|
Buana Katulistiwa-Daripada berdebat kusir mengenai lokasi dan penyebab gempa Yogya-Jateng, disarankan agar lembaga-lembaga terkait melakukan pengkajian atau penelitian bersama. Dimana lokasi pastinya dan apakah gempa disebabkan sesar lokal atau aktivitas subduksi semata harusnya bisa diketahui.
Saran ini disampaikan beberapa kalangan geografer dalam diskusi pada milis Spatial-Net, belum lama ini, sehubungan dengan perdebatan yang muncul antara dua lembaga yaitu BMG dan ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) dan kalangan ahli seputar gempa Yogya-Jateng.
Kontroversi mengenai lokasi gempa dan penyebabnya terjadi karena BMG melansir sumber gempa di laut dan berasosiasi dengan zona subduksi. Sementara argumen badan geologi nasional ESDM, yang didukung oleh data USGS dan EMSC, gempa terjadi di darat dan disebabkan oleh sesar lokal berjurus barat daya-timur laut.
"Sangat masuk akal memang, kalau sumber gempa berada di darat dan ditimbulkan oleh sesar lokal tadi, mengingat kehancurannya yang luar biasa. Tapi, saya menyarankan daripada berdebat kusir mempertahankan argumen masing-masing lebih baik dilakukan kajian atau penelitian lebih lanjut," tulis Andi Amran.
Selain itu, Amran juga mengusulkan sangat penting untuk penataan kembali lembaga-lembaga pemerintahan, seperti pembubaran lembaga yang merambah bidang kerja lembaga lain dan penyatuan lembaga-lembaga yang bidang kerjanya berdekatan.
Sebelumnya, Laju Gandarum merujuk pada situs BMG dan USGS ternyata lokasi pusat gempa yang terjadi di Yogya-Jateng 27 Mei berbeda lokasinya. BMG menyatakan pusat gempa di dasar laut, sedangkan USGS menyatakan pusat gempa jatuh di pesisir pantai Bantul.
"Dibanding BMG, lokasi pusat gempa USGS lebih ke Utara," tulis Laju.
Terhadap persoalan ini, Andi Amran menjelaskan, ada tiga parameter sumber gempa, yaitu waktu mula (origin time), episentrum (koordinat sumber gempa), kedalaman sumber gempa (hiposentrum/fokus), dan magnitude gempa.
Dalam seismologi perbedaan dalam penentuan parameter sumber gempa adalah hal yang sangat lumrah. Parameter yg dihasilkan oleh USGS (pasti) berbeda dengan hasil parameter dari BMG, GFZ Jerman, EMSC Perancis, PTWC NOAA dan lainnya. Karena memang banyak faktor yang berpengaruh dalam penentuan parameter.
Sumber gempa memancarkan gelombang seismik ke sluruh bagian bumi yang kemudian tercatat oleh seismometer/seismograf yang ada di berbagai penjuru bumi. Tapi dalam penjalarannya, gelombang seismik dipengaruhi oleh struktur dalam bumi. Sehingga anatomi seismogram (hasil rekaman seismometer) menjadi kompleks, terdapat banyak fase-fase gelombang yg harus diidentifikasi oleh komputer dan atau pengamat. Isi (anatomi) seismogram dari suatu stasiun pengamat, tidak sama dengan seismogram dari stasiun-stasiun lainnya.
"Faktor alat pun berperan terhadap isi seismogram. Faktor-faktor seperti ini mempengaruhi hasil penentuan parameter gempa. Apalagi penentuan parameter gempa melibatkan proses statistika. Yang berciri khas jumlah dan kualitas data pengamatan berpengaruh terhadap hasil. Penentuan parameter gempa membutuhkan data paling tidak dari tiga stasiun seismik. Semakin banyak biasanya semakin baik," begitu Amran.
Untuk magnitude, ada banyak jenis magnitude, yang dipakai BMG adalah magnitude body, USGS biasanya memakai magnitude surface, EMSC utk gempa Yogja memakai magnitude momen. Hasilnya pasti berbeda karena persamaan masing-masing juga berbeda.
Revisi Parameter
Parameter yang dihasilkan sebenarnya belum tetap begitu pertama kali diumumkan (preliminary), masih berubah-ubah. Instansi yg mengeluarkan baru mendapatkan parameter yg tetap (fixed) justru beberapa jam setelah kejadian, setelah banyak data terkumpul dan di- review oleh para seismolog-- bila preliminary parameters dihasilkan oleh sistem otomatis.
"Parameter yang diumumkan oleh BMG sebenarnya masih preliminary, belum direlokasi atau diproses ulang. Sayangnya di Indonesia, masyarakat belum terbiasa menerima info gempa yang berubah karena revisi."
Padahal, lanjut Amran, itu sudah jamak di luar negeri. Makanya BMG hanya sekali mengeluarkan info gempa untuk satu event gempa terasa, meski kemudian ada revisi parameter gempa.
Masalahnya, kata Amran lagi, bukan salah atau benar, sebab tidak ada satupun manusia yang tahu persis bagaimana sebenarnya proses yang terjadi ketika suatu gempa terjadi.
"Kecuali, misalnya, pakai bantuan jin yg bisa menyusup jauh ke dalam bumi. Tapi mana hasil yg lebih realistis? Orang bisa mengevaluasi tingkat kehandalan atau kerealistisan, dengan melihat fakta geologi dan dampak di permukaan pasca gempa," begitu Andi Amran. (ss)
Powered by AkoComment! |