Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow Banjir dan Longsor Jember dan Banjarnegara, Apa Komentar Anda?
Banjir dan Longsor Jember dan Banjarnegara, Apa Komentar Anda? Cetak E-mail
Jumat, 06 Januari 2006
Buana Katulistiwa- Pada saat Tim SAR, relawan dan kalangan pejabat sibuk memberikan bantuan bagi warga yang terkena bencana banjir dan longsor di Jember, Jawa Timur dan Banjarnegara, Jawa Tengah, berbagai komentar pun bermunculan, terutama mengenai sebab-musabab bencana itu bisa terjadi.

Buana Katulistiwa sengaja mengutip pernyataan-pernyataan yang diambil dari berbagai sumber dan mempersilakan pembaca untuk memberikan penilaian. Jika Anda berminat untuk mengirimkan komentar, silakan tuliskan tanggapan di bawah berita ini.

Imam Utomo (Gubernur Jatim)

"Bencana (Jember) bukan karena penggundulan hutan akibat penebangan liar (illegal logging). Secara alami kawasan atas Hyang Argopuro terdiri dari beberapa bukit yang antara bukit yang satu dengan lainnya membentuk cekungan (bootle neck). Cekungan inilah yang selama ini menampung air yang terbendung kayu-kayu lama. Beberapa waktu terakhir curah hujan sangat deras sehingga cekungan penampung air alami tidak mampu lagi, akibatnya "bendungan" kayu jebol sehingga air bah menghantam wilayah di bawahnya."

Choirul Soleh Rasyid (Anggota DPR-RI)

"Siapa bilang bukan karena hutan gundul. Ini kan nggak ada apa-apa, nggak ada gunung meletus tiba-tiba terjadi banjir bandang. Ya karena hutan gundul."

KH Muzamil Hasbah (Pengasuh Ponpes Al-Hasan Desa Kemiri)

"Bisa saja penyebab banjir bandang dan tanah longsor itu akibat pembabatan hutan sekitar lereng Argopuro. Sejak dua tahun lalu penebangan liar di lereng Argopuro mulai reda. Bisa jadi penyebab banjir dikarenakan sisa-sisa penabangan liar yang marak dua tahun lalu. "

Ridho Syaiful Adhadi (Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jatim)

"Pernyataan Gubernur Jawa Timur soal penyebab musibah banjir bandang dan longsor di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember bukan akibat kondisi hutan yang gundul menyesatkan dan tidak bertanggung jawab. Tidak seharusnya gubernur sebagai pejabat publik mengambil kesimpulan begitu cepat. Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan relawan Walhi Jatim di lokasi kejadian, kayu-kayu tua yang ikut hanyut dalam banjir bandang dan longsor itu merupakan bekas tebangan. Dari jenisnya, kayu-kayu yang hanyut itu adalah kayu jati yang berasal dari hutan produksi dan seharusnya tidak boleh ditebangi."

MS Ka?ban (Menteri Kehutanan)

"Cekungan atau kawah yang menampung air cukup besar yang banyak terdapat di daerah bencana menjadi jenuh dan tidak kuat lagi menampung air curah hujan yang mencapai 115 mm per hari dan kondisi tanah yang labil. Akibatnya, air dari cekungan ini yang membawa tanah di areal hutan produksi sekitar lereng pegunungan Argopuro yang banyak ditanami kopi yang akarnya tidak kuat dan tidak dalam. Kawasan hutan konservasi, baik hutan lindung dan hutan suaka margasatwa yang berada di hulu atau puncak pegunungan tersebut kondisinya masih baik. Banjir di Jember ini boleh saja dinilai sebagai natural disaster (bencana alam), tapi apa yang terjadi sebenarnya lebih cenderung sebagai man made disaster (bencana akibat ulah manusia), sebab alih fungsi kawasan pegunungan Argopuro dari hutan jati menjadi perkebunan (afdeling) kopi adalah ulah manusia dalam penggundulan dan illegal logging."

"Sedangkan bencana alam di Banjarnegara, Jawa Tengah, terjadi karena longsor di kawasan hutan lindung. Kondisi itu terjadi karena sejak lama kawasan hutan lindung di daerah itu sudah dirambah masyarakat untuk perkebunan."

Transtoto Handadhari (Dirut Perum Perhutani)

"Curah hujan yang tingi selama tiga hari berturut-turut di daerah bencana besarnya tiga kali di atas batas maksimal yang normal menyebabkan berbagai kawah atau cekungan di daerah hulu meluap. Kondisi ini diperburuk dengan karakteristik topografi Sub DAS Dinoyo/Kaliputih di daerah bencana yang reaktif dengan sistem hidrologi konvergen yang menutup vertikal. Apalagi jenis tanah di daerah itu juga merupakan tanah yang terbentuk dari timbunan (debris) yang mudah longsor dan ada patahan hingga sepanjang lima kilometer."

"Selain itu, banyak pemukiman yang berada di atas tanah endapan aluvial yang labil tersebut diduga kuat menyebabkan bencana banjir dan longsor yang antara lain melanda Desa Suci, Desa Kemiri, Desa Delima, Desa Gentong, dan Desa Glengseran Kecamatan Pati, Kabupaten Jember di lereng pegunungan Argopuro. Luas sub DAS Dinoyo yang sekitar 10.000 ha di antaranya sekitar 4.500 ha berupa kawasan hutan. Di daerah itu terdapat hutan produksi 750 ha, hutan lindung 3.000 ha yang dikelola Perum Perhutani dan sisanya bagian dari hutan suaka margasatwa yang dikelola BKSDA Jawa Timur II."

Hatta Radjasa (Menteri Perhubungan)

"Kondisi cuaca saat ini, seperti curah hujan, sebenarnya berada dalam kondisi normal dan tidak berbeda jauh dengan kondisi cuaca pada tahun-tahun sebelumnya. Sebetulnya curah hujan kita normal karena sekarang memang sedang musim hujan. Namun karena tingkat daya tahan lingkungan yang berubah maka banyak terjadi bencana banjir dan tanah longsor di beberapa daerah. Jika pada tahun-tahun sebelumnya curah hujan seperti saat ini tidak berdampak negatif terhadap kondisi lingkungan, namun saat ini berdampak negatif seperti terjadinya banjir dan tanah longsor karena kondisi lingkungan yang sudah menurun. Kalau dulu hujan segini, enteng-enteng saja lingkungan menghadapinya. Sekarang ini dengan curah hujan yang normal, namun karena lingkungan yang terdegradasi karena misalnya ada pertambahan penduduk yang besar di daerah rawan, maka tingkat kemungkinan terjadinya longsor dan banjir menjadi semakin besar."

Aburizal Bakrie (Menko Kesra)

"Pemerintah akan memusatkan perhatian pada daerah rawan bencana atau daerah "merah" dan menyiapkan strategi jangka panjang penanggulangan bencana untuk meminimalkan resiko akibat bencana alam. Saya akan meminta Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan Departemen Pekerjaan Umum untuk memetakan daerah-daerah rawan bencana di tanah air supaya bisa menyiapkan strategi jangka panjang penanggulangan bencana alam. Pemerintah pusat akan memberikan dukungan terhadap semua upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengatasi dampak bencana. Pemerintah pusat akan mendukung dari belakang. "

Susilo Bambang Yudhyono (Presiden RI)

"Menurut prakiraan Badan Meterorologi dan Geofisika (BMG), pada bulan Desember 2005, Januari dan Februari 2006 curah hujan tinggi serta akibat faktor cuaca sejumlah bencana alam bisa saja terjadi. Oleh sebab itu para pemimpin daerah harus melakukan langkah-langkah antisipasi dan pencegahan segera terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Jika bencana tersebut tidak bisa dielakkan, segera lakukan penanggulangan yang tepat. "

"Saya meminta agar pemda serta masyarakat mengetahui daerah-daerah yang labil atau tidak stabil, daerah-daerah yang tanahnya mudah bergerak, serta daerah-daerah yang sering mengalami bencana. Dengan diketahuinya daerah yang rawan bencana, maka akan lebih mudah upaya antisipasi dan pencegahannya. Begitu juga diperlukan kesadaran masyarakat luas dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Jika Pemda serta ahli atau pakar menyatakan suatu daerah tidak aman, maka masyarakat diminta sadar dan mengerti. Masyarakat diminta agar memenuhi arahan pemda seperti jika diperlukan tindakan pemindahan atau evakuasi. Setelah aman, baru masyarakat bisa kembali ke daerahnya. "

"Saya meminta agar diteliti mengenai penyebab bencana terutama di kedua daerah tersebut, yakni Jember dan Banjarnegara. Apa ada faktor lingkungan yang mengakibatkan bencana secara langsung atau ada faktor lain. Mengetahui penyebab bencana adalah langkah yang sangat penting karena akan dapat diketahui cara mengatasi bencana yang kemungkinan akan terjadi." (bj/ss/dari berbagai sumber)

Komentar
Alam Tidak Salah
Oleh taqy pada 2006-01-06 11:27:40
Menurut saya inilah bukti lagi bahwa Bencana management lebih dahsyat dari pada bencana alam.  
Mengapa? Alam itu ngikut/obyek, manusialah yg dapat menempatkan dirinya dengan arif. Alam itu mencapai kesimbangannya jika di salah satu sisi terganggu maka berdampak di sisi lain. Siapa pengganggunya? Manusia sebagai Khalifah (pengatur/manager) melalui sistem2 pengelolaannya sehingga dapat bersahabat dengan bencana/bersahabat dengan alam. bangsa Indonesia jika ditilik dari sejarahnya sebenarnya dapat memberikan pelajaran untuk itu kepada bagsa lain, tetapi saat ini bangsa indonesia mengalami bencana terdahsyat yaitu: Menyalahkan alam (tidak sadar yng membuat kesalahan adalah dirinya). Mengorbankan orang lain bahkan mengorbankan diri sendiri, karena ketidaktahuannya tentang sifat2 alam (geografis disekitarnya). Hujan atau iklim di Indonesia sudah merupakan hal yg rutin, mengapa sistemnya pengaturannya atau pengelolaannya selalu mengorbankan manusia (bangsa sendiri). Iklim, Pegunugan Api/vulkan, Gempa itu hal rutin di Indonesia. harusnya kita tidak boleh kaget/heran tapi hal yang seharusnya biasa, karena sebenarnya kita bisa menghindarinya dengan arif (bersahabat=tidak menjadi korban alam). 
Akan menjadi dosa kalau kita akan kekurangan air bersih di tempat yang banyak air (curah hujan termasuk tertinggi di dunia). Menjadi dosa jika kita kebanjiran di wilayah yang masih luas yg terhindar dari tujuan akhir air mengalir (kasus tata ruang yang terkait). Wilayah konservasi diperuntukkan untuk permukiman, contoh konversi-konversi peruntukan lahan yg tidak pada tempatnya. suatu daerah memang secara alami menjadi tujuan akhir air mengalir diperuntukkan untuk perumahan seperti yg terjadi di kota2 besar pesisir Indonesia. wilayah Jakarta misalanya tepat dengan nama: Rawamangun, rawa buanya, rawa belong dll sekarang sudah padat dgn perumahan. air mencari tujuan akhir mengalirnya ke tempat lain yg dahulunya tidak menjadi tujuan air tersebut. Tetapi itupun disalahkan juga bahwa sekarang wilayah banjir meluas ke wilayah lain.  
Kapan para pengambil keputusan memang benar-benar menyelesaikan panaganan yg sudah rutin secara alami tersebut. Hal ini bukan pr yg berat sudah banyak kearifan tradisional yg mengisyaratkan hanya karena kurang percaya diri dan ketidak mengertian akan aspek geografis disekitarnya, mengakibatkan manusia menjadi korban atas dirinya sendiri. 
mari kita sadari bahwa Bencana yg paling dahsyat adalah Pengelolaan yg tidak beres atas sumberdya alam, oleh manusia. Departemen yg bertugaslah yg memiliki tanggung jawab ini, kami masyarakat geografi terdidik akan mendukung dan membantu percepatan perubahan management tersebut.
Quo vadis terhadap ulah manusia
Oleh Alamat e-mail dilindungi dari bot spam, anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihat alamat ini pada 2006-01-26 03:44:07
Ada Aksi tentu disertai pula reaksi begitu pula ada sebab tentu ada akibat. Itulah konskuensi logis yang sudah famhum menjadi opini publik. fenomena merebaknya bencana belakangan ini merupakan dampak dari ulah tragis manusia. manusia sudah tidak memiliki rasa empati terhadap alam lagi. terbukti dengan penjarahan hutan (Ilegal Logging) yang meraja lela, pengaturan sanitasi yang kurang terarah, pemukiman pada zona merah dll. tampak bahwa rasa apatis mulai tumbuh subur dalam jiwa penduduk kita. yang terjadi ini hanyalah sebuah sekelumit gambaran kecil dari bentuk sebab yang akan kita petik akibatnya seiring dengan putaran waktu. semua bertanggung jawab atas kejadian bencana alam yang akhir-akhir ini menghampiri Indonesia. baik dari pihak lini paling atas sampai masyarakat kecil sekalipun. harusnya kita secepatnya memperbaiki sistem agar elearning warning sistem dapat terwujud supaya kedepan kejadian sejenisnya tidak lagi menghampiri Indonesia.
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com