|
Buana Katulistiwa- Para analis gempa menaruh perhatian besar
pada gejala yang ditunjukkan oleh aktivitas gempa susulan pasca gempa
utama berkekuatan 8,7 skala Richter di antara Pulau Nias dan Pulau
Simeulue, Sumatera bagian Utara, yang bisa menyebabkan gempa terbesar
di daerah ini.
Sebuah analisis yang dikeluarkan oleh jurnal Nature, Kamis
(31/3) kemarin, menunjukkan bahwa kejadian gempa yang dipercaya
menewaskan setidaknya 1000 orang itu telah melepaskan lebih dari dua
kali lipat energi yang dikeluarkan sebelumnya. Analisis ini kemudian
menyebutkan, perkembangan ini bisa mendorong terjadinya gempa bumi
terbesar kedua setelah kejadi gempa di Chili tahun 1960. Seth
Stein dan Emile A Okal dari Universitas Northwestern mengungkapkan
bahwa sebelum terjadinya gempa yang memunculkan tsunami pada 26
Desember 2004 lalu, ditemukan aktivitas seismologi yang lebih rendah.
Namun saat ini, ada peningkatan 2,5 kali lebih kuat dari sebelumnya,
yang diperkirakan akan menghasilkan gempa berkekuatan 9,3 skala
Richter. Dari Jakarta, Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) sehari sebelum berita Nature juga memprediksi
kemungkinan terjadinya gempa di sekitar Mentawai, bagian barat
Sumatera, berkekuatan 9,0 skala Richter. Menurut Kepala Humas
LIPI Murti Matoyo, gempa bumi 28 Maret lalu memang berpotensi
menyebabkan gempa baru yang kemungkinan juga disertai oleh gelombang
tsunami. Dikatakan, setiap gempa besar yang terjadi akan memberikan tekanan tambahan pada sumber gempa di sekitarnya. Ia
menyebut, gempa besar Aceh yang terjadi 26 Desember 2004 memicu sumber
gempa besar di sebelahnya selatannya, yaitu diantara Pulau Simeulue dan
Pulau Nias, yang kejadiannya hanya berjarak tiga bulan dari gempa utama
pertama. Bahkan, gempa Aceh 26 Desember 2004 menimbulkan efek ke
Sumatera Barat, terlihat dari hasil analisis data jaringan satuan GPS
permanent LIPI-Caltech, antara lain menunjukkan pergerakan gempa Aceh
menunjuk Kepulauan Mentawai dan daerah pesisir Padang bergerak beberapa
centimeter kea rah selatan dan timur. “Setelah gempa Nias kemungkinan memberikan tekanan tambahan terhadap sumber gempa besar di selatannya,” katanya. Jika
sumber gempa di bawah Kepulauan Mentawai yang menjadi sumber gempa
tahun 1650 dan 1833 bergerak sekaligus, maka gempa yang dihasilkan
dapat mencapai 9,0 skala Richter. “Gempa di bawah laut ini berpotensi untuk menghasilkan tsunami besar seperti pernah juga terjadi pada 1797 dan 1833. Ditambahkan
pula, wilayah busur luar Sumatera merupakan wilayah yang saat ini perlu
diwaspadai, terutama segmen zona tumbukan di Kepulauan Mentawai, sebab
sumber gempa Mentawai ini adalah satu-satunya sumber gempa di wilayah
barat Sumatera yang sudah matang dan belum pernah dilepaskan dalam abad
ini. (bj) Powered by AkoComment! |