|
Buana Katulistiwa - Membidik harga pangan untuk diturunkan tampaknya menjadi pilihan satu-satunya bagi negara untuk menekan inflasi yang demikian tinggi. Impor beras secara legal pun terpaksa dilakukan. Bahkan ada yang leluasa main impor illegal?
“Pragmatisme negara pun muncul dalam kepanikan itu. Karena peta inflasi mengindikasikan tidak bakal efektifnya pengendalian inflasi melalui kebijakan moneter atau apapun, maka harga pangan langsung dibidik untuk diturunkan: demi menekan inflasi,” kata Dr Ir Mochammad Maksum, MSc, peneliti Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM, seperti dilansir www.ugm.ac.id belum lama ini.
Hal itu diungkapkannya menyusul pro-kontra yang muncul akibat rencana pemerintah untuk mengimpor beras, yang mendapat legitimasi dari para politisi yang pro-pemerintahan.
Mengejutkan sekali, kata Dosen Jurusan Teknologi Industri (FTP UGM) ini, bahwa rencana importasi itu terjadi ketika KIB tengah sibuk-sibuknya promosi dan memamerkan sukses produksi nasional, 2005, sebesar 54 juta ton gabah, setaradengan 34 juta ton beras (lebih besar dari kebutuhan tahunan 31 juta ton), sebagai keberhasilan swasembada beras dan sukses pembangunan pertanian KIB.
“Petani tertu saja menolak rencana tersebut, bagai paduan suara, menyambut penolakan itu para petinggi Negara buru-buru menyatakan bahwa tidak pernah ada rencana importasi,” ujar Maksum.
Menurut Maksum, aneh sekali dan aksi saling lempar pun terjadi, ketika ada rencana importasi, paduan suara pejabat itu memberikan pembenaran. Dan ketika membatalkannya, paduan suarapun muncul dalam nada yang berbeda: menyatakan bahwa tidak pernah ada rencana importasi.
“Nampak sekali bahwa sikap politis itu dilakukan untuk mencari muka dalam kepanikan sejumlah petinggi negara yang sedang menghadapi Sang Wasit yang sementara waktu sedang melakukan penilaian bagi perlu tidaknya reshuffle KIB,” terang Maksum.
Maksum juga menambahkan bahwa di minggu-minggu terakhir, perekonomian nasional diguncang oleh spekulasi negara yang lebih panik lagi mengetahui kenyataan inflasi yang dilaporkan BPS sebesar 8,7 persen untuk Oktober 2005 sebagai akibat dari tarikan pengaruh kenaikan harga BBM.(bj) Powered by AkoComment! |