Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow Butuh Waktu Lama Tangani Kerusakan Lingkungan Aceh
Butuh Waktu Lama Tangani Kerusakan Lingkungan Aceh Cetak E-mail
Rabu, 26 Januari 2005
Buana Katulistiwa - Ahli lingkungan dari seluruh dunia sangat mengkhawatirkan keadaan dan kemampuan lingkungan hidup dalam mendukung penduduk yang hidup pasca tsunami. Dalam jangka panjang, daya dukung lingkungan yang rusak berat akibat tsunami akan berpengaruh terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan kesehatan manusia.

    Organisasi internasional yang bergerak pada bidang bantuan dan pembanguan, CARE melaporkan bahwa lingkungan reservoir rusak akibat gempa dan terkontaminasi air laut, mayat dan lumpur akibat tsunami. Lahan pertanian tidak luput dari kontaminasi air laut. Butuh waktu yang lama dan dana yang besar untuk mengembalikan keadaan air dan tanah seperti semula.

    Sementara NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), sebagaimana diberitakan situs www.cnn.com, menjelaskan bahwa pengaruh tidak langsung kerusakan lingkungan berasal dari oli, cat, freon dan bahan-bahan kimiawi lainnya yang tersapu tsunami.

    Perikanan, pertanian dan lingkungan pantai perlu segera mendapatkan perhatian. Perikanan dan pertanian mendukung ketersediaan makanan dan pekerjaan bagi penduduk yang selamat. Penduduk Indonesia bergantung pada makanan pokok beras yang dihasilkan dari lahan pertanian basah, sedangkan sumber protein utama penduduk Aceh didapat dari perikanan. Oleh karena itu kerusakan lingkungan di lahan pertanian dan perikanan memberikan ancaman ketersediaan pangan di masa mendatang.

    Lingkungan pantai, salah satunya coral reef (batu karang) merupakan tempat hidup ikan, jika keadaan karang mengalami rusak akibat tsunami, berarti dimasa mendatang ketersediaan ikan mengalami ancaman akibat tidak adanya lingkungan yang memadai untuk kehidupan ikan.

    Selain batu karang yang rusak, lingkungan pantai yang rusak dilihat dari tumbangnya pohon-pohon di sepanjang jalur pantai, pasir pantai yang tergerus tsunami dan bentuk pantai yang turut berubah. Lingkungan pantai yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian penduduk dari sektor pariwisata turut hancur akibat rusaknya lingkungan serta sarana dan prasarana pariwisata yang selama ini telah dibangun.

    Berdasarkan pemantauan Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), tsunami tidak hanya menghancurkan infrakstruktur perikanan seperti kapal dan perlengkapan penangkapan ikan, tetapi juga hutan bakau dan batu karang.

    Eichbaum, ahli lingkungan dari WWF (World Wide Fund) mengatakan dalam wawancaranya dengan CNN, ?Dalam memperbaiki lingkungan hidup, dilakukan tahapan seperti yang terdapat dalam bidang kedokteran, yaitu merawat yang tersisa, membuat rencana rehabilitasi, dan mulai membangun perbaikan yang diibutuhkan?.

    Perbaikan yang dilakukan sebaiknya tidak hanya mengembalikan keadaan seperti semula, tetapi harus lebih baik dan lebih tahan terhadap ancaman serupa dimasa mendatang. (cnn/gn)
Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com