Depan arrow Topik arrow Fisik arrow Berbagai Faktor Penyebab Banjir Jember dan Longsor Banjarnegara
Berbagai Faktor Penyebab Banjir Jember dan Longsor Banjarnegara Cetak E-mail
Senin, 23 Januari 2006
Buana Katulistiwa - Tim Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM mengungkapkan terdapat tiga faktor utama penyebab banjir bandang di Kabupaten Jember tanggal 2 Januari 2006, yaitu: faktor hidrometeorologi, kondisi fisik morfometri DAS Kaliputih, serta penutupan lahan. Ketiga faktor tersebut menyebabkan meningkatnya overland flow yang bercampur kikisan tanah akibat perubahan land cover.

Kesimpulan itu disampaikan Ketua PSBA Dr Sunarto, MS, yang juga dosen Fakultas Geografi UGM, dalam diskusi tentang hasil kunjungan tim PSBA ke Jember, Purworejo dan Banjarnegara, di Kampus UGM, Yogyakarta, pekan lalu, sebagaimana disampaikan dalam rilis pers Humas UGM.

Sedangkan, bencana longsor yang terjadi di Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 5 Januari 2006 yang lalu terletak di Kawasan Hutan milik Perhutani merupakan daerah pegunungan vulkanik, yaitu Gunung Pawinihan, dengan ketinggian hingga 1.240 m dpl. Gunung Pawinihan merupakan batuan gunungapi Kuarter dengan batuan andesit hipersten-augit yang mengandung hornblende dan basal olivine serta aliran lava dan breksi aliran dengan beberapa breksi piroklastik. Lapisan batuan ini terletak di atas Formasi Merawu merupakan batuan Tersier yang mengandung batulempung, konglomerat, serta tuff dasit. Tanah yang terbentuk di wilayah ini adalah Latosol.

Menurut Sunarto, secara fisik kondisi hutan cukup rapat dengan jenis tanaman Rasamala, yang semula merupakan hutan produksi terbatas (HPT) dan sejak tahun 2002 dialihfungsikan menjadi hutan lindung. Lereng pegunungan vulkanik yang mengalami pelongsoran memiliki kemiringan lebih dari 60? dan di bagian pegunungan yang mengalami pengelupasan tanakh memiliki kemiringan lereng 45?. Beda horizontal dari titik longsor ke desa sekitar 2 km.

Sudut yang curam merupakan faktor yang memperbesar daya luncur masa tanah. Pada kaki lereng mengalir Sungai Landak yang tegak lurus terhadap arah lereng. Beda tinggi antara dasar sungai dan permukiman sekitar 3 m.

“Perbedaan inilah yang menjadikan penduduk merasa aman dari bahaya longsor. Sebenarnya di wilayah lereng atas yang longsor pertama kali, masa tanah tertahan bukit di sebelah baratnya. Setelah volume air semakin membesar, maka massa tanah yang tertahan tersebut menjadi lebih berat dan meluncur membentur bukit, sehinggaterjadi pengelupasan. Saat massa Lumpur terakumulasi dan dengan gaya gravitasi itulah yang mengakibatkan terjadinya longsoran besar dan massa tanah dapat terlempar menimbun Desa Sijeruk tersebut. Semua kejadian itu dipacu oleh hujan yang sangat lebat dengan curah hujan rata-rata 44,4 mm/hari,” tutur Sunarto.

Sunarto juga menyebut, ternyata berbagai bencana yang terjadi di musim penghujan ini sebagian besar terjadi di daerah gunungapi, baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif, baik gunungapi Kuarter maupun gunungapi Tersier.

Menyikapi perilaku masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, mau tidak mau, harus orangnya yang beradaptasi dengan lingkungannya dan responsif terhadap gejala-gejala alam. Beberapa rekayasa social untuk dapat mengarahkan masyarakat paham dan tanggap terhadap bencana longsor, perlu sejak dini dilakukan sosialisasi mitigasi bencana berbasis masyarakat, sambil memperkenalkan teknologi sederhana untuk mendeteksi gejala-gejala longsor.

“Beberapa kegiatan mitigasi bencana longsor yang dapat disosialisasikan kepada masyarakat antara lain pola perilaku hujan setempat melalui BMG setempat, perlu dibangun temporary sattlement sebagai tempat pengungsian sementara ketika terjadi bencana, membangun kesadaran masyarakat agar tanggap terhadap bencana dan peka terhadap tanda-tanda alam, penerapan pola budidaya lahan dengan pengaturan regenerasi hutan”, ungkap Sunarto.

Khusus mengenai penanganan pasca banjir Jember, dia menyebut langkah penting yang dibutuhkan oleh korban banjir banding tersebut antara lain: (i) membangun kamp pengungsi sementara untuk 6-9 bulan dengan dukungan logistik medis/paramedis, dan spiritual-psikologis, (ii) sebagai antisipasi ke depan, perlu dibentuk “masyarakat sadar bencana” terutama masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana,” begitu Sunarto. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com