|
Buana Katulistiwa- Dinas Hidro-Oseanografi (Dishidros) telah berubah nama menjadi Jawatan Hidro-Oseanografi (Janhidros) TNI Angkatan Laut. Peresmian perubahan ini bertepatan dengan Hari Hidrografi Internasional ini dilaksanakan dalam suatu upacara militer dan dihadiri oleh para pejabat teras Mabes TNI AL dan para Pangkotama TNI AL, di Lapangan Apel Hidro-Oseanografi TNI AL, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (21/6).
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Slamet Soebijanto dalam amanatnya saat meresmikan perubahan nama itu mengatakan, kegunaan data survei dan pemetaan laut Hidro-Oseanografi bukan hanya untuk mendukung kepentingan militer saja, namun juga untuk mendukung kepentingan umum, baik nasional maupun internasional.
Meliputi keselamatan pelayaran/navigasi, dalam bidang eksplorasi dan eksploitasi sumber-sumber mineral dan hayati, dalam penentuan garis pangkal, batas wilayah di laut, zone ekonomi eksklusif dan landas kontinen.
Disamping itu, data lingkungan laut sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan pemanfaatan ekosistem laut.
Kasal mengatakan, perubahan menjadi Janhidros sebagai Kotama Fungsional merupakan antisipasi terhadap tuntutan semakin meningkatnya kebutuhan akan data hidrografi oleh negara-negara pengguna perairan Indonesia.
Janhidros memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Pada masa damai Janhidros merupakan satu-satunya institusi yang bertanggungjawab terhadap penyiapan peta navigasi laut Indonesia. Sesuai dengan ketentuan International Hidrography Organization (IHO) sebagai wadah induknya dan juga kewajiban yang dimiliki Indonesia sebagai negara kepulauan.
Data yang diperoleh dari hasil survei antara lain kondisi laut yang menyangkut cuaca, kelembaban udara, gelombang, angin, dan arus sangat diperlukan bagi dunia pelayaran. Data tersebut sangat dibutuhkan oleh para Komandan KRI dalam menentukan taktik dan senjata yang digunakan.
Demikian halnya dalam peperangan kapal selam, data-data tentang temperatur, salinitas, dan peta layer laut sangat dibutuhkan, untuk olah gerak kapal sendiri maupun untuk menentukan taktik peperangan yang akan digunakan. Semakin lengkap data yang tersedia tentang kondisi medan laut tersebut akan sangat menentukan akhir dari peperangan laut, kata Kasal.
Karenanya, jelas Kasal lebih jauh, kemutakhiran data pada produk-produk data nautika sangat dibutuhkan, khususnya buku panduan bahari, peta navigasi, dan peta alur laut kepulauan agar sesuai dengan kondisi riil saat ini. Sedangkan dalam kondisi krisis ataupun perang data tentang kondisi laut Indonesia merupakan data yang dibutuhkan untuk kepentingan taktis dan operasional dan kapal perang. Sehingga tidak saja pihak sendiri yang harus memilikinya, namun pihak lawan juga senantiasa berupaya untuk mendapatkannya.
Untuk itu ke depan, Kasal mengharapkan Janhidros lebih proaktif dalam upaya penyiapan data-data operasi, sehingga diharapkan setiap unsur yang akan bergerak telah memiliki bekal data-data kelautan yang memadai.(bj)
Powered by AkoComment! |