|
Buana Katulistiwa- Gempa berkekuatan 8,7 skala
Richter yang terjadi pada pukul 23:09:36 WIB hari Senin (28/3) malam, pada
posisi pusat gempa 30 km di bawah laut di diantara Pulau Nias dan Pulau
Simeuleu, merupakan gempa yang terpisah dari gempa yang terjadi pada 26
Desember 2004.
Menurut
penjelasan Kasubdit Mitigasi Bencana Geologi Direktorat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Drs Surono, di Bandung, Selasa (29/3) terdapat
perbedaan “segmen” antara kedua gempa meskipun masih pada system sesar yang
sama.
Diakuinya,
proses terjadinya gempa itu sendiri sama dengan gempa bumi di NAD yang
menimbulkan tsunami, akibat adanya penajaman di zona subduksi dari Lempeng
Indo-Australia
ke Lempeng Eurasia hingga terjadi penekanan ke arah sesar.
Namun, kata dia, diperkirakan pergerakan
sesar tersebut hanya tegak lurus atau sekitar 88 derajat. Itulah alasannya
mengapa kecil kemungkinan diikuti oleh gelombang tsunami, sedangkan pergerakan
sesar di NAD memiliki kemiringan 30 derajat hingga menimbulkan tsunami.
Pakar geologi, Prof John Katili beralasan
tidak timbulnya tsunami akibat pelentingan kerak bumi (erupter) tidak
mempengaruhi dasar laut. “Tidak terpengaruhinya dasar lalu menyebabkan tidak
terjadinya tsunami," kata John Katili.
Katili
juga mengatakan bahwa pusat gempa yang terjadi Senin malam itu berada dalam
Zona Benioff atau Zona Sibdauksi, pada kedalaman sekitar 30 km di dalam bumi.
Data
United States Geological Survey (USGS) menyebutkan, lokasi gempa itu sendiri
terletak di 2,093 derajat Lintang Utara (LU) - 97,016 derajat Bujur Timur (BT).
Atau terletak pada posisi 205 kilometer barat laut Sibolga, 245 kilometer arah
barat daya Medan hingga getaran gempa dapat dirasakan oleh masyarakat Banda
Aceh, NAD umumnya, Sumatera Utara, Padang, Jambi dan Pakanbaru.
USGS juga mencatat sejak gempa berkekuatan
besar pada pukul 23:09:36 WIB itu, hingga Selasa sore tercatat setidaknya 15
kali gempa susulan berkekuatan antara 5-6 skala Richter. (*/bj) Powered by AkoComment! |