|
Buana Katulistiwa- Pada saat Tim SAR, relawan dan kalangan pejabat sibuk memberikan bantuan bagi warga yang terkena bencana banjir dan longsor di Jember, Jawa Timur dan Banjarnegara, Jawa Tengah, berbagai komentar pun bermunculan, terutama mengenai sebab-musabab bencana itu bisa terjadi.
Buana Katulistiwa sengaja mengutip pernyataan-pernyataan yang diambil dari berbagai sumber dan mempersilakan pembaca untuk memberikan penilaian. Jika Anda berminat untuk mengirimkan komentar, silakan tuliskan tanggapan di bawah berita ini.
Imam Utomo (Gubernur Jatim)
"Bencana (Jember) bukan karena penggundulan hutan akibat penebangan liar (illegal logging). Secara alami kawasan atas Hyang Argopuro terdiri dari beberapa bukit yang antara bukit yang satu dengan lainnya membentuk cekungan (bootle neck). Cekungan inilah yang selama ini menampung air yang terbendung kayu-kayu lama. Beberapa waktu terakhir curah hujan sangat deras sehingga cekungan penampung air alami tidak mampu lagi, akibatnya "bendungan" kayu jebol sehingga air bah menghantam wilayah di bawahnya."
Choirul Soleh Rasyid (Anggota DPR-RI)
"Siapa bilang bukan karena hutan gundul. Ini kan nggak ada apa-apa, nggak ada gunung meletus tiba-tiba terjadi banjir bandang. Ya karena hutan gundul."
KH Muzamil Hasbah (Pengasuh Ponpes Al-Hasan Desa Kemiri)
"Bisa saja penyebab banjir bandang dan tanah longsor itu akibat pembabatan hutan sekitar lereng Argopuro. Sejak dua tahun lalu penebangan liar di lereng Argopuro mulai reda. Bisa jadi penyebab banjir dikarenakan sisa-sisa penabangan liar yang marak dua tahun lalu. "
Ridho Syaiful Adhadi (Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jatim)
"Pernyataan Gubernur Jawa Timur soal penyebab musibah banjir bandang dan longsor di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember bukan akibat kondisi hutan yang gundul menyesatkan dan tidak bertanggung jawab. Tidak seharusnya gubernur sebagai pejabat publik mengambil kesimpulan begitu cepat. Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan relawan Walhi Jatim di lokasi kejadian, kayu-kayu tua yang ikut hanyut dalam banjir bandang dan longsor itu merupakan bekas tebangan. Dari jenisnya, kayu-kayu yang hanyut itu adalah kayu jati yang berasal dari hutan produksi dan seharusnya tidak boleh ditebangi."
MS Ka?ban (Menteri Kehutanan)
"Cekungan atau kawah yang menampung air cukup besar yang banyak terdapat di daerah bencana menjadi jenuh dan tidak kuat lagi menampung air curah hujan yang mencapai 115 mm per hari dan kondisi tanah yang labil. Akibatnya, air dari cekungan ini yang membawa tanah di areal hutan produksi sekitar lereng pegunungan Argopuro yang banyak ditanami kopi yang akarnya tidak kuat dan tidak dalam. Kawasan hutan konservasi, baik hutan lindung dan hutan suaka margasatwa yang berada di hulu atau puncak pegunungan tersebut kondisinya masih baik. Banjir di Jember ini boleh saja dinilai sebagai natural disaster (bencana alam), tapi apa yang terjadi sebenarnya lebih cenderung sebagai man made disaster (bencana akibat ulah manusia), sebab alih fungsi kawasan pegunungan Argopuro dari hutan jati menjadi perkebunan (afdeling) kopi adalah ulah manusia dalam penggundulan dan illegal logging."
"Sedangkan bencana alam di Banjarnegara, Jawa Tengah, terjadi karena longsor di kawasan hutan lindung. Kondisi itu terjadi karena sejak lama kawasan hutan lindung di daerah itu sudah dirambah masyarakat untuk perkebunan."
Transtoto Handadhari (Dirut Perum Perhutani)
"Curah hujan yang tingi selama tiga hari berturut-turut di daerah bencana besarnya tiga kali di atas batas maksimal yang normal menyebabkan berbagai kawah atau cekungan di daerah hulu meluap. Kondisi ini diperburuk dengan karakteristik topografi Sub DAS Dinoyo/Kaliputih di daerah bencana yang reaktif dengan sistem hidrologi konvergen yang menutup vertikal. Apalagi jenis tanah di daerah itu juga merupakan tanah yang terbentuk dari timbunan (debris) yang mudah longsor dan ada patahan hingga sepanjang lima kilometer."
"Selain itu, banyak pemukiman yang berada di atas tanah endapan aluvial yang labil tersebut diduga kuat menyebabkan bencana banjir dan longsor yang antara lain melanda Desa Suci, Desa Kemiri, Desa Delima, Desa Gentong, dan Desa Glengseran Kecamatan Pati, Kabupaten Jember di lereng pegunungan Argopuro. Luas sub DAS Dinoyo yang sekitar 10.000 ha di antaranya sekitar 4.500 ha berupa kawasan hutan. Di daerah itu terdapat hutan produksi 750 ha, hutan lindung 3.000 ha yang dikelola Perum Perhutani dan sisanya bagian dari hutan suaka margasatwa yang dikelola BKSDA Jawa Timur II."
Hatta Radjasa (Menteri Perhubungan)
"Kondisi cuaca saat ini, seperti curah hujan, sebenarnya berada dalam kondisi normal dan tidak berbeda jauh dengan kondisi cuaca pada tahun-tahun sebelumnya. Sebetulnya curah hujan kita normal karena sekarang memang sedang musim hujan. Namun karena tingkat daya tahan lingkungan yang berubah maka banyak terjadi bencana banjir dan tanah longsor di beberapa daerah. Jika pada tahun-tahun sebelumnya curah hujan seperti saat ini tidak berdampak negatif terhadap kondisi lingkungan, namun saat ini berdampak negatif seperti terjadinya banjir dan tanah longsor karena kondisi lingkungan yang sudah menurun. Kalau dulu hujan segini, enteng-enteng saja lingkungan menghadapinya. Sekarang ini dengan curah hujan yang normal, namun karena lingkungan yang terdegradasi karena misalnya ada pertambahan penduduk yang besar di daerah rawan, maka tingkat kemungkinan terjadinya longsor dan banjir menjadi semakin besar."
Aburizal Bakrie (Menko Kesra)
"Pemerintah akan memusatkan perhatian pada daerah rawan bencana atau daerah "merah" dan menyiapkan strategi jangka panjang penanggulangan bencana untuk meminimalkan resiko akibat bencana alam. Saya akan meminta Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan Departemen Pekerjaan Umum untuk memetakan daerah-daerah rawan bencana di tanah air supaya bisa menyiapkan strategi jangka panjang penanggulangan bencana alam. Pemerintah pusat akan memberikan dukungan terhadap semua upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengatasi dampak bencana. Pemerintah pusat akan mendukung dari belakang. "
Susilo Bambang Yudhyono (Presiden RI)
"Menurut prakiraan Badan Meterorologi dan Geofisika (BMG), pada bulan Desember 2005, Januari dan Februari 2006 curah hujan tinggi serta akibat faktor cuaca sejumlah bencana alam bisa saja terjadi. Oleh sebab itu para pemimpin daerah harus melakukan langkah-langkah antisipasi dan pencegahan segera terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Jika bencana tersebut tidak bisa dielakkan, segera lakukan penanggulangan yang tepat. "
"Saya meminta agar pemda serta masyarakat mengetahui daerah-daerah yang labil atau tidak stabil, daerah-daerah yang tanahnya mudah bergerak, serta daerah-daerah yang sering mengalami bencana. Dengan diketahuinya daerah yang rawan bencana, maka akan lebih mudah upaya antisipasi dan pencegahannya. Begitu juga diperlukan kesadaran masyarakat luas dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Jika Pemda serta ahli atau pakar menyatakan suatu daerah tidak aman, maka masyarakat diminta sadar dan mengerti. Masyarakat diminta agar memenuhi arahan pemda seperti jika diperlukan tindakan pemindahan atau evakuasi. Setelah aman, baru masyarakat bisa kembali ke daerahnya. "
"Saya meminta agar diteliti mengenai penyebab bencana terutama di kedua daerah tersebut, yakni Jember dan Banjarnegara. Apa ada faktor lingkungan yang mengakibatkan bencana secara langsung atau ada faktor lain. Mengetahui penyebab bencana adalah langkah yang sangat penting karena akan dapat diketahui cara mengatasi bencana yang kemungkinan akan terjadi." (bj/ss/dari berbagai sumber) Powered by AkoComment! |