Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow Kuliah Umum Verstappen
Kuliah Umum Verstappen Cetak E-mail
Jumat, 03 Desember 2004
Buana Katulistiwa- Ahli geomorfologi Belanda, H Theodoor Verstappen, Kamis (2/12/04) datang ke Indonesia dan berkesempatan untuk mengajar mahasiswa Geografi Universitas Indonesia. Sebagai seorang ahli geomorfologi yang terkenal dan bukunya banyak dipakai sebagai text book dikalangan mahasiswa geografi, kuliah umum yang diadakan di lantai dasar gedung Departemen Geografi, dipenuhi mahasiswa yang sangat antusias mendengar kuliah darinya.
    Awal kuliah di mulai dengan pengantar pengalaman beliau yang menghabiskan cukup banyak waktu tinggal di Indonesia. Ia lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar kuliah. Bahasa campuran dengan logat Belanda agak menyulitkan pendengar untuk mengerti apa yang diucapkannya. Tetapi dengan kesabaran dan ketelatenan, Verstappen mengulang, mendengar dan menanyakan apakah audiens paham dengan ucapannya.
    Materi kuliah adalah Geomorfologi Regional, dengan kajian di daerah-daerah yang pernah didatanginya untuk melakukan penelitian, seperti Indonesia, Thailand dan Malaysia. Sebagian besar kajian yang ditampilkan berlokasi di Indonesia mulai dari Pulau Sumatera sampai Papua. Geomorfologi Regional Asia Tenggara hanya sebagai pelengkap di akhir kuliah.
    Verstappen mulai ke Indonesia sejak tahun 1949 sebagai staf Geographycal Institute of the Topographical Survey. Ia menjadi anggota staf institute tersebut sampai tahun 1957. Selama kurun waktu tersebut, Verstappen melakukan beberapa perjalanan penelitian geomorfologi di Indonesia khususnya di Pulau Jawa, Sumatera dan Maluku. Ia pernah pula melakukan kerjasama dengan Universitas Gajah Mada di tahun 1991. Hampir setiap tahun Verstappen ke Indonesia dan hampir seluruh nusantara sudah ia jelajahi.
    Verstappen memilih Teluk Jakarta sebagai lokasi penelitian dalam mengambil program doktoral dengan tema Geomorphologial Study on Shoreline Development. Hasil penelitiannya banyak dipakai dalam perencanaan pembangunan di Indonesia, salah satunya Geomorfologi Sumatera menjadi dasar pembagunan Jalan Lintas Sumatera. Beberapa publikasi yang diterbitkan diantaranya adalah a Geomorphological Reconnaissance of Sumatra and Ajacent Island Indonesia (1973), The Physiographic Basis of pioneer Settlement in Southern Sumatra (1956) dan Geomorphology in Delta Studies (1964).
    Dalam isi kuliah umum, Verstappen menjabarkan lempeng tektonik. Indonesia merupakan tempat pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng Hindia, lempeng Asia dan lempeng Pasifik. Lempeng Hindia yang terletak di dasar samudera Hindia sampai ke Australia bergerak ke utara dengan kecepatan 16-17 mm pertahun. Sedangkan lempeng Asia lebih stabil. Lempeng Pasifik bergerak ke Barat dengan kecepatan 100 mm pertahun. Pertemuan lempeng di Pulau Sumatera terlihat dari Patahan Semangko yang merupakan transcurrent fault. Sedangkan bukti pertemuan lempeng di Pulau Jawa terlihat di Selat Sunda dimana di selat ini terdapat movement (gerakan) baik lateral maupun vertikal.
    Gerakan lempeng di Selat sunda tidak menyebabkan terjadinya transcurrent fault, tetapi justru menyebabkan aktivitas vulkanisme seperti yang terlihat pada letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Sebenarnya sebelum letusan di tahun 1883 tersebut, telah terjadi 12 kali letusan besar, bahkan lebih besar dibandingkan dengan letusan tahun 1883. Yang terbesar terjadi sekitar 800.000-1.000.000 tahun yang lalu. Transcurrent fault kembali muncul di Kepulauan Manggarai karena pertemuan antara lempeng Hindia ber-subsidence dan gerakan lateral lempeng Asia.
    Penelitian yang dilakukan di Teluk Jakarta mendapatkan fakta bahwa terdapat banyak patahan di daerah ini, diantaranya di sebelah timur Tanjung Priuk dan Kepulauan Seribu. Banyaknya patahan di daerah Teluk Jakarta menyebabkan daerah ini rawan gempa. Tetapi walaupun gempa terjadi di teluk ini, tsunami tidak akan terbentuk karena kedalaman air di teluk ini tidak cukup dalam untuk menyebabkan tsunami, kecuali pusat gempa terletak di Laut Jawa. Fakta lainnya: banjir kanal yang pertama di Jakarta dibangun sekitar 1500 tahun yang lalu. Abrasi di daerah Marunda sudah terjadi semenjak dahulu, hanya saja aktivitas manusia dan polusi memperparah abrasi yang terjadi saat ini.
    Verstappen mengatakan bahwa kegiatan vulkanisme di Pulau Jawa bergerak dari utara ke selatan. Aktivitas gunung berapi yang dahulu banyak terdapat di sebelah utara pulau Jawa bergeser ke sebelah selatan Pulau Jawa. Hal ini diakibatkan subsidence angle yang meningkat. Sumatera memiliki subsidence angle lebih kecil dibandingkan Jawa.Di tahun 1815 Gunung Tambora di Pulau Sumbawa merupakan gunung tertinggi di Indonesia, dengan ketinggian lebih dari 4000 m dpl, tetapi saat ini ketinggian gunung ini tidak sampai 3000 m dpl.
    Gerakan lempeng menyebabkan perubahan ketinggian permukaan laut. Jika aktivitas lempeng terjadi di Indonesia, ketinggian air laut tidak hanya berubah di kawasan Indonesia saja, tetapi ketinggian air laut di kawasan Asia Tenggara turut berubah. (iy)
Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com