|
Buana Katulistiwa - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyelenggarakan workshop mengenai optimalisasi pemanfaatan open source di bidang penginderaan jauh (PJ), Kamis (11/8) di Hotel Sari Pan Pasifik, Jakarta. Workshop ini juga menghimbau agar para peserta berpartisipasi dan bergabung dalam komunitas Indonesia Goes Remote Sensing Open Source (Igorsos).
Igorsos sebenarnya sudah ada sejak tahun 2002 dan sudah mendeklarasikan pembentukan komunitasnya, akan tetapi setelah itu Igorsos seakan-akan vakum. Staf ahli Kementerian Riset dan Teknologi (Menristek), Dr Richard Mengko yang hadir sebagai pembicara kunci pada workshop tersebut mengharapkan agar tidak terulang kejadian yang sama, dimana semangat open source hanya ada ketika acara workshop dan tidak ada langkah nyata setelahnya. Richard juga mengatakan, bahwa open source diperlukan agar Indonesia lepas dari "US Priority Watch List", dalam hal pembajakan perangkat lunak yang berlisensi komersil.
Kepala LAPAN, Ir Mahdi Kartasasmita, Phd hadir sebagai salah satu dari tiga pembicara kunci menyampaikan bahwa manfaat open Source dapat meningkatkan aplikasi perangkat lunak dan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM), karena manusia dalam pengembangan aplikasi perangkat lunak open source akan lebih kreatif. "Jangan hanya bisa input dan output, tetapi kalau bisa basic scientific-nya", imbuh Mahdi. Mahdi juga mengatakan, LAPAN akan memberikan research grant kepada universitas-universitas atau lembaga-lembaga yang mengembangkan perangkat lunak open source di bidang PJ.
Sedangkan Ketua Dewan Geomatika Indonesia, Prof Dr Joenil Kahar, juga sebagai pembicara kunci menjelaskan pentingnya pembangunan manusia di Indonesia dalam kaitannya dengan open source di bidang PJ.
Pada acara workshop tersebut juga diadakan talk show yang mengundang Dr Armein Z Langi, Drs Tigor Nauli, Rahmat M, Ir Suhermanto, MT dan Ketut Wikantika, Phd. Nama disebutkan terakhir, bertindak sebagai moderator di acara talk show tersebut.
Pada acara talk show tersebut membicarakan mengenai open source dalam kaitannya dengan bisnis, pengembangan IGOS desktop, himbauan sosial yang fundamental tentang Teknologi Informasi (TI), dan penerapan open source di bidang PJ.
Dr Armein Z Langi dalam kesempatannya berbicara menyampaikan bahwa sampai saat ini terdapat 64 jenis General Public License (GPL) pada produk-produk perangkat lunak open source. Dia juga menilai ada hal yang kontradiksi antara HaKI dan open source, oleh karena itu Armein menghimbau agar GPL pada produk-produk perangkat lunak open source yang akan digunakan harus dipahami dengan baik.
Memang open source itu kodenya bisa diakses secara bebas, maka logikanya bagaimana seorang programer itu bisa mendapatkan keuntungan atau setidaknya untuk mengisi perutnya. Atas dasar itu Armein menerangkan garis besar konsep ekonomi blue ocean industry. Bahwa sebenarnya open source bisa menjadi industri yang menciptakan bisnis baru yang bagaikan laut biru luas seolah-olah tak berujung.
Armein mengumpamakan tentang kopi dimana harga secangkir kopi bisa berbeda tergantung dari segmen-segmen dimana secangkir kopi itu akan dijual, padahal isinya relatif sama. Dituntut kreatifitas dalam bisnis open source. "Google dan Yahoo merupakan layanan internet gratis, akan tetapi revenue perusahaan mereka milyaran rupiah tiap tahunnya", tambah Armein.
Drs Tigor Nauli, Ketua Tim Pengembangan IGOS Desktop menyampaikan mengenai IGOS desktop. IGOS desktop merupakan alternatif sistem operasi open source yang tampilannya dibuat sedemikian rupa (user friendly) agar pengguna komputer awam tidak bingung. IGOS desktop sendiri rencananya akan digunakan di kantor Menristek bulan September tahun ini.
Sedangkan Rahmat M, Ir Suhermanto, Direktur vLSM.org dan juga dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) menyampaikan tentang himbauan fundamental tentang TI.
Himbauan tersebut adalah:
-
Jangan asumsikan bahwa TI itu seperti kulkas.
TI bukan seperti kulkas yang digunakan beberapa tahun lalu dibuang, karena dalam TI ada siklus hidup yang berkesinambungan, yang membuat TI terus berkembang. -
Menghilangkan persepsi yang salah bahwa SDM TI hanya programer.
Rahmat mengumpamakan TI seperti pembangunan gedung bertingkat, dimana pembangunan gedung bertingkat bukan hanya dibangun oleh buruh bangunan tetapi juga melibatkan orang-orang dari berbagai macam profesi. -
Memperlakukan rekanan seperti saudara sendiri.
Dalam bisnis TI, rekanan harus diperlakukan seperti saudara sendiri. Kasarnya, rekanan anda bangkrut, anda juga bangkrut. Oleh karena itu dalam melakukan rekanan harus ada simbiosis yang saling menguntungkan.
Ir Suhermanto dari LAPAN memberikan gambaran tetang penerapan open source di bidang PJ (lihat disini). Di Indonesia diperlukan akselerasi dalam pengembangan open source di bidang PJ sehingga inisiatif-inisiatif dari berbagai pihak diharapkan untuk kemajuan open source Indonesia.(bm) Powered by AkoComment! |