Depan arrow Artikel arrow Berita Nasional arrow Analis Mendeteksi Kemungkinan Terjadinya Gempa Tsunami Terbesar Kedua
Analis Mendeteksi Kemungkinan Terjadinya Gempa Tsunami Terbesar Kedua Cetak E-mail
Jumat, 01 April 2005
Buana Katulistiwa- Para analis gempa menaruh perhatian besar pada gejala yang ditunjukkan oleh aktivitas gempa susulan pasca gempa utama berkekuatan 8,7 skala Richter di antara Pulau Nias dan Pulau Simeulue, Sumatera bagian Utara, yang bisa menyebabkan gempa terbesar di daerah ini.

Sebuah analisis yang dikeluarkan oleh jurnal Nature, Kamis (31/3) kemarin, menunjukkan bahwa kejadian gempa yang dipercaya menewaskan setidaknya 1000 orang itu telah melepaskan lebih dari dua kali lipat energi yang dikeluarkan sebelumnya. Analisis ini kemudian menyebutkan, perkembangan ini bisa mendorong terjadinya gempa bumi terbesar kedua setelah kejadi gempa di Chili tahun 1960.

Seth Stein dan Emile A Okal dari Universitas Northwestern mengungkapkan bahwa sebelum terjadinya gempa yang memunculkan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu, ditemukan aktivitas seismologi yang lebih rendah. Namun saat ini, ada peningkatan 2,5 kali lebih kuat dari sebelumnya, yang diperkirakan akan menghasilkan gempa berkekuatan 9,3 skala Richter.

Dari Jakarta, Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sehari sebelum berita Nature juga memprediksi kemungkinan terjadinya gempa di sekitar Mentawai, bagian barat Sumatera, berkekuatan 9,0 skala Richter.

Menurut Kepala Humas LIPI Murti Matoyo, gempa bumi 28 Maret lalu memang berpotensi menyebabkan gempa baru yang kemungkinan juga disertai oleh gelombang tsunami.

Dikatakan, setiap gempa besar yang terjadi akan memberikan tekanan tambahan pada sumber gempa di sekitarnya.

Ia menyebut, gempa besar Aceh yang terjadi 26 Desember 2004 memicu sumber gempa besar di sebelahnya selatannya, yaitu diantara Pulau Simeulue dan Pulau Nias, yang kejadiannya hanya berjarak tiga bulan dari gempa utama pertama.

Bahkan, gempa Aceh 26 Desember 2004 menimbulkan efek ke Sumatera Barat, terlihat dari hasil analisis data jaringan satuan GPS permanent LIPI-Caltech, antara lain menunjukkan pergerakan gempa Aceh menunjuk Kepulauan Mentawai dan daerah pesisir Padang bergerak beberapa centimeter kea rah selatan dan timur.

“Setelah gempa Nias kemungkinan memberikan tekanan tambahan terhadap sumber gempa besar di selatannya,” katanya.

Jika sumber gempa di bawah Kepulauan Mentawai yang menjadi sumber gempa tahun 1650 dan 1833 bergerak sekaligus, maka gempa yang dihasilkan dapat mencapai 9,0 skala Richter.

“Gempa di bawah laut ini berpotensi untuk menghasilkan tsunami besar seperti  pernah juga terjadi pada 1797 dan 1833.

Ditambahkan pula, wilayah busur luar Sumatera merupakan wilayah yang saat ini perlu diwaspadai, terutama segmen zona tumbukan di Kepulauan Mentawai, sebab sumber gempa Mentawai ini adalah satu-satunya sumber gempa di wilayah barat Sumatera yang sudah matang dan belum pernah dilepaskan dalam abad ini. (bj)

Komentar
Beri Komentar
  • Mohon untuk tidak keluar dari topik.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail:
Situs web:
Judul:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Komentar:



Kode:* Code

Powered by AkoComment!

 

Donasi (PayPal)

Jumlah & Periode Donasi:

info

Login

Utamakan Indonesia
Iklan Anda
amazon privasi amazon
World Language
Planet GIS Indonesia

RuangWeb.com