|
Buana Katulistiwa - Sebuah laporan yang
dipublikasikan sebuah jurnal pada 17 Maret lalu, menunjukkan bahwa saat
ini Indonesia sangat mungkin menjadi sasaran gempa besar lainnya.
Berita itu menyusul diterimanya kabar aktivitas geologis yang semakin
meningkat di area ini.
Nature mengutip pernyataan John McCloskey dan
rekannya di Universitas Ulster mengenai analisa data gempa
Sumatera-Andaman tahun 2004, dan menemukan dua zone peningkatan
tekanan seismologi di sekitar Aceh.
Daerah pertama berada di parit Sunda, yang memanjang
50 km hingga ke ujung utara Sumatera, dan kedua adalah patahan
Sumatera. yang memanjang di bawah Pulau Sumatera dan berakhir di dekat
Banda Aceh.
"Hasil pengamatan kami menunjukkan adanya
peningkatan tekanan ke tingkat lima di parit Sunda menuju zona
pecahan menjadi tingkat sembilan 300 kilometer dari patahan
Sumatera," kata McCloskey. Sebagai perbandingan, diyakini bahwa gempa
di Turki, yang berkekuatan 7,4 telah meningkatkan tekanan sekitar dua
tingkat meliputi area 50 kilometer.
Hasilnya adalah dugaan akan terjadinya gempa
berkekuatan 7-7,5 pada patahan Sumatera sebagai “suatu yang tampak
segera akan menjadi ancaman terbesar”, berdasarkan data yang
dikumpulkan pada gempa hari Rabu (16/3). Hanya saja semua ini belum
jelas betul dimana terjadinya.
“Setiap gempa bumi yang terjadi akan melepaskan
beberapa tekanan,” kata John Bellini, seorang geofisis United States
Geological Survey. Tapi karena logaritmik alami skala Richter, “Anda
memerlukan 1.000 gempa dari lima magnitude untuk melepaskan sebesar
tujuh magnitude.”
McCloskey dan kerabatnya mencatat bahwa pentingnya sebuah system peringatan. “Ini merupakan kebutuhan vital,” katanya.
Pada Rabu dua pekan lalu, berdasarkan catatan
mereka, telah terjadi gempa bumi berkekuatan 5,4 berpusat 100 kilometer
di sebelah barat Banda Aceh.
Baru-baru ini juga kantor Badan Meteorologi dan
Geofisikan (BMG) Banda Aceh mencatat ada kecenderungan peningkatan
frekuensi gempa susulan di Provinsi NAD terutama dalam dua pekan
terakhir. Hingga 18 Maret 2005, gempa susulan berkekuatan 5,0 – 6,1
skala Richter tercatat 16 kali, sedangkan gempa kecil lebih dari 100
kali.
Memberikan keterangan di Banda Aceh, akhir pekan
lalu, Kepala Geofisika Banda Aceh Syahnan mengatakan, gempa susulan
yang terjadi terakhir adalah pada Jum’at (18/3) dengan kekuatan yang
tercatat pada seismograf berkekuatan 6,1 skala Richter selama sepuluh
detik pada posisi 5,3 lintang utara (LU)-94,61 bujur timur (BT),
kedalaman normal 30 kilometer dan pusat gempa di laut sekitar 93 km
arah barat kota Banda Aceh.
Syahnan mengatakan, secara umum, gempa susulan yang
terjadi akhir-akhir ini, setelah gempa utama pada 26 Desember 2004
dengan kekuatan 8,9 pada skala richter itu, masih didominasi gempa yang
berjarak atara 80 - 320 kilometer.
Dia meminta pengertian dari masyarakat Aceh, bahwa
gempa susulan ini tidak berbahaya serta tidak menimbulkan bahaya
gelombang laut (tsunami) susulan. “Gempa susulan diperkirakan memang
masih akan terjadi hingga pekan-pekan mendatang, namun tidak berbahaya
serta tidak akan menimbulkan bencana gelombang air laut (tsunami)
susulan," kata Syahan.
Masyarakat, begitu Syahnan, diharapkan tidak panik
ketika merasa guncangan gempa susulan, namun harus mewaspadi, terutama
bagi mereka yang berada dalam bangunan yang rusak akibat guncangan
gempa utama lalu," kata dia.
Sepanjang pekan pertama Maret 2004, masyarakat di
kota Banda Aceh dan sekitarnya hampir tidak merasakan lagi getaran
gempa bumi, namun memasuki minggu kedua dan ketiga frekuensinya
meningkat, enam kali diantaranya berkekuatan diantara 5,0 - 6,1 pada
skala richter. (*/bj) Powered by AkoComment! |