|
Buana Katulistiwa - Pihak Badan Koordinasi
Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) akan melaksanakan pekerjaan
pemotretan udara digital di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan
Sumatera Utara (Sumut) menyusul bencana tsunami yang melanda daerah ini
26 Desember 2004.
Menurut Kepala Bakosurtanal Rudolf Winnemar di
Cibinong, Bogor, Rabu (16/3), pihaknya telah melakukan koordinasi
dengan Bappenas dan Departemen Keuangan agar tidak terjadi tumpang
tindih. Serta berjanji bahwa semua bantuan yang diberikan kepada
instansinya dalam rangka pemetaan itu berdasarkan prinsip-prinsip
transparansi dan akuntabilitas yang akan diaudit oleh akuntan publik.
Pemotretan udara akan menghasilkan data baru daerah
yang terkena tsunami, sehingga mampu mendukung pekerjaan perencanaan,
monitoring dan evaluasi pada tahap rekontruksi Aceh dan Sumut.
Dengan menggunakan pemotretan udara hasilnya akan
diperoleh foto udara untuk membuat emergency Geographic Information
System (GIS), yaitu berupa database, guna membantu tahap rekontruksi di
Aceh pasca bencana tsunami.
Sebab, kata Matindas, dalam melakukan rekonstruksi,
dibutuhkan data baru, baik mulai dari tahap perencanaan, tata ruang
rekontruksi, maupun pekerjaan monitoring dan evaluasinya.
"Data tersebut diharapkan menjadi model untuk
memonitor seluruh pekerjaan rekontruksi yang dilakukan di Aceh.
Siapapun yang bekerja di Aceh bisa mempergunakan data tersebut,
sehingga perencanaan bisa dalam satu system," katanya.
Sebelumnya kata dia, pada tahap awal setelah tsunami
banyak dipakai pemotretan dengan menggunakan citra satelit. Sedangkan
untuk memperoleh basis data yang sangat detail, cara yang paling
efektif adalah dengan pemotretan udara ditambah dengan teknologi yang
mutakhir yaitu digital.
Mengenai kapan akan dilakukan pekerjaan pemotretan
tersebut, Matindas mengatakan segera dimulai, karena saat ini mulai
musim kering sehingga sangat tepat untuk melakukan pemotretan karena
jika terlambat banyak gangguan asap atau berawan.
Ia mengatakan pekerjaan tersebut akan memakan waktu
selama tiga bulan atau lebih cepat, sedangkan untuk pembangunan
Emergency GIS database akan dilaksanakan secara pararel.
"Secara keseluruhannya pekerjaan tersebut akan
selesai sebelum Desember 2005," demikian Matindas. Pada Rabu, dilakukan
penandatangan penerimaan hibah dari Norwegia kepada Bakosurtanal,
senilai 13.700.000 Norwegian Krone (NOK) atau sekitar Rp21 miliar,
untuk melakukan pemotretan udara secara digital di daerah yang terkena
bencana tsunami.
Pada acara tersebut hadir dari Kerajaan Norwegia
Senior Advisor Kedutaan Kerajaan Norwegia, Fred H Nomme dan Peter
Norman Hansen.
Selain Norwegia ada beberapa negara lain yang ingin membantu Indonesia
dalam hal pemotretan udara digital, seperti Jepang dan negara-negara
Eropa lainnya. (bj) Powered by AkoComment! |