|
Buana
Katulistiwa- Gempa
berkekuatan 8,7 skala Richter yang meluluhlantakkan Pulau Nias, Pulau
Simeuleu
dan beberapa daerah lain di Provinsi Sumut dan Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD), pada Senin (28/3) malam pukul 23:09 WIB, sebenarnya
kejadian gempa
yang sudah diprediksi sebelumnya.
Buana Katulistiwa
melalui website www.bk.or.id sudah membuat berita peringatan pada hari Kamis,
24 Maret 2005, empat hari sebelum gempa terjadi. (Lihat berita “Benarkah akan
Terjadi Gempa Besar Baru di Sumatera?”), dengan mengutip berbagai sumber di
luar negeri, seperti analis di United
State Geological Survey, termasuk institusi analisis data gempa pada
Universitas Ulster, yang dimuat juga pada jurnal Nature pada 17 Maret 2005.
Para analis itu
mencatat bahwa telah terjadi peningkatan aktivitas geologis di wilayah
Sumatera, khususnya atas dua zona peningkatan seismologi di sekitar Aceh, yaitu
Sunda Trench dan patahan Sumatera.
Hasilnya adalah
dugaan akan terjadinya gempa berkekuatan 7-7,5 pada patahan Sumatera sebagai
“suatu yang tampak segera akan menjadi ancaman terbesar”, berdasarkan data yang dikumpulkan pada gempa
hari Rabu (16/3). Hanya saja semua ini belum jelas betul dimana terjadinya.
Demikian juga
dengan sumber-sumber di dalam
negeri, seperti BMG. Sebenarnya pihak BMG sudah mencatat bahwa terjadi
peningkatan frekuensi gempa susulan yang terasa di wilayah utara Sumatera,
terutama pekan kedua dan ketiga pada bulan Maret. Sebagai contoh, hingga 18
Maret 2005, telah dicatat gempa susulan berkekuatan 5-6,1 skala Richter
tercatat 16 kali dan gempa-gempa kecil lebih dari ratusan kali. Gempa yang
terjadi terakhir ketika itu adalah pada Jum’at (18/3) dengan kekuatan yang
tercatat pada seismograf berkekuatan 6,1 skala Richter selama sepuluh detik
pada posisi 5,3 lintang utara (LU)-94,61 bujur timur (BT), kedalaman normal 30 kilometer dan pusat gempa di laut
sekitar 93 km arah barat kota Banda Aceh.
Ketika itu BMG
Banda Aceh hanya mengatakan bahwa jikapun terjadi gempa, maka gempa itu tidak
perlu dikhawatirkan karena tidak akan melahirkan tsunami. Sehingga dimintakan
masyarakat tenang.
Posisi gempa
utama 28 Maret 2005 pukul 23:09 yang berada pada 2,093 Lintang Utara dan 97,016
Bujur Timur memang berbeda dari dugaan posisi gempa terakhir yang dicatat oleh
BMG Banda Aceh pada Jum’at (18/3).
Namun begitu,
menurut Buana Katulistiwa, melihat
sudah ada ‘tanda-tanda’ awal yang ditunjukkan oleh data peningkatan aktivitas
geologis itu, seharusnya pihak-pihak yang berwenang di Indonesia dapat
menangkap dan membuat berbagai antisipasi dini, untuk dapat mencegah jatuhnya
korban jiwa yang lebih banyak di daerah-daerah yang “dicurigai” akan terkena
dampak.
Dengan kata lain,
adanya tanda-tanda awal itu harusnya mendapat perhatian serius, dipelajari dan
dibuat berbagai scenario untuk mengantisipasinya. Kita tidak dapat berdalih
bahwa Indonesia sudah terlalu sibuk mengurusi masalah lain, lalu meninggalkan
kesiagaan yang harusnya dimiliki setelah baru saja dilanda gempa dan tsunami di
Provinsi NAD dan Sumut yang menewaskan lebih dari 120.000 jiwa.
Buana Katulistiwa sendiri menyatakan prihatin dengan segala yang
terjadi ini. Indonesia sepertinya bangsa yang cepat melupakan sesuatu, lalu
menjadi emosional dan panik ketika kejadian berulang kembali. Pemerintah
harusnya sudah memiliki perencanaan yang terbaik untuk memulai pembenahan
penanganan bencana alam di tanah
air. Dalam kondisi geologis
Indonesia yang adalah rawan bencana, pemerintah dan semua pihak seharusnya
tidak bisa “tertidur”. (bj) Powered by AkoComment! |