hambatan yang dialami seperti menumpuknya sampah puing-puing bangunan memang tidak bisa dianggap sepele. Justru hal-hal inilah yang paling menghambat alur gerak bantuan di wilayah bencana.

    Puing-puing yang berserakan serta jenasah-jenasah yang seakan tidak ada habisnya membuat upaya pemulihan masih dalam tahap pembersihan untuk melancarkan alur bantuan ke wilayah-wilayah yang lebih terpencil. Tahapan ini mau tidak mau harus dilewati terlebih dahulu untuk melaksanakan tahap rekonstruksi dan rehabilitasi di wilayah bencana.

Citra satelit

    Namun sebelum beranjak kepada tahap rekonstruksi, yang harus diketahui lebih dahulu adalah seberapa parah dan seberapa banyak daerah yang mengalami kerusakan parah. Lembaga-lembaga pemberi bantuan menggunakan citra-citra satelit untuk mengetahui wilayah yang terparah terkena dampak.

    Satelit-satelit beresolusi tinggi seperti satelit komersial QuickBird, dapat memusatkan perhatian kepada wilayah-wilayah dengan cakupan yang relatif kecil untuk menunjukkan ketelitian hingga 0,6 m. Akan tetapi, satelit dengan resolusi yang lebih rendah dapat menyediakan wilayah pengamatan yang lebih luas.

    Satelit Landsat 7 milik USGS, misalnya, dapat mencitrakan keseluruhan bumi dalam petak-petak 180 kilometer setiap 16 hari, dengan tingkat ketelitian 30 meter. Satelit ini berada di atas Pulau Sumatera bagian utara pada tanggal 29 Desember. Seorang ahli geofisika di Lamont-Doherty Earth Observation, Colombia University New York, telah melakukan kajian bersama para ilmuwan di lembaga tersebut untuk memperkirakan dampak tsunami dengan menggunakan data citra satelit Landsat 7 yang dimulai sejak hari ke-3 pasca tsunami 26 Desember 2004.

    Dengan membandingkan citra sebelum (citra tahun 2001) dan sesudah kejadian (citra 29 Desember 2004), para ilmuwan di lembaga tersebut menghasilkan peta yang menunjukkan wilayah yang mengalami kerusakan hebat hingga ke petak-petak bangunan yang hancur.

    "Peta ini berdasarkan pada vegetasi yang hilang, yang pada tingkat ketelitian seperti ini merupakan indikasi terbaik di mana kerusakan terjadi", ujar Small.
    "Tetumbuhan memantulkan cahaya infra-merah, jadi citra 'sebelum' dan 'sesudah' dari kamera infra-merah di Landsat7 menunjukkan di mana gelombang telah menyapu habis pepohonan dan belukar. Citra-citra ini dikirim ke PBB dan Bank Dunia agar mereka dapat menentukan bagaimana memaksimalkan pemberian bantuan kepada wilayah-wilayah yang mengalami bencana," tambah Small kepada New Scientist.

    Jian Lin, ahli geofisika kelautan di Woods Hole Oceanographic Institution di Massachusetts, Amerika Serikat menambahkan bahwa pencitraan Satelit sangat penting pada wilayah-wilayah terpencil "Tanpa teknik ini, area-area tersebut sangat sulit dijangkau karena jalan yang ada seringkali terputus," tandasnya.
hasil analisis

Rekonstruksi Hijau

    Sementara itu, WWF, organisasi konservasi dunia menyerukan untuk melakukan Rekonstruksi Hijau dengan menghimbau negara-negara pemberi bantuan untuk memastikan bahwa bantuan tersebut dapat membangun kembali lingkungan kehidupan yang berkesinambungan bagi para korban selamat. Himbauan ini dikeluarkan pada konferensi PBB tentang kelemahan negara-negara berkembang pulau kecil yang berlangsung di Mauritius di Samudera Hindia ? wilayah yang secara geografis sering tertimpa tsunami.

    "Ekosistem yang sehat dapat menyelamatkan nyawa," kata Isabelle Louis, Direktur WWF Program Asia Pasifik. "Tempat-tempat yang memiliki terumbu karang yang sehat dan mangrove yang utuh, lebih terlindung dari hantaman tsunami daripada tempat-tempat di mana terumbu karangnya rusak dan mangrovenya dibabat dan digantikan oleh tambak-tambak dan hotel-hotel tepi pantai yang tak tertata dengan baik."

    Sebagai contoh, di Maldives (Maladewa), diperkirakan bahwa kerusakan akibat tsunami bisa jadi lebih parah jika kebijakan pemerintahnya tidak gigih dalam menjaga jejaring terumbu karang yang melindungi kepulauan tersebut dari lautan lepas.

    WWF menyerukan usaha rekonstruksi hijau jangka panjang, yaitu rekonstruksi dengan mekanisme pertahanan alam, perencanaan zona pesisir yang tepat, rehabilitasi habitat, dan pemulihan lingkungan kehidupan yang berkesinambungan.

    "Pembangunan pesisir yang tidak terencana dengan baik telah melipatgandakan dampak dari tsunami," kata Mubariq Ahmad, Kepala WWF Indonesia. "Sangat penting bagi kita untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Kita harus membangun kembali dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan."

    WWF merekomendasikan agar pengembangan wilayah pesisir di masa yang akan datang tidak dibangun melebihi zona aman batas pasang laut dan menyerukan kebijakan-kebijakan manajemen zona pesisir yang tegas, perencanaan dan/atau penerapan yang lebih baik di lapangan. Di samping itu, lembaga ini juga mendukung langkah-langkah yang menangani penilaian kerawanan dampak tsunami dan bencana alam. Hal ini sangat penting agar ekosistem pesisir, seperti terumbu karang, mangrove, rawa-rawa, dan hutan yang menyangga wilayah pengaruh tsunami dapat terehabilitasi dan terestorasi dengan cermat.

    Di saat WWF menyadari mendesaknya kebutuhan kayu untuk kepentingan pembangunan permukiman dan sarana bekerja darurat, sangat dianjurkan bahwa kayu yang digunakan untuk usaha rekonstruksi jangka panjang tersebut didapatkan dari hutan-hutan yang terkelola secara bertanggungjawab. Pembalakan secara liar dapat memicu bencana lainnya di masa yang akan datang, seperti tanah longsor dan banjir.

    Untuk jangka pendek, sektor perikanan harus dipulihkan kembali secara cermat dan serius, mengingat sektor ini adalah sumber penghidupan utama bagi ribuan warga yang terkena bencana tsunami. Organisasi konservasi dunia memperingatkan bahwa jika komunitas-komunitas yang hancur tidak diperhatikan secara memadai untuk memperoleh kembali akses kepada perikanan, ada resiko besar bahwa armada-armada pencari ikan yang memanfaatkan situasi akan merambah wilayah mereka, dan bahkan akan menambah kesengsaraan mereka. (wwf.or.id/newscientist/qb)
Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com