|
Buana Katulistiwa-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam waktu dekat akan menurunkan tim mengeksplorasi berbagai tempat di Pulau Jawa untuk mengetahui berbagai hal yang terkait dengan gempa bumi dengan menggunakan metode yang berbeda di Sumatera.
Kepala Pusat Penelitian (Kapuslit) Geoteknologi LIPI Hery Harjono, di Jakarta, Jumat (9/6), mengatakan bahwa ada sedikitnya empat program yang akan dilaksanakan oleh tim LIPI pasca gempa bumi Yogya-Jateng itu.
Pertama adalah memetakan gempa susulan untuk memperoleh peta patahan. Kedua adalah melakukan penelitian geofisika dengan cara mengukur gaya berat di wilayah-wilayah yang rusak. Ketiga, melacak kembali retakan di permukaaan dan keempat adalah mengirim ahli geolog tehnik untuk meneliti sifat batuan.
Tim dari LIPI ini sebelumnya telah melakukan pekerjaan eksplorasi di Pulau Sumatera. Pekerjaan mereka sudah mendekati akhir dan telah berhasil menentukan siklus gempa besar di Pulau Sumatera.
Untuk Pulau Jawa, kata Hery, pihaknya akan menerapkan metode penelusuran yang berbeda dengan Sumatera yang dilakukan melalui terumbu karang. Masalahnya, tidak mungkin mencari terumbu karang di Jawa, sehingga timnya akan meneliti sejarah gempa melalui penelitian lapisan tanahnya.
Tanah-tanah paleo-tsunami atau lapisan tanah purba biasanya terdapat di sekitar patahan akibat gempa, dengan mengetahui umur tanah maka dapat diprediksi kapan terjadi gempa di masa lalu. Namun, dia mengaku pekerjaan ini bukan pekerjaan ringan, sebab jika ada patahan pasti akan ditutupi tanah, tanah itu kemudian digali dan ditentukan umurnya.
Sebenarnya, cara paling mudah untuk menentukan jalur patahan adalah jika patahan itu melewati rel kereta api karena pasti akan bengkok. Sayangnya jika misalnya ada rel kereta api yang bengkok mungkin telah langsung diperbaiki oleh pihak kereta api tanpa sempat kami catat.
Seperti diketahui, selama ini penelitian gempa LIPI terpusat di Pulau Sumatera, yaitu sejak 1992 para peneliti LIPI berkerja memetakan daerah-daerah rawan gempa dan sejarah gempa di Sumatera untuk dapat memprediksi siklus gempa.
Menurut catatan sejarah Belanda, daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah memang sempat diguncang gempa beberapa kali antara lain 4 Januari 1840, 20 Oktober 1859, 10 Juni 1867 dan 20 Maret 1875.(bj)
Powered by AkoComment! |