|
Buana Katulistiwa- Kalangan pakar berpendapat, gempa Nias
pada 28 Maret 2005 lalu kemungkinan besar telah menyebabkan
perbentuknya pulau-pulau baru, akibat batu karang bawah laut yang
muncul pasca gempa berkekuatan 8,7 Skala Richter itu.
Rosemary Rayfuse, pakar kelautan dari Universitas New South Wales,
Australia, seperti diberitakan The Australian, akhir pekan lalu,
mengatakan bahwa kemunculan pulau-pulau karang itu akan berpotensi
menambah batas territorial laut Indonesia, setidaknya sepanjang 1
kilometer. Menurut dia, pulau-pulau yang muncul itu dapat
dijadikan sebagai elevasi air terendah tetap, dan menjadi patokan baru
dalam menetapkan baseline baru, yang meluaskan teritori 12 mil dan zona
ekonomi eksklusif (ZEE) 200 mil. Menurut konvensi hukum laut internasional, garis pangkal territorial suatu negara dibedakan antara garis pangkal normal (normal baselines, garis pantai air terendah) dan garis pangkal lurus (straight baselines)
yang menghubungkan titik-titik terluar garis pantai air terendah pada
pulau-pulau dan tanjung terluar, termasuk dipakainya elevasi pasang
surut (low tide elevation). Namun begitu, belum ada suatu
penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai kemungkinan
munculnya pulau-pulau karang ini, dimana dan bagaimana posisinya. Selain
isu penambahan wilayah teritori, gempa Nias ini juga memunculkan
pertanyaan baru seputar Pantai Legundri dan Sorake. Pertanyaannya
adalah apakah serangkaian gempa dan termasuk gempa-tsunami pada 26
Desember 2004, akan mempengaruhi “kualitas” ombak yang diminati para
wisatawan peselancar itu? Pertanyaan ini belum terjawab. Namun
beberapa pemerhati berspekulasi bahwa gempa dan tsunami belum akan
mengganggu kualitas ombak di sana, sebab kualitas ombak lebih
dipengaruhi oleh angin, volume air dan posisi pantai. (bj) Powered by AkoComment! |