|
Buana Katulistiwa - Egoisme sektoral harus dihindari dalam pembangunan infrastruktur, khususnya infrastruktur di daerah tertinggal. Pertimbangan keterpaduan serta faktor pendukung tidak hanya menyangkut bangunan fisik saja melainkan juga masalah lain diantaranya kependudukan.
Untuk menjawab kebutuhan keterpaduan ini, menurut Deputi Bidang Peningkatan Infrastruktur Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertingal Lucky H Korah, diperlukan suatu konsep yang disusun dengan keterlibatan semua sektor terkait, sehingga dapat mempertemukan kebijakan dari atas dengan kebutuhan daerah.
“Jadi, kita sinkronkan dulu antar departemen baru kemudian disesuaikan dengan kebutuhan daerah," kata Lucky H Korah dalam Lokakarya "Penyusunan Kebutuhan Infrastruktur Pendidikan dan Kesehatan di Daerah Tertinggal" yang digelar Kementerian PDT, di Jakarta, belum lama ini.
Diingatkannya, pembangunan infrastruktur harus disesuaikan dengan kebutuhan daerah setempat, bukan sesuai kehendak pemerintah pusat.
Di samping itu, pembangunan infrastruktur jangan hanya bertujuan untuk membangun bangunan fisik saja, padahal banyak faktor pendukung lain yang sangat mempengaruhi keberlangsungan intrastruktur yang dibangun itu.
Sebut saja, kata Lucky H Korah, untuk membangun saran kesehatan di suatu daerah, harus dipertimbangkan faktor ketersediaan tenaga medis dan obat-obatan. Kemudian, terkait pula masalah kependudukan. Bagaimana mungkin membangun rumah sakit di daerah yang penduduknya sangat sedikit, seperti dalam kasus di perbatasan. (bj) Powered by AkoComment! |