Depan arrow Topik arrow Fisik arrow Bencana Alam 2005 di Indonesia, 239 Tewas, 255 Hilang
Bencana Alam 2005 di Indonesia, 239 Tewas, 255 Hilang Cetak E-mail
Selasa, 14 Pebruari 2006
Buana Katulistiwa -Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan, selama tahun 2005 tercatat 131 kejadian bencana alam, yang menyebabkan 239 orang tewas dan 255 orang hilang.

Menurut Djoko, penyebab utama musibah itu adalah menurunnya kualitas lingkungan, antara lain kritisnya kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di berbagai daerah di Indonesia. "Sekitar 62 DAS, 17 DAS diantaranya di Pulau Jawa kondisinya kritis," kata Djoko, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Banjir, lanjut Djoko, bisa terjadi akibat curah hujan tinggi yang berlangsung lama, sementara daya serap dan kapasitas tampung lapisan tanah terhadap air semakin mengecil. Apalagi kondisi badan sungai yang juga semakin kecil akibat sedimentasi, termasuk dampak dari sampah padat hasil buangan penduduk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir dan tanah longsor tidak terlepas dari rusaknya DAS, yang kemudian menjadikan aliran permukaan menjadi semakin meningkat.

Untuk mengantisipasi bencana berikut, pihak PU telah menetapkan enam DAS menjadi lokasi percontohan untuk diperbaiki, yaitu DAS Ciliwung, Citarum, Cimanuk, Citanduy, Bengawan Solo dan Brantas.

"Program jangka menengah (2006-2009), khususnya pada tahun ini pemerintah telah menginstruksikan kepada setiap provinsi untuk menangani satu DAS yang dinilai paling kritis," kata Djoko.

Sementara Dirjen Sumber Daya Air Siswoko menilai kejadian banjir yang terjadi setiap tahun terutama di musim hujan merupakan kejadian alam biasa, karena bencana banjir juga terjadi di negara-negara lain. Namun begitu, dia mengingatkan bahwa bisa juga terjadi banjir sebagai kejadian luar biasa, yang menyebabkan hanya bisa dilakukan upaya mengurangi dampak kerugian bencara itu.

Menurut dia, daya rusak air bisa dikurangi dengan cara membangun infrastruktur pengendali banjir baik secara struktural maupun nonstruktural.

Misalnya dengan normalisasi sudetan, membuat tanggul, waduk polder, pompa dan perbaikan drainase. "Yang nonstruktural yaitu peringatan dini, flood plan management, tata ruang, pengelolaan DAS, penetapan sempadan sungai dan prakiraan," begitu Siswoko. (bj)

Komentar
partisipasi dan jangan dholim
Oleh ami pada 2006-02-13 15:52:45
:cry  
selain program secara fisik diperlukan program peningkatan pemahaman masyarakat tentang lingkungan hidup. 
partisipasi masyarakat dalam mengelola lingkungannya sendiri mutlak diperlukan. 
kebijakan yang diambil pemerintah baik daerah maupun pusat jangan hanya dipandang dari segi ekonomis saja,hal ini untuk menjaga kelestarian lingkungan. investasi pembangunan yang masuk harus sesuai dengan rencana tata ruang dan harus memiliki sertifikat amdal yang benar (jangan ada kolusi) 
"telah nampak kerusakan dibumi dikarenakan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri". marilah berfikir bahwa kita hidup di bumi tidak hanya sendiri ada orang lain disekitar kita,hal kecil yang kita lakukan mungkin berdampak besar bagi orang lain. hak yang kita miliki dibatasi oleh hak orang lain. please, jangan mendholimi orang lain. 
musibah yang dialami rakyat adalah tanggung jawab kita semua. 
jabatan adalah amanah besar, tanggung jawab besar, dan dosa besar jika jabatan itu digunakan untuk mendholimi rakyat yang dikelolanya
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com