Depan arrow Topik arrow Fisik arrow Pengembangan Terpadu Kawasan Karst, Sedikit Harapan Diambang Kerusakan
Pengembangan Terpadu Kawasan Karst, Sedikit Harapan Diambang Kerusakan Cetak E-mail
Selasa, 11 Januari 2005
Buana Katulistiwa- Sudah sejak lama kawasan Gunung Kidul di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur mencerminkan daerah tertinggal di Indonesia. Sentuhan dari pembangunan sedikit sekali yang tampak di daerah ini.     "Untuk sampai ke kampung sebelah, saya harus berjalan selama 1 jam di jalan baru. Mobil sih ada tapi cuma pagi dan siang yang mengantar anak-anak pergi dan pulang sekolah", demikian ujar Eko Budhi, mahasiswa Geografi Universitas Indonesia yang menyempatkan diri pulang ke daerah asal orang tuanya di pinggiran Kota Pacitan, belum lama ini.
    Kondisi ini, menurut dia, menyerupai keadaan belasan tahun yang lalu di tempat kelahirannya itu. Pembangunan di Indonesia yang menitikberatkan pada ekonomi berbasis industri dan pertanian tidak memihak pada kawasan karst di Indonesia.
    Dengan analisis kesesuaian lahan untuk kegiatan pertanian tanaman budidaya ataupun untuk kegiatan industri, kawasan karst akan menjadi kawasan yang paling tidak sesuai untuk dilakukannya kegiatan pembangunan tersebut. Mahasiswa Geografi UI lainnya, Danu Pujiachiri menyebut, dengan iklim yang panas, tanah dengan sifat yang kering, air permukaan yang langka dan relief yang bergelombang tanaman pangan akan sulit berkembang di kawasan ini, apalagi saat musim kemarau, tanaman yang bisa bertahan amat sedikit, seperti Jati dan Mahoni.
    "Untuk kegiatan ekonomi seperti industri, akan lebih sulit lagi, air yang tidak memadai, prasarana dan sarana transportasi yang tidak memadai di karenakan topografinya yang memang sulit dikembangkan" kata dia.
    Senada dengan komentar para mahasiswa ini, Speolog Dr RKT Ko berpendapat, tanpa adanya arahan pembangunan yang jelas telah membuat pemanfaatan kawasan karst menjadi eksploitasi yang tidak terkendali, "Andalan masyarakat untuk menghidupi diri di kawasan karst saat ini terutama dengan menambang gamping," katanya.
    Dr RKT Ko menanggapi kondisi karst saat ini di Indonesia. "Penambangan kapur yang tidak terkendali akan merusak kawasan ini jika tidak ditangani dengan benar, padahal potensi dari karst amat besar," tambahnya.

Potensi karst
    Potensi pada kawasan karst sudah banyak dilontarkan para geolog maupun speolog bahkan di tingkat internasional. Sudah sejak tahun 1993, dalam kongres International Union of Speology di Beijing, secara aklamasi memutuskan untuk merekomendasikan kawasan karst Indonesia sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) kepada pemerintah Indonesia. Secara khusus pada tahun 1997, International Union for Conservarion of Nature mengukuhkan kawasan karst di Padalarang-Jawa Barat menjadi isu internasional.
    Potensi yang terkandung dalam amat beragam mulai dari arkeologi dimana gua-gua yang terdapat di kawasan karst merupakan "museum" yang merekam berbagai kejadian sejarah maupun prasejarah. Arkeolog dari UGM Susetyo Edi Yuwono mengemukan ada banyak fosil yang di temukan dalam gua-gua kapur yang ada di Pegunungan Sewu di selatan Jawa. Dari fosil binatang kecil purba, fosil binatang besar purba, sampai manusia prasejarah sampai artefak-artefak dari kebudayaan manusia.
    "Fosil kerang laut dan mollusca banyak menghiasi dinding gua, tim dari UGM pernah menenukan fosil yang diidentifikasi sebagai fragmen taring kuda nil, dan juga telah ditemukan fosil manusia Pacitan" katanya mengenai peninggalan arkeologi dalam kawasan karst.
    Bahkan berita menggembirakan terakhir, kelompok ilmuwan dari Amerika telah menemukan kecoa terbesar di dunia, berbagai hewan endemik dan artefak purbakala, di Indonesia berada dalam ekologi gua kapur di Kalimantan pada kuarter akhir 2004 lalu dalam sebuah ekspedisi. Di lihat dari kacamata pariwisata, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunung Kidul, Sunarto, menyebutkan bahwa keindahan kawasan karst menyimpan banyak obyek dan daya tarik pariwisata, mulai dari wilayah pesisir, perbukitan, sampai bawah tanah, juga dari budaya masyarakat yang tinggal di kawasan karst juga memiliki kekhasan.
    Wisata yang dapat dikembangkan dari kawasan karst misalnya wisata alam, wisata petualangan, wisata ilmiah sampai wisata minat khusus. Potensi ini juga didukung oleh sumber daya air yang sebenarnya melimpah di lapisan bawahnya, cadangan air di kawasan karst berupa sungai bawah tanah maupun mata air-mata air. Mata air di kawasan karst Gunung Kidul misalnya, memiliki debit 800-1.100 liter per detik. Potensi karst lainnya adalah untuk penembangan, baik penambangan kapur untuk industri semen, gips, maupun tambang baru gamping. Dengan potensi yang besar dan beragam ini harusnya dapat dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat dan kelangsungan ekologi di kawasan tersebut.
    Selain kawasan karst Pegunungan Sewu, kawasan karst lain yang dikembangkan secara terpadu adalah kawasan karst Maros-Pangkep di Sulawesi. Diharapkan seluruh kawasan karst di Indonesia yang diakui dunia internasional memiliki kekayaan yang melimpah dapat dikembangkan dengan benar untuk mensejahterakan penduduk yang mendiami kawasan tersebut dengan tetap menjaga kelestarian ekologinya. Kawasan karst di Indonesia membentang mulai dari Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh), Bohorok (Sumut), Payakumbuh (Sumbar), Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sukabumi selatan (Jabar), Gombong selatan (Jateng), Gunung Sewu (DI Yogyakarta dan Jatim), Pacitan-Trenggalek (Jatim), Malang selatan, dan Blambangan (Jatim), daerah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumba, Timor Barat, Maros dan Pangkajene (Sulsel), Wowolesea (Sulawesi Tenggara), Pulau Muna, Kepulauan Tukang Besi, Maluku (Seram, Halmahera) dan Papua (Fakfak, Biak, dan Lorentz).
    Pemanfaatan kawasan karst saat ini sangat memprihatinkan. Tanpa adanya kontrol pemerintah, penduduk yang tinggal di kawasan karst mengusahakan eksploitasi pada perbukitan kapur secara besar-besaran yang cenderung merusak. Goa Lowo di Kecamatan Ponjong, Gunung Kidul misalnya, gua yang dijadikan salah satu kunjungan rutin siswa SMU di Kabupaten Gunung Kidul itu kini kondisi mulut guanya rusak berat akibat penambangan kapur besar-besaran yang dilakukan warga. Susetyo Edi Yuwono menyayangkan banyak gua yang mengandung aset sejarah dan pra sejarah telah ditambang hingga tidak menyisakan peninggalan-peninggalan bersejarah lagi. "bila gua-gua itu terlanjur ditambang, fosil-fosil kemungkinan dapat ditemukan, tetapi informasi tentang fosil sulit diketahui karena konteks tanah sudah rusak" papar Susetyo.
    Selain dari penambangan kapur, kerusakan ekosistem gua di kawasan karst juga akibat penebangan hutan, terutama hutan jati. Hanang Samodra ? peneliti dan pemerhati Lingkungan Karst dan Gua dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung, menyebutkan vegetasi di permukaan kawasan karst amat diperlukan untuk menjaga kelangsungan pembentukan ornamen gua (speleothem) gua-gua berupa stalaktit, stalakmit dan coloumn, selain itu juga untuk menjaga orohidrologi di kawasan karst.

Perhatian pemerintah
    Perhatian pemerintah mengenai pengembangan terpadu kawasan karst mulai tampak pada akhir tahun 2004 yang lalu. Perhatian ini tampak dengan penetapan kawasan karst Pegunungan Sewu sebagai Kawasan Eko-karst, yang akan dikembangkan secara terpadu pada tanggal 6 Desember 2004 di Wonosari-Gunung Kidul. Arah pembangunan di kawasan karst ini akan dimulai dari inventarisasi potensi dan pemetaan potensi-potensi tersebut.
    Kemudian masing-masing kawasan ditetapkan peruntukkannya menurut kesesuaian ekologi dan upaya konservasinya dari masing-masing wilayah pengembangan usahanya. Kawasan Eko-karst sendiri akan dibagi dalam tiga kelas seperti yang dipaparka Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam Workshop Nasional Pengelolaan Kawasan Karst, Agustus lalu di Wonogiri. Kawasan karst kelas I memiliki kriteria memiliki pengimbuh air bawah tanah permanen, gua, sungai bawah tanah aktif, dan speosistem aktif kawasan.
    Kawasan ini ini sangat kecil dilakukan penambangan, namun tidak menutup untuk dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Kawasan karst kelas II merupakan kawasan yang akan dijadikan areal pertambangan yang terkontrol, sedangkan kawsan karst kelas III merupakan kawasan karst dimana diperuntukkan untuk penambangan gamping secara terbuka.
    Saat ini upaya penghijauan untuk menjaga keadaan orohidrologi kawasan karst juga menjadi agenda utama perbaikan dan penataan kembali kawasan karst. Namun sayangnya peran serta masyarakat masih rendah, seperti yang dikatakan Hanang Samodra menyikapi rendahnya keikutsertaan masyarakat sekitar Gua Gong Pacitan yang tengah direboisasi.
    Untuk penataan dan pengembangan kawasan karst ini diperlukan partisipasi berbagai, baik dari masyarakat yang merasakan langsung manfaat kawasan tersebut, pemerintah daerah yang memiliki kewenangan, dinas pariwisata, kehutanan, PDAM, Sumberdaya Mineral untuk bersama-sama membangun kawasan karst yang selama ini membawa banyak kesengsaraan masyarakat menjadi lumbung pendapatan dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
    Tampaknya pengembangan kawasan karst juga perlu mendapat perhatian dari kalangan Geografi untuk turut serta berpartisipasi dalam kegiatan yang memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Dengan kemungkinan besar adanya konflik kepentingan tentang pemanfaatan suatu kawasan, masyarakat Geografi diperlukan untuk menentukan prioritas pengembangan suatu wilayah di kawasan karst Indonesia yang membentang dari Taman Nasional Leuseur sampai Lorentz, setidaknya untuk tetap menjaga harapan bagi kelangsungan ekologi kawasan karst dan menjadikan kawasan karst menjadi andalan untuk hidup yang layak di tanah kering tersebut.(nh)
Komentar
inventarisasi jenie jenis invertebrapa (
Oleh Alamat e-mail dilindungi dari bot spam, anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihat alamat ini pada 2006-03-02 05:13:33
:) bsa nda di berikang jenis jenis mollusca laut yang komunitas terumbu karang.tlng di kirimin ya.Assalamualaikum
Konservasi Laut
Oleh Alamat e-mail dilindungi dari bot spam, anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihat alamat ini pada 2006-06-12 05:16:47
Artikaelnya bagus dan lengkap mohon diperbaiki lagi agar lebih bagus. ^_^ :upset
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com